Iran Berkabung 40 Hari, Jenazah Ayatollah Khamenei Ditemukan di Bawah Reruntuhan Kediamannya
Muhammad Ridho March 01, 2026 03:29 PM

TRIBUNPEKANBARU.COM - Pemerintah Iran bersama Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengeluarkan pernyataan resmi menyusul wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, yang disebut gugur dalam serangan berkelanjutan oleh Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu siang (28/2/2026).

Dalam keterangan resminya, IRGC menyampaikan duka cita mendalam atas wafatnya ulama yang mereka sebut sebagai “pemimpin para syuhada Revolusi Islam” dan “wakil sah Imam Zaman.”

Pernyataan tersebut diawali dengan kutipan ayat Al-Qur’an dari Surah Ali ‘Imran ayat 169 yang menegaskan bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah tidaklah mati, melainkan hidup di sisi Tuhan.

Menurut pernyataan itu, Khamenei wafat pada bulan suci Ramadan dan disebut menerima “nikmat kesyahidan.”

Baca juga: Ali Larijani Tuduh Israel Ingin Memecah Belah Iran Usai Serangan Gabungan dengan Amerika Serikat

Baca juga: Lahir dari Keluarga Ulama, Ini Profil Ayatollah Ali Khamenei Tokoh Penting Revolusi Islam Iran

Menurut laporan, jenazah Khamenei ditemukan di bawah reruntuhan kompleks kediamannya di Teheran, yang hancur akibat serangan udara tersebut.

Beberapa media luar negeri melaporkan bahwa foto jasad pemimpin tertinggi tersebut bahkan telah ditunjukkan kepada Presiden AS dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, meski rincian lebih lanjut masih belum bisa diverifikasi secara independen.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, lebih dulu mengumumkan kematian Khamenei melalui media sosial, menyebut pemimpin Iran itu sebagai sosok yang berbahaya dan menyatakan operasi militer sebagai langkah untuk “membebaskan bangsa Iran”.

Sementara itu, pemerintah Iran menyatakan bahwa Khamenei telah mencapai status syahid akibat serangan tersebut.

Serangan gabungan AS-Israel itu merupakan bagian dari operasi militer luas yang diluncurkan pada hari Sabtu, menargetkan sejumlah fasilitas militer dan infrastruktur di Iran, termasuk ibukota Teheran.

Dampaknya tidak hanya menyebabkan kehancuran fisik di banyak titik, tetapi juga memicu korban sipil dan kekhawatiran akan eskalasi konflik lebih luas di kawasan.

Pemerintah Iran telah menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari dan tujuh hari libur kerja menyusul pengumuman resmi kematian Khamenei, yang telah memimpin Iran sejak 1989.

Serangan ke jantung kekuasaan

Serangan yang menewaskan Khamenei merupakan bagian dari operasi militer besar yang dinamai “Operation Epic Fury”.

Amerika Serikat dan Israel dilaporkan melancarkan sekitar 900 serangan dalam 12 jam ke berbagai target di Iran, termasuk pangkalan militer, fasilitas nuklir, sistem pertahanan udara, dan gedung pemerintahan.

Kompleks tempat Khamenei berada menjadi salah satu sasaran utama dalam serangan pembuka yang disebut sebagai awal dari rangkaian serangan yang diperkirakan berlangsung beberapa hari.

Tubuh Khamenei ditemukan terluka akibat pecahan proyektil di antara puing-puing bangunan yang hancur.

Presiden AS Donald Trump mengumumkan kematian tersebut melalui Truth Social.

“Khamenei, salah satu orang paling jahat dalam sejarah, sudah mati,” tulisnya.

Ia menambahkan, “Ini adalah kesempatan terbesar bagi rakyat Iran untuk merebut kembali negara mereka.”

Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, menyebut operasi tersebut sebagai “operasi udara paling mematikan, paling kompleks, dan paling presisi dalam sejarah.”

Ia juga memperingatkan, “Amerika Serikat tidak memulai konflik ini, tetapi kami akan mengakhirinya. Jika Anda membunuh atau mengancam warga Amerika di mana pun di dunia — seperti yang telah dilakukan Iran — maka kami akan memburu Anda, dan kami akan membunuh Anda.”

Pernyataan pemerintah Iran

Pemerintah Iran juga secara resmi telah mengkonfirmasi gugurnya Ali Khamenei dalam serangan AS dan Israel ke kediamannya, Sabtu pagi (28/2/2026).

Berikut pernyataan pemerintah Iran:

Dengan nama Tuhan Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.
"Orang-orang yang berbuat zalim akan mengetahui ke mana mereka akan dikembalikan." (Surat Asy-Syu’ara Ayat 227)

Rakyat Iran yang terhormat dan penuh kebanggaan!

Dengan kesedihan dan duka mendalam, diumumkan bahwa setelah serangan brutal oleh pemerintah kriminal Amerika dan rezim Zionis yang keji, teladan iman, jihad, dan perlawanan, Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam, Ayatollah Agung Imam Khamenei, telah meraih anugerah besar berupa kesyahidan.

Beliau adalah penerus sejati Ruhullah (Imam Khomeini) yang selama lebih dari 37 tahun kepemimpinan bijak, memegang panji terdepan Islam dengan keberanian dan iman teguh, membuka babak baru dalam sejarah pemerintahan Islam, dan hingga akhir hayatnya yang penuh berkah, memimpin umat Islam melawan kekafiran, tirani, dan kesombongan.

Syahid yang mulia, Ayatollah Agung Imam Khamenei, teladan pengorbanan dan perlawanan di era kini, adalah “Imam janji tulus, Imam harapan dan kekuatan” di benak kaum merdeka, tertindas, dan para pejuang dunia.

Namanya akan abadi bersama “Khomeini Sang Agung” di hati bangsa-bangsa dunia. Keilmuan luas, penguasaan ilmu kontemporer, kebijaksanaan, pandangan jauh, iman murni, ketulusan dalam amal, tekad baja, keyakinan mendalam pada kata dan perbuatannya, keberanian tiada banding, pengetahuan agama yang luas, jiwa lembut dan suci, serta harapan dan tawakal kepada Sang Pencipta adalah ciri khas luar biasa dari pribadi besar ini yang jarang ditemukan pada pemimpin politik mana pun.

Pemerintah Republik Islam Iran menyampaikan belasungkawa atas kehilangan besar ini kepada Qa’im al-Mahdi (semoga jiwa kami dikorbankan untuk beliau), bangsa Iran yang mulia, umat Islam yang agung, dan seluruh kaum merdeka di dunia.

Sebagai bentuk simpati kepada bangsa Iran yang tangguh, pemerintah menetapkan 40 hari berkabung nasional dan 7 hari libur umum.

Kejahatan besar ini tidak akan pernah dibiarkan tanpa balasan dan akan menandai babak baru dalam sejarah dunia Islam dan Syiah. Darah suci pemimpin agung ini akan mengalir bagaikan mata air yang bergemuruh dan akan melenyapkan penindasan serta kejahatan Amerika-Zionis.

Kali ini, dengan segala kekuatan dan ketegasan, bersandar pada umat Islam dan kaum merdeka dunia, kami akan membuat para pelaku dan dalang kejahatan besar ini menyesali perbuatannya.

Iran tercinta kita, dengan dukungan kemenangan ilahi, bersatu dan sehati, akan dengan bangga melewati masa sulit ini; sebab Allah senantiasa mengawasi musuh-musuh yang menindas dan menjadi penolong bagi orang-orang beriman serta kaum tertindas.

( Tribunpekanbaru.com / Serambi )

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.