Imbas Pemimpin Iran Ali Khamenei Tewas Akibat Serangan Israel-AS, IRGC Mulai Operasi Paling Dahsyat
Putra Dewangga Candra Seta March 01, 2026 04:32 PM

 

SURYA.co.id – Ketegangan global melonjak tajam setelah Iran secara resmi mengumumkan dimulainya operasi militer ofensif terbesar sepanjang sejarah Republik Islam.

Pengumuman ini disampaikan menyusul konfirmasi wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam serangan di Teheran.

Situasi ini memicu kekhawatiran akan eskalasi konflik terbuka di kawasan Timur Tengah dan sekitarnya.

Operasi Militer Terbesar Iran Resmi Dimulai

Korps Garda Revolusi Iran atau Korps Garda Revolusi Iran menyatakan bahwa fase ofensif akan segera digerakkan.

IRGC menegaskan, serangan ini diarahkan ke wilayah pendudukan serta pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

Pengumuman itu muncul tak lama setelah televisi pemerintah Iran mengonfirmasi kematian Khamenei, memperkuat sinyal bahwa Teheran bersiap mengambil langkah militer besar-besaran.

IRGC Bersumpah Balas Dendam atas Kematian Sang Pemimpin

TEWAS - (kiri) Presiden AS, Donald Trump saat mengumumkan serangan ke Iran bersama dengan Israel, Sabtu (28/2/2026). 
(kanan) Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei.
TEWAS - (kiri) Presiden AS, Donald Trump saat mengumumkan serangan ke Iran bersama dengan Israel, Sabtu (28/2/2026). (kanan) Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei. (istimewa/Youtube/laman Kremlin)

Dalam pernyataan terpisah, IRGC melontarkan ancaman keras kepada pihak-pihak yang mereka tuduh bertanggung jawab atas tewasnya pemimpin berusia 86 tahun tersebut.

“Tangan pembalasan bangsa Iran untuk hukuman yang berat, tegas, dan akan disesali para pembunuh Imam Umat tidak akan melepaskan mereka,” demikian bunyi pernyataan Garda.

Selain sumpah balas dendam, IRGC juga menyampaikan rasa duka mendalam atas wafatnya Khamenei.

“Kita kehilangan seorang pemimpin besar dan kita berduka atas kepergiannya,” tulis pernyataan yang dimuat Fars.

“IRGC akan berdiri teguh dalam menghadapi konspirasi domestik dan asing,” lanjutnya.

Baca juga: Duduk Perkara Israel Serang Iran: Berawal dari Revolusi Tahun 1979 hingga Pecah Perang Terbuka

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa Iran melihat insiden ini bukan sekadar serangan militer, melainkan ancaman langsung terhadap kedaulatan negara.

Klaim Trump, Serangan AS-Israel, dan Masa Berkabung Nasional

Kematian Ali Khamenei disebut terjadi akibat serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel di Teheran.

Kompleks kediaman Khamenei dilaporkan menjadi sasaran puluhan bom.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump lebih dulu mengumumkan kabar tersebut melalui platform media sosial miliknya, Social Truth.

"Khamenei, salah satu orang paling jahat dalam sejarah, telah mati," kata Trump.

Sebagai respons, pemerintah Iran menetapkan 40 hari masa berkabung nasional dan memberlakukan tujuh hari libur nasional.

Dunia kini menanti dengan cemas, apakah operasi yang diumumkan IRGC akan menjadi pemicu perang regional berskala besar.

Perang Terbuka

PERANG IRAN ISRAEL - Tangkap layar video serangan Israel ke Iran. Tak menunggu lama, Iran langsung membalas serangan tersebut dengan rudal.
PERANG IRAN ISRAEL - Tangkap layar video serangan Israel ke Iran. Tak menunggu lama, Iran langsung membalas serangan tersebut dengan rudal. (Tangkap layar youtube SURYA.co.id)

Dunia menahan napas sore ini. Langit Israel yang selama ini dijaga oleh sistem pertahanan udara paling canggih di dunia, mendadak berubah menjadi medan tempur terbuka.

Militer Israel mendeteksi peluncuran rudal balistik dari Iran, memicu sirene peringatan dini yang meraung-raung dari Tel Aviv hingga Yerusalem.

Jutaan warga dipaksa bergegas menuju bunker perlindungan.

Ini bukan lagi sekadar perang bayangan, ini adalah konfrontasi langsung yang membawa dunia ke ambang ketidakpastian global.

Baca juga: Detik-detik Iran Balas Serangan Israel dengan Rudal, Sirine Meraung-raung, Amerika Serikat Terlibat

Militer Israel mengonfirmasi ancaman tersebut dalam pernyataan resminya.

“Beberapa saat lalu, sirene berbunyi di beberapa wilayah seluruh negeri menyusul identifikasi rudal yang diluncurkan dari Iran menuju Negara Israel,” kata militer Israel, dikutip SURYA.co.id dari Kompas.com.

Pemerintah juga mengirimkan peringatan langsung ke ponsel warga, meminta mereka segera mencari perlindungan.

Selama puluhan tahun, Iran dan Israel terlibat dalam shadow war melalui kelompok proksi di kawasan.

Namun, serangan Sabtu ini menandai perubahan dramatis yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Serangan dilakukan secara langsung dari wilayah Iran, bukan melalui perantara seperti Hizbullah atau Houthi.

Media pemerintah Iran, sebagaimana dilaporkan Al Jazeera, menyatakan bahwa Teheran bersiap memberikan respons keras.

“Stasiun televisi Pemerntah Iran mengatakan bahwa Teheran bersiap membalas dendam kepada Israel dan memberikan respons kuat.”

Laporan awal menyebutkan gelombang peluncuran rudal dalam jumlah besar, dirancang untuk menguji dan melumpuhkan sistem pertahanan udara Israel.

Pernyataan ini menegaskan bahwa garis merah yang selama ini dijaga rapuh oleh diplomasi kini telah dilanggar.

Militer Israel menyatakan Angkatan Udara telah dikerahkan penuh untuk menghadapi ancaman.

“Angkatan Udara beroperasi untuk mencegat dan menyerang ancaman jika diperlukan,” ujar pihak militer.

Namun, Israel juga mengakui adanya celah dalam sistem pertahanan berlapisnya.

“Pertahanan tidak sepenuhnya tertutup, dan oleh karena itu sangat penting bagi masyarakat terus mematuhi pedoman Komando Pertahanan Dalam Negeri. Masyarakat diminta tetap mengikuti instruksi Komando Pertahanan Dalam Negeri.”

Di saat bersamaan, Israel dilaporkan sebelumnya telah melancarkan serangan ke dalam wilayah Iran, menutup wilayah udaranya, dan menetapkan status darurat nasional.

Al Jazeera melaporkan sejumlah ledakan mengguncang Teheran dan beberapa lokasi strategis lain.

Target yang diserang mencakup Kementerian Intelijen, Kementerian Pertahanan, Organisasi Energi Atom Iran, hingga kompleks militer Parchin.

Stasiun televisi Israel, KAN, menyebut operasi tersebut menargetkan situs-situs strategis.

“Target rezim dan situs militer sedang diserang termasuk rudal balistik,” kata seorang pejabat.

Mengapa eskalasi ini membuat para pengamat mulai menyebut risiko Perang Dunia III?

Pertama, aliansi militer. Jika Israel terdesak, keterlibatan Amerika Serikat dan sekutunya di bawah payung

NATO berpotensi menyeret banyak negara ke dalam konflik terbuka.

Kedua, krisis energi global. Timur Tengah adalah jalur vital minyak dunia; gangguan di kawasan atau penutupan Selat Hormuz dapat mengguncang ekonomi global hanya dalam hitungan hari.

Ketiga, ancaman senjata non-konvensional, termasuk nuklir dan kimia, yang selama ini menjadi bayang-bayang paling menakutkan dari konflik Iran–Israel.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.