Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Yuan Lulan
POS-KUPANG.COM, KUPANG – Film dokumenter berjudul “Matahari dalam Tanah” resmi diluncurkan di Palacio, Aston Hotel Kupang, Minggu (1/3/2016) pukul 17.30 WITA.
Acara launching berlangsung khidmat dan dihadiri sejumlah pejabat dan undangan penting.
Hadir mewakili Kapolda NTT, Kabid Humas Polda NTT Kombes Pol. Henry Novika Chandra, S.I.K., M.H., Assistant Intelijen Muhammad Ahsan Tamrin , Senior Manager PLN UIP Nusa Tenggara Bruli Victor Tarigan, Senior Manager Transmisi & Distribusi PLN UIW NTT Suparje Wardiyono, serta Manager PLN UPP Nusra 3 Agung Triwibowo.
Turut hadir Pemimpin Redaksi Pos Kupang Dion D.B Putra, General Manager PT Timor Media Grafika penerbit Harian Pos Kupang Margaretha Iin Wahyuningrum, pemeran utama film Maria Sholastika Maunino, serta kru Tribun EO Kupang sebagai film maker.
Baca juga: PLN Ajak Wartawan NTT Tinjau PLTP Mataloko, Perkuat Keterbukaan Informasi Energi Panas Bumi
Film dokumenter ini merupakan hasil kerja sama antara Pos Kupang dan PT PLN (Persero) Unit Pelaksana Proyek Nusra 3 bersama Tribun EO Kupang.
“Matahari dalam Tanah” merupakan film dokumenter–fiksi reflektif berdurasi 24 menit yang mengikuti perjalanan Mira, seorang perempuan muda asal Atadei yang pulang ke kampung halamannya di tengah dimulainya proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP).
Dalam perjalanannya, Mira mencoba memahami makna pembangunan di tanah kelahirannya.
Ia mengunjungi Ulumbu di Ruteng, Manggarai, yang telah lebih dulu merasakan manfaat energi geothermal, di mana anak-anak dapat belajar dengan penerangan memadai dan warga mulai mengembangkan usaha.
Namun ketika tiba di Mataloko, Ngada, ia mendapati kegelisahan warga, mulai dari ketidakpercayaan hingga trauma akibat proses yang dianggap kurang terbuka.
Saat lampu ruangan diredupkan, seluruh tamu undangan dan penonton tampak hening menyaksikan tayangan yang menggambarkan pergulatan antara harapan akan energi bersih dan dinamika sosial di tengah masyarakat.
Melalui narasi puitis dan visual sinematik, film ini menghadirkan ruang dialog tentang energi hijau panas bumi di Flores, sekaligus mengajak publik merefleksikan bagaimana pembangunan dapat berjalan berdampingan dengan nilai-nilai tradisi.(uan)