BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Pengurus Persatuan Tinju Amatir Indonesia (Pertina) Kota Banjarmasin tetap menjalankan program latihan bagi para atlet binaannya selama bulan suci Ramadan.
Pelatih tinju Kota Banjarmasin, Arbain mengatakan, program latihan tetap berjalan seperti biasa, hanya saja durasinya dipangkas.
“Untuk latihan di bulan Ramadan ini tetap kita laksanakan dengan waktu yang terbatas. Biasanya dua jam per latihan, sekarang kami pangkas hanya satu jam. Program latihannya tetap sama seperti sebelumnya, hanya waktunya yang kita kurangi,” ujarnya Minggu (1/3/2026).
Dia menjelaskan, latihan tetap digelar lima kali dalam sepekan. Materi yang diberikan pun sudah terprogram dan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing atlet.
Program tersebut meliputi latihan kekuatan tangan, latihan fisik umum, penguatan otot perut, hingga lari mengelilingi kawasan Wisma Antasari dengan jarak tempuh 4-5 kilometer guna menjaga daya tahan tubuh.
“Jadi program latihannya sudah diprogramkan. Mulai dari kekuatan tangan, fisik, kekuatan perut, kemudian lari agar fisiknya tetap terjaga,” jelasnya.
Menurut Arbain, seluruh atlet dari berbagai kelompok umur tetap mengikuti latihan selama Ramadan. Mulai dari kategori pemula, junior, senior hingga elite tercatat tetap aktif berlatih.
“Alhamdulillah yang latihan mulai dari pemula, junior, senior sampai elite. Hampir ada 20 orang lebih yang berlatih. Meski hujan pun mereka tetap turun latihan, jadi pelatih harus selalu standby,” katanya.
Latihan rutin tersebut, dikatakan Arbain, bertujuan agar performa atlet tidak menurun selama menjalani ibadah puasa.
Selain itu, tim pelatih tengah mempersiapkan atlet menghadapi sejumlah kejuaraan yang dijadwalkan berlangsung pada pertengahan tahun ini.
Program latihan selama Ramadan ini pun disambut positif para atlet. Satu di antaranya Muhammad Rafly yang tetap bersemangat menjalani sesi latihan meski dalam kondisi berpuasa.
“Untuk intensitasnya memang dikurangi, tapi dari diri sendiri kalau mau menambah ya disesuaikan kemampuan. Karena penting sebagai atlet untuk menjaga stamina, power dan strategi. Kalau tidak latihan rasanya seperti mulai dari nol lagi,” ujarnya.
Dia mengakui, tantangan terbesar saat latihan di bulan Ramadan adalah risiko dehidrasi. Kondisi tersebut membuat stamina terasa lebih cepat menurun dibanding hari biasa.
“Tantangannya lebih ke dehidrasi, staminanya agak kurang. Biasanya setelah latihan bisa langsung minum banyak, sekarang harus menunggu waktu berbuka. Jadi kadar cairan yang keluar terasa lebih banyak,” katanya.
Meski begitu, Rafly tak menjadikan puasa sebagai hambatan. Selain latihan di sasana, ia juga menambah porsi latihan mandiri di rumah guna meningkatkan kemampuan dan kesiapan menghadapi pertandingan mendatang. (Banjarmasinpost.co.id/Muhammad Andra Ramadhani)