Kapal Tanker di Sekitar Selat Hormuz Dihantam Serangan Drone, 4 Orang Jadi Korban
Noval Andriansyah March 01, 2026 10:19 PM

Tribunlampung.co.id, Iran - Serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran berbuntut ditutupnya jalur vital distribusi energi global, Selat Hormuz. Kabar terbaru, satu kapal tanker disebut dihantam serangan drone.

Akibat serangan drone tersebut, 4 orang dikabarkan menjadi korban luka-luka.

Kapal tanker minyak itu, diawaki 20 orang, terdiri atas 15 warga negara India dan lima warga negara Iran.

Kapal tanker adalah kapal besar yang dirancang khusus untuk mengangkut muatan cair dalam jumlah besar, terutama melalui jalur laut. Kapal tanker memiliki tangki-tangki khusus di dalam badan kapal untuk menjaga keamanan dan mencegah kebocoran selama pelayaran.

Dikutip Tribunlampung.co.id dari Tribunnews.com, lalu lintas kapal di Selat Hormuz, jalur sempit sepanjang 33 kilometer yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman, menurun tajam setelah serangan militer gabungan AS dan Israel terhadap Iran.

Baca juga: Iran Persiapkan Rudal Balistik Terkuatnya untuk Membalas Serangan AS-Israel

Platform pelacakan kapal MarineTraffic menunjukkan penurunan lalu lintas kapal sebesar 70 persen melalui selat tersebut pada Sabtu (28/2/2026) malam, kata Dimitris Ampatzidis, analis risiko dan kepatuhan senior di Kpler, perusahaan induk MarineTraffic, kepada The New York Times.

Pada Minggu (1/3/2026) sore, sebuah kapal tanker Skylight berbendera Palau, sekitar 5 mil laut di utara Pelabuhan Khasab di lepas pantai Semenanjung Musandam, Oman, dihantam serangan drone.

Sedikitnya empat orang terluka dalam serangan tersebut, menurut Pusat Keamanan Maritim Oman (MSC).

Kapal tanker minyak itu, diawaki 20 orang, terdiri atas 15 warga negara India dan lima warga negara Iran.

Fasilitas di Pelabuhan Duqm, Oman, juga menjadi sasaran dua drone, meskipun Oman sempat berperan sebagai mediator dalam ketegangan tersebut pada pekan lalu.

Belum dapat dipastikan pihak yang menyerang kapal tersebut.

Namun, insiden ini terjadi setelah deklarasi Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) bahwa Selat Hormuz ditutup untuk navigasi internasional pada Sabtu.

Namun, hingga kini belum ada pengumuman resmi mengenai penutupan total Selat Hormuz.

“Arab Saudi, Irak, Uni Emirat Arab, dan Qatar adalah yang paling rentan,” kata Ampatzidis.

“Karena sebagian besar ekspor minyak mentah dan gas alam cair mereka melalui laut melewati Hormuz.”

Sejumlah pedagang senior menilai ancaman Iran sebagai hal yang kredibel dan telah menghentikan seluruh pengiriman mereka melalui selat tersebut.

Perusahaan pelayaran juga menangguhkan pengiriman dan mengalihkan rute kapal tanker di tengah kekhawatiran terhadap keselamatan pelayaran.

Sebuah kapal tanker terlihat berbalik arah di dekat Bab el-Mandeb pada Sabtu di tengah kekhawatiran akan serangan kelompok Houthi terhadap pelayaran komersial.

Perusahaan pelayaran Jerman, Hapag-Lloyd, menangguhkan seluruh transit kapalnya melalui selat tersebut.

Namun, sebagian lalu lintas kapal masih terus berlanjut.

Tidak jelas pula apakah sejumlah kapal melewati selat itu dengan mematikan AIS (Automatic Identification System).

Menurut Reuters, pemilik terdaftar kapal tanker tersebut adalah Sea Force Inc dan dikelola oleh Red Sea Ship Management LLC.

Amerika Serikat menjatuhkan sanksi kepada perusahaan dan kapal tersebut pada Desember 2025, dengan tuduhan mengoperasikan “armada bayangan” untuk mengangkut produk minyak bumi Iran di Teluk Persia.

Layanan pelacakan kapal Tankertrackers.com menggambarkan Skylight sebagai kapal tanker kecil yang terutama digunakan untuk mengisi bahan bakar kapal lain.

Situs tersebut juga menyebut kapal itu telah berlabuh di Provinsi Musandam sejak 22 Februari.

Insiden ini terjadi di tengah gelombang pembalasan yang lebih luas di kawasan Teluk setelah serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran, yang telah mendorong wilayah tersebut memasuki fase konflik baru.

Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, tewas dalam serangan terkoordinasi terhadap target-target Iran.

Musandam memiliki signifikansi strategis karena semenanjung tersebut berbagi kendali atas Selat Hormuz dengan Iran, sebuah titik penting global yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

Harga Minyak Bisa Terganggu

Mengutip The Week, seiring menurunnya lalu lintas di Selat Hormuz, harga minyak diperkirakan akan naik dalam beberapa hari ke depan jika konflik meningkat dan gangguan berlanjut.

Sekitar 30 persen minyak dan produk petroleum dunia yang diperdagangkan dari negara-negara seperti Arab Saudi, Kuwait, Irak, dan Iran melewati selat tersebut setiap hari, menurut Lloyds List.

Selat Hormuz telah menjadi titik tekanan utama di tengah konflik karena Iran secara berkala menegaskan kendali atas jalur pelayaran internasional tersebut.

Namun, Iran kemungkinan tidak akan menutup jalur itu sepenuhnya, meskipun telah mengeluarkan peringatan baru-baru ini kepada kapal-kapal yang melintas.

Menutup Selat Hormuz sepenuhnya dapat memicu respons angkatan laut lanjutan dari AS dan membuat pelabuhan-pelabuhan Iran menjadi rentan.

Bahkan penurunan kecil dalam volume pengiriman dapat memengaruhi pasar minyak yang sudah bergejolak serta perdagangan minyak mentah Iran sendiri.

Iran saat ini mengekspor sekitar 1,65 juta barel minyak mentah dan kondensat gas per hari, menurut Kpler.

Sebagian besar ekspor minyak Iran juga menuju China, sehingga potensi penutupan selat akan memberi tekanan tambahan dari negara tersebut.

Penutupan Selat Hormuz dalam jangka panjang akan sulit dipertahankan dan berpotensi menyebabkan kenaikan harga minyak, gangguan rantai pasok, serta tekanan ekonomi yang lebih luas di kawasan.

Iran juga tercatat tidak pernah secara resmi menutup Selat Hormuz, meskipun telah berulang kali mengeluarkan peringatan sejak 1979.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.