Dosen HI Unhas Ragu Rusia dan China Terlibat Konflik AS-Israel Vs Iran
Saldy Irawan March 01, 2026 10:22 PM

‎TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Sikap Rusia dan China dinilai menjadi salah satu faktor penentu bagaimana ujung eskalasi konflik antara Amerika Serikat bersama Israel dan Iran.

‎Kedua negara tersebut diketahui memiliki hubungan dekat dengan Iran.

‎Dari sisi kekuatan militer dan pengaruh internasional, Rusia dan China dianggap mampu mengimbangi Amerika Serikat dan sekutunya.

‎Kementerian Luar Negeri Rusia sendiri telah mengeluarkan pernyataan resmi yang mengecam keras serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.

‎“Washington dan Tel Aviv sekali lagi memulai petualangan berbahaya yang secara cepat membawa kawasan ini (Timur Tengah) kian dekat dengan bencana kemanusiaan, ekonomi, dan mungkin bencana radiologis,” demikian pernyataan Kemlu Rusia, dilansir dari Reuters.

‎Meski demikian, kebijakan lebih jauh dari Moskow masih dinantikan publik internasional.

‎Kabar terbaru menyebut Presiden Rusia Vladimir Putin telah menggelar rapat bersama Dewan Keamanan Rusia, hari ini, untuk membahas sikap negaranya terhadap agresi Amerika Serikat dan Israel. 

‎Sementara itu, China hingga kini belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait sikap politiknya.

‎Pemerintah China terakhir hanya mengimbau warganya untuk segera meninggalkan wilayah Iran.

‎Dosen Departemen Hubungan Internasional dan Ilmu Politik Pascasarjana Universitas Hasanuddin, Dr Adi Suryadi Culla, menilai Rusia dan Cina pasti mengecam serangan tersebut.

‎Namun ia meragukan kedua negara itu akan terlibat lebih jauh dalam bentuk pengerahan kekuatan militer.

‎“Mereka pasti akan membuat pembelaan terhadap Iran, tapi sebatas dalam bentuk diplomasi. Tidak dalam bantuan persenjataan ataupun afiliasi militer untuk membentuk koalisi menghadapi serangan Israel dan Amerika,” katanya kepada Tribun-Timur.com.

‎Menurutnya, Rusia dan China memiliki kepentingan yang jauh lebih besar di kawasan Timur Tengah yang harus dijaga.

‎Kepentingan tersebut tidak hanya terbatas pada Iran, melainkan mencakup aspek geopolitik dan ekonomi regional.

‎“Ada kepentingan yang lebih besar yang dipilih Rusia dan China daripada hanya meletakkan perhatian spesifik pada Iran saja. Iran itu salah satu sekutu, tapi kepentingan besar mereka mulai dari aspek geopolitik sampai kepentingan ekonomi, termasuk minyak dan ketergantungan terhadap kawasan Timur Tengah,” jelasnya.

‎Dr Adi Suryadi menambahkan, ujung dari eskalasi konflik Amerika Serikat-Israel dan Iran saat ini masih sulit diprediksi karena penuh ketidakpastian.

‎Hingga Minggu (1/3/2026) malam, eskalasi konflik masih terus berlangsung. Serangan balasan antara kedua pihak terus terjadi.

‎Amerika Serikat bersama Israel dilaporkan terus membombardir sejumlah lokasi dan kota strategis di Iran.

‎Sebaliknya, Iran membalas dengan menyerang pangkalan udara Amerika Serikat di berbagai negara Timur Tengah, membombardir wilayah Israel, serta menutup Selat Hormuz.

‎Situasi tersebut membuat ketegangan di kawasan Timur Tengah semakin meningkat dan menjadi perhatian dunia internasional.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.