TRIBUNNEWS.COM - Agresi militer yang dilakukan 'duet' Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran menyasar ke dua sekolah hingga menimbulkan lebih dari 100 korban jiwa, sebagian adalah anak-anak.
Militer Israel mengaku, pihaknya tidak mengetahui adanya serangan terhadap sekolah tersebut.
"Pada tahap ini, kami tidak mengetahui adanya serangan udara Israel atau AS di lokasi tersebut... Kami beroperasi dengan sangat presisi," kata juru bicara militer Letnan Kolonel Nadav Shoshani dalam konferensi pers, Minggu (1/3/2026), dikutip dari laman Middle East Eye.
Sementara, Komando Pusat Militer AS (CENTCOM/United States Central Command) mengatakan pihaknya sedang menyelidiki laporan insiden tersebut.
"Kami menanggapi laporan ini dengan serius," kata juru bicara CENTCOM Tim Hawkins dalam pernyataan yang dilaporkan di media AS, dilansir BBC.
"Perlindungan warga sipil adalah yang terpenting, dan kami akan terus mengambil semua tindakan pencegahan yang tersedia untuk meminimalkan risiko bahaya yang tidak disengaja."
Sekolah tersebut berada sekitar 600 meter dari pangkalan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang sebelumnya dijadikan target serangan Israel dan AS.
Setelah insiden serangan keji di sekolah ini, Iran jelas langsung menuding AS dan Israel sebagai pihak yang bertanggung jawab.
Setidaknya, tercatat total 201 orang tewas dalam serangan udara di Iran dan 747 lainnya terluka sejak Sabtu (28/2/2026), menurut Bulan Sabit Merah Iran (Iranian Red Crescent Society).
Baca juga: Perang Iran Vs AS-Israel, Kemlu Imbau WNI di Timur Tengah Siapkan Opsi Hadapi Risiko Darurat
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyebu,t insiden serangan ke sekolah ini sebagai "tindakan barbar" dan "halaman hitam lain dalam catatan kejahatan yang tak terhitung jumlahnya yang dilakukan oleh para agresor".
Menyusul insiden pada Sabtu kemarin, pejabat Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (Red Cross dan Red Crescent) di Jenewa mengatakan bahwa pihak mereka telah memobilisasi tim tanggap darurat untuk bertolak ke sekolah di Iran yang terkena serangan.
Salah seorang pejabat di sekolah dasar putri di Kota Minab ini mengungkap, sekolah tersebut telah "menjadi sasaran tiga serangan rudal".
Tragedi di dua sekolah tersebut terjadi ketika AS dan Israel melancarkan gelombang demi gelombang serangan udara terhadap target di sejumlah kota di Iran sepanjang hari Sabtu kemarin.
Serangan masih berlanjut pada hari Minggu, menyusul tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan udara, bersama dengan putri, menantu, dan cucunya.
Pemerintah Iran lantas menyatakan 40 hari berkabung nasional dan tujuh hari libur nasional atas meninggalnya Ayatollah Ali Khamenei.
Menyusul serangan yang menewaskan Ayatollah Ali Khamenei, Presiden AS Donald Trump dalam video pengumumannya di platform Truth Social bilang ini untuk "membela rakyat Amerika dari ancaman rezim Iran" dan mencegah Iran punya senjata nuklir.
Dia juga secara terbuka memanggil rakyat Iran untuk bangkit dan mengambil alih pemerintahan mereka, menyebut ini "kesempatan terakhir untuk generasi mendatang".
Di sisi lain, Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu menyatakan tujuan serangan ini adalah untuk menghilangkan "ancaman eksistensial" dari rezim Iran terhadap Israel.
Selain Ayatollah Ali Khamenei, banyak pejabat senior politik dan militer Iran juga dilaporkan tewas dalam serangan AS-Israel, di antaranya:
Terkait operasi militer AS-Israel ini, Iran pun langsung melakukan serangan balasan dengan meluncurkan ratusan rudal balistik dan drone ke Israel.
Sebanyak 27 pangkalan militer AS di Timur Tengah (termasuk di Bahrain, Kuwait, Qatar, UAE, dan lainnya) juga menjadi target serangan balasan Iran.
Dalam pernyataan terbarunya, Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) atau Korps Garda Revolusi Iran yang berjanji akan melakukan serangan pembalasan.
Menurut IRGC, serangan akan dimulai “dalam beberapa saat” dan akan menargetkan “area pendudukan dan pangkalan teroris Amerika” di wilayah tersebut.
Lebih lanjut, serangan AS-Israel terhadap Iran juga berdampak lebih luas, di mana sejumlah negara di Timur Tengah menutup wilayah udaranya.
Penutupan wilayah udara terjadi di Israel, Qatar, Suriah, Iran, Irak, Kuwait, Bahrain, hingga Uni Emirat Arab (UEA).
(Tribunnews.com/Rizki A.)