Kesalahan Fatal SPPG Pantai Batung HST Kalsel Sampai Dihentikan Sementara, Sempat Viral di Sosmed
Edi Nugroho March 02, 2026 12:52 AM

BANJARMASINPOST.CO.ID, BARABAI - Kesalahan fatal Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pantai Batung, Kecamatan Batu Benawa, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) sampai dihentikan sementara.

Badan Gizi Nasional (BGN) resmi menghentikan sementara operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pantai Batung, Kecamatan Batu Benawa, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST).

Keputusan tersebut tertuang dalam surat bernomor 605/D.TWS/02/2026 tertanggal 26 Februari 2026.

Penghentian operasional dilakukan menyusul viralnya menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di HST di media sosial yang diduga menyediakan makanan tidak layak konsumsi.

Baca juga: Kurir di Banjarbaru Kehilangan Dua Karung Berisi Paket, Pelaku Terpantau Pakai Motor Matic

Baca juga: Pelaku Curanmor di Tabalong Dibekuk di Palangkaraya, Residivis Beraksi Saat Korban Mandi

Dalam surat yang bersifat segera itu, BGN menyebutkan keputusan diambil berdasarkan laporan pengaduan dari Koordinator Regional dan Kepala SPPG, hasil investigasi singkat di lapangan, serta pertimbangan pimpinan terkait dugaan Kejadian Menonjol (KM).

Penghentian operasional ini mengacu pada Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2025 tanggal 29 September 2025 tentang Percepatan Pengelolaan Keamanan Pangan pada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi. 

Surat tersebut ditandatangani oleh Direktur Pemantauan dan Pengawasan Wilayah III, Rudi Setiawan, S.IP., M.Han.

SPPG yang dihentikan ini merupakan satu dari 12 unit dapur SPPG yang telah beroperasi selama kurang lebih 11 bulan di Kabupaten Hulu Sungai Tengah. 

Selama ini, unit-unit dapur tersebut melayani penyaluran program MBG bagi para penerima manfaat di sejumlah wilayah.

Terkait beredarnya surat tersebut, Koordinator Wilayah (Korwil) SPPG HST, Sadilah, saat dikonfirmasi Banjarmasinpost.co.id, sabtu, (28/02/2026), membenarkan adanya penghentian operasional SPPG Pantai Batung.

“Monitor. Benar itu Om,” ujarnya singkat.

BGN menegaskan penghentian sementara dilakukan untuk kepentingan evaluasi dan pembenahan standar keamanan pangan. 

Operasional SPPG yang terdampak baru dapat kembali berjalan setelah dinyatakan memenuhi ketentuan yang berlaku dan mendapat persetujuan dari pihak berwenang. 

Tips aman santap Makanan Bergizi Gratis (MBG):

Gunakan metode "Lihat, Cium, Sentuh, Cicip" untuk mencegah risiko keracunan. 

Berikut tips aman santap MBG:

Periksa Kondisi Fisik (Uji Organoleptik): Pastikan makanan segar, tidak berubah warna, dan tidak berjamur.
    
Cium Aroma: Pastikan aroma khas bahan makanan asli dan tidak menyengat atau asam.
    
Sentuh Tekstur: Hindari makanan yang teksturnya licin atau berair karena menandakan adanya mikroba.
   
 Pengecekan Waktu: Pastikan makanan dikonsumsi maksimal 6 jam setelah dimasak.
    
Pemisahan Kemasan (Food Tray): Lauk panas harus dipisah dari sayur/buah dingin agar tidak cepat basi.
   
 Kebersihan Diri: Cuci tangan dengan sabun sebelum dan sesudah menyantap makanan.
   
 Cicipi Sedikit: Sebelum dimakan seluruhnya, cicipi sedikit untuk memastikan rasa tidak aneh atau pahit. 

Jika menemukan makanan yang sudah berlendir, berbau tidak sedap, atau rasanya tidak layak, segera laporkan ke tim pengawas pangan sekolah dan jangan dikonsumsi. 

Kenal Pemicu Keracunan MBG:?

Keracunan makanan pada program Santap Makan Bergizi Gratis (MBG) umumnya disebabkan oleh kontaminasi bakteri (seperti SalmonellaE. coliBacillus cereus) akibat higienitas buruk, pengolahan makanan terlalu dini (basi), suhu penyimpanan yang tidak tepat (zona bahaya 4°C-60°C), serta distribusi yang terlalu lama. 

Selain itu, faktor pendukung lainnya adalah bahan baku tidak segar, penggunaan wadah tidak standar, hingga kurangnya pengawasan dan sertifikasi dapur. 

Berikut adalah penyebab keracunan MBG secara lebih terperinci:

Proses Masak dan Penyimpanan (Higienitas): Makanan sering dimasak terlalu dini dan dibungkus saat masih panas, menciptakan uap air yang mempercepat pertumbuhan bakteri. 

Pengemasan ulang tanpa pemanasan ulang juga memicu risiko basi.
    
Waktu Distribusi: Jarak waktu yang terlalu lama antara makanan dimasak hingga dikonsumsi (seringkali lebih dari 4 jam) memungkinkan kuman berkembang biak.
    
Kualitas Bahan Baku: Penggunaan bahan baku yang kurang segar (seperti ayam/sayur yang sudah tidak layak) atau bahan baku yang dibeli terlalu lama sebelum diolah (misal H-4) meningkatkan risiko kontaminasi.
    
Kurangnya Pengawasan (Dapur): Banyak dapur (SPPG) yang belum tersertifikasi laik higiene sanitasi, mengakibatkan standar kebersihan tidak terjaga.
   
Kontaminasi Wadah: Penggunaan wadah makanan yang tidak sesuai (food grade) atau kurang bersih bisa melepaskan logam berat saat bereaksi dengan panas atau asam makanan. 

Upaya pencegahan memerlukan standar ketat mulai dari pemilihan bahan, pengolahan, hingga penyajian langsung (hangat) untuk memastikan keamanan makanan bagi siswa. 

(Banjarmasinpost.co.id/Stanislaus sene/kompas.com).



 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.