Muhasabah Duabelas: Bukan Setan, Tetapi Nafsu
Ansar March 02, 2026 05:04 AM

Oleh: Salman Ahmad

SUATU kali, amarah saya memuncak (bukan dalam Bulan Ramadhan ini).

Dada sesak, napas memburu, dan darah serasa mendidih dan naik ke wajah.

Kala itu, kata-kata tajam meluncur tanpa saringan, dan nampaknya menyakitkan bagi orang-orang yang berada di sekeliling saya.

Setelah perlahan amarah itu mereda, dan saat semuanya sudah menjadi tenang, saya menyadari diri lalu berkata: “Awwaaah tadi ada lagi setan lewat”.

Kita memang sering menyalahkan setan atas ketidakmampuan kita mengendalikan diri.

Setan menjadi kambing hitam.

Kita membayangkan makhluk gaib itu menyusup, membajak lidah, dan menggerakkan tangan kita.

Lalu pergi begitu saja dengan menyisakan puing-puing akibat yang merugikan dan membuat menyesal.  

Tetapi betulkah setan seberkuasa itu? Al-Qur’an, dengan nada getir, menginformasikan bahwa setan tidak memiliki kekuasaan mengendalikan pancaindera manusia.

Surah Ibrahim, ayat 22 menegaskan pengakuan setan: “Aku tidak mempunyai kekuasaan atasmu sedikit pun, melainkan aku hanya menyeru kamu, lalu kamu mematuhi seruanku”.

Hanya seruan, Selebihnya adalah pilihan diri sendiri.

Yang memilih itu adalah: nafsu.

“Sesungguhnya nafsu itu benar-benar selalu menyuruh kepada kejahatan…” (QS. Yusuf: 53).

Ia bukan musuh dari luar. Ia adalah bagian dari diri kita sendiri, yang ingin diakui, ingin menang, ingin lebih.

Dalam detik ketika amarah itu memuncak, sebenarnya yang sedang berdiri di panggung bukanlah setan, melainkan ego yang merasa terancam.

Ada harga diri yang merasa dilukai, ada keinginan untuk tetap unggul, ada hasrat untuk tidak kalah. 

Lebih mudah menunjuk dan berkata: “Setan lewat.”

Padahal, yang bergerak cepat di dalam dada, yang membuat napas memburu dan darah naik ke wajah, adalah sesuatu yang kita pelihara sendiri sejak lama, mungkin bisa dibilang, KeAkuan yang tak terdidik.

Setan tak punya kuasa menggenggam urat leher kita.

Ia tidak dapat memaksa apalagi menguasai pita suara yang bergetar.

Ia hanyalah provakor, lalu kitalah eksekutornya.

Maka tanggung jawab tak pernah benar-benar berpindah tangan.

Ia tetap tinggal dalam diri.

Di saat amarah memuncak itu, sesungguhnya kita sedang diuji: apakah kita menjadi tuan bagi diri sendiri, atau justru budak bagi dorongan sesaat.

Amarah sering datang dengan argumentasi yang tampak masuk akal.

Ia berkata bahwa kita sedang membela kebenaran, menegakkan harga diri, atau meluruskan kesalahan.

Tetapi setelah badai reda, yang tersisa sering kali hanyalah penyesalan, dan mungkin luka di hati orang lain.

Menyalahkan setan mungkin terasa menenangkan, tetapi ia tidak menyembuhkan.

Penyembuhan hanya dimulai ketika kita berani berkata: “Itu adalah aku.”

Pengakuan itulah pintu gerbang perbaikan.  

Jika sumbernya ada dalam diri, maka perbaikannya pun bisa dimulai dari dalam.

Maka setiap kali amarah datang lagi, mungkin yang perlu kita lakukan bukan sekadar mengucap isti’adzah dengan lisan, tetapi juga membangun benteng di dalam jiwa; memperbanyak jeda sebelum bicara, belajar diam ketika emosi meninggi, dan melatih hati untuk tidak selalu merasa paling benar.

Karena pada akhirnya, kemenangan terbesar bukanlah ketika kita berhasil membungkam orang lain dengan kata-kata keras, melainkan ketika kita mampu membungkam gejolak dalam diri sendiri.

Di situlah martabat manusia ditegakkan, bukan sebagai makhluk yang mudah digerakkan bisikan, tetapi sebagai pribadi yang sadar dan bertanggung jawab atas setiap pilihannya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.