TRIBUNJATENG.COM, KENDAL - Desir angin menjatuhkan bunga yang tumbuh di Pohon Kendal, di sebelah makam Wali Gembyang yang berada di kelurahan Patukangan Kecamatan Kendal.
Konon pohon berusia ribuan tahun itu menyimpan jejak penyebaran islam oleh Wali Hasan Abdullah atau akrab disebut Eyang Pakuwojo, yang bersembunyi di dalam pohon Kendal dari pasukan Mataram.
Pakuwojo merupakan salah satu wali yang turut andil dalam penyebaran ajaran islam di Kendal, setelah diislamkam oleh Sunan Katong.
Setelah tempat persembunyiannya diketahui, pasukan Mataram langsung melancarkan serangan hingga membuat pohon Kendal itu terbakar. Pakuwojo dengan kesaktiannya mampu menyelamatkan diri, sedangkan anak-anaknya dititipkan ke Wali Gembyang.
"Kalau dari cerita yang tersirat itu kisah perjuangan Mbah Gembyang semasa dengan Sunan Katong sekitar tahun 1628 M," kata juru kunci makam Wali Gembyang, Muhammad Jayus Asrori, Sabtu (28/02/2026).
Jayus menerangkan, perjuangan dakwah Mbah Gembyang hingga dikenang sebagai wali cukup lama. Syiar agama islam yang dibawa Mbah Gembyang turut serta membangun pondasi religius di Kabupaten Kendal.
Dia menuturkan, Wali Gembyang merupakan sosok ulama asal Timur Tengah yang sempat menyebarkan Islam di Cina.
Selama berdakwah di sana, Wali Gembyang yang memiliki nama asli Hamzah itu kerap dipanggil Han Byan.
Oleh orang Jawa, pelafalan nama tersebut kemudian berubah menjadi Gembyang.
"Beliau dakwah dulu di Cina, kemudian berpindah dakwahnya untuk menyebarkan islam di Kendal," tuturnya.
Selama berdakwah, Wali Gembyang dikenal sebagai sosok ramah, sederhana dan sopan serta termasuk sosok yang dituakan di Kabupaten Kendal.
Wali Gembyang mulai berdakwah sekitar tahun 1628 Masehi, namun Jayus tak mengetahui secara persis kapan Wali Gembyang wafat.
Jayus menambahkan, dakwah yang dilakukan Wali Gembyang memiliki keterkaitan dengan Sunan Katong.
Dalam buku Aspek-aspek Budaya di Kabupaten Kendal, disebutkan bahwa Raja Demak, Raden Patah meminta saudaranya Sunan Katong untuk menjadi penyebar islam di Kaliwungu.
Keberhasilan Sunan Katong menyebarkan islam dengan corak sufistik di Kaliwungu membuat wilayah itu menjadi pusat keilmuan islam di Kendal.
Di periode berikutnya yang diteruskan oleh Wali Jaka dan Wali Gembyang, juga identik dengan corak serupa. Bahkan, Wali Gembyang disebut Jayus memiliki kelinuwehan atau kelebihan khusus berupa perkataannya yang mujarab.
"Dalam Bahasa Jawa itu mandi ucape (manjur ucapannya)," imbuhnya.
Hingga kini, makam Wali Gembyang yang berada di sebelah utara Alun-alun Kendal itu tak pernah sepi peziarah.
Jayus bercerita, setiap awal Ramadan peziarah selalu memadati kompleks makam Wali Gembyang.
"Pas awal Ramadan itu selalu ramai. Yang datang, orang-orang dari berbagai daerah," sambungnya.
Jayus menambahkan, selama Ramadan terdapat kegiatan yang bisa diikuti masyarakat di kompleks makam Wali Gembyang, yakni pengajian kitab kuning rutin.
"Nanti tanggal 9 Syawal juga ada haul Mbah Wali Gembyang. Itu biasanya ramai ribuan peziarah memadati kompleks makam sini," tandasnya. (Agus Salim Irsyadullah)