Bukan Sekadar Nikah Pesanan, Sosiolog Sebut Kasus Vina Cirebon Alarm Bahaya Human Trafficking
Dwi Yansetyo Nugroho March 02, 2026 06:11 AM

Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Eki Yulianto


TRIBUNCIREBON.COM, CIREBON- Kasus dugaan nikah pesanan yang menjerat Vina, warga Kabupaten Cirebon, dinilai bukan sekadar persoalan pribadi atau kelalaian individu.

Seorang sosiolog menyebut, pola yang terjadi dalam kasus ini merupakan bagian dari praktik lama perdagangan orang yang terus berulang di wilayah kantong kemiskinan.

Sosiolog dari Universitas Islam Negeri Siber Syekh Nurjati Cirebon, Musahwi M. Sosio menegaskan, bahwa akar persoalan kasus ini terletak pada kemiskinan ekstrem yang masih melanda wilayah pesisir seperti Cirebon dan Indramayu.

Baca juga: Rupiah Baru Jadi Rebutan! Ini Titik Penukaran Favorit di Cirebon dan Kuningan, Jangan Kehabisan


“Kita mesti melihat ini akarnya apa. Dalam sosiologi, kita lihat akarnya. Ya, akarnya adalah kemiskinan. Itu yang pertama,” ujar Musahwi saat dimintai tanggapan, Minggu (1/3/2026).

Ia menjelaskan, Kabupaten Cirebon dan Indramayu termasuk daerah dengan angka Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang tinggi.

“Rata-rata masyarakat kita, khususnya di Kabupaten Cirebon, banyak yang tergiur pergi ke luar negeri. Karena apa? Kondisi ekonomi yang di bawah garis kemiskinan. Itu penting kita catat,” ucapnya.

Baca juga: Polisi Beberkan Kronologis KM Almujib Ditabrak Tongkang di Perairan Sekitar Pulau Biawak Indramayu

Mudah Tergiur Mahar Fantastis

Menurutnya, dalam kondisi ekonomi tertekan, tawaran nikah dengan mahar besar menjadi jebakan yang efektif.

“Ketika ada tawaran mau nikah sehari dua hari dengan uang jutaan, ratusan juta, orang kadang-kadang enggak panjang berpikir. Kenapa? Karena memang mereka enggak punya apa-apa,” ucapnya.

Ia menegaskan, modus seperti ini bukan hal baru dalam konteks pekerja migran Indonesia.

Baca juga: Tragedi Laut di Indramayu, KM Almujib Ditabrak Kapal Tongkang, Enam ABK Jadi Korban


“Dalam konteks pekerja migran, modus kayak gini itu sudah lama. Dulu dijanjikan kerja dengan gaji selangit, ujung-ujungnya jadi pekerja seks komersial. Banyak kasus begitu,” jelas dia.

Musahwi bahkan mengaku khawatir pola yang sama bisa terjadi dalam kasus Vina.

“Saya khawatir ini dikasih mahar kayak gini ujung-ujungnya mereka jadi pekerja seks komersial. Ini lintas negara dan masuk kategori human trafficking,” katanya.

Baca juga: Identitas 8 Korban ABK KM Almujib yang Ditabrak Tongkang di Perairan Sekitar Pulau Biawak Indramayu

Relasi Kuasa & Ketimpangan Ekonomi

Saat ditanya soal ketimpangan relasi antara negara berkembang dan negara maju, Musahwi menjawab lugas.

“Jelas ada relasi itu. Warga negara Indonesia yang ekonominya lemah berhadapan dengan negara yang ekonominya lebih tinggi. Tapi lebih dari sekadar itu, persoalannya sangat luas,” ujarnya.

Namun ia kembali menekankan, bahwa persoalan paling mendasar tetap kemiskinan ekstrem.

“Wilayah pesisir seperti Cirebon dan Indramayu itu sangat mudah tergiur. Kenapa? Karena mereka sangat membutuhkan,” ucap Musahwi.

Baca juga: Identitas 8 Korban ABK KM Almujib yang Ditabrak Tongkang di Perairan Sekitar Pulau Biawak Indramayu

Broker Harus Dibongkar

Ia menilai, aparat penegak hukum harus memburu pihak perantara atau broker di balik praktik tersebut.

“Yang harus diselidiki detail adalah siapa perantaranya. Karena itu bisa menjadi brokernya. Kalau brokernya kena, ini bisa dikenai pidana perdagangan orang. Ini berbahaya,” jelas dia.

Menurutnya, praktik ini tidak bisa dilihat dari satu sisi saja karena melibatkan jaringan lintas negara.

“Ini kerja sama lintas sektoral. Enggak bisa hanya melihat dari satu sisi,” katanya.

Baca juga: Rupiah Baru Jadi Rebutan! Ini Titik Penukaran Favorit di Cirebon dan Kuningan, Jangan Kehabisan

Edukasi dari Desa & Pengawasan Ketat

Musahwi juga mendorong langkah preventif dimulai dari desa-desa kantong pekerja migran.

“Edukasi harus dimulai dari desa-desa yang banyak pekerja migran atau desa-desa miskin. Jangan sampai jadi korban berikutnya,” ujarnya.

Ia juga menyinggung perlunya pengawasan ketat dalam proses administrasi perjalanan.

“Di kantor imigrasi itu harus detail tujuan dan motifnya. Jangan sampai bikin paspor nitip-nitip saja jadi tanpa kita tahu. Ini lintas negara dan bisa membahayakan banyak orang,” ucap Musahwi.

Baca juga: Dari Jatiwangi untuk Indonesia, Bupati Majalengka Gaspol Sukseskan Program Gentengisasi

Jika Dibiarkan Akan Marak

Musahwi memperingatkan dampak jangka panjang jika fenomena ini tak ditangani serius.

“Kalau ini dibiarkan, broker-broker akan semakin mudah melakukan human trafficking, terutama di wilayah kantong kemiskinan. Itu sangat berbahaya,” jelas dia.

Ia menutup dengan pernyataan yang menggambarkan kondisi sosial paling rentan.

“Warga miskin itu nalarnya kadang sudah enggak jalan gara-gara enggak ada uang. Itu yang harus kita pahami,” katanya.

Baca juga: Identitas 8 Korban ABK KM Almujib yang Ditabrak Tongkang di Perairan Sekitar Pulau Biawak Indramayu

Sebelumnya: Vina Minta Dijemput, Gubernur Jabar Janji Turun Tangan

Sebelumnya, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyatakan akan turun tangan menangani kasus Vina, warga Desa Gombang, Kabupaten Cirebon, yang diduga terjebak sindikat nikah pesanan di luar negeri.

Pernyataan itu disampaikan Dedi saat menghadiri Safari Ramadan “Tarling Neuleuman Poekna Peuting” di Lapangan Mandala Giri, Desa Kedungjaya, Kecamatan Kedawung, Sabtu (28/2/2026) malam.

“Aspek komunikasi, insyaallah nanti ditangani, akan dijemput seperti warga yang lain ketika di luar negeri. Nanti saya sampaikan ke Bupati datanya,” ujar Dedi.

Baca juga: Identitas 8 Korban ABK KM Almujib yang Ditabrak Tongkang di Perairan Sekitar Pulau Biawak Indramayu

Sebelum pernyataan tersebut, Vina diketahui melakukan panggilan video selama sekitar 25 menit dengan Dedi pada hari yang sama.

Dalam percakapan itu, Vina meminta bantuan untuk dipulangkan.

“Vina minta dibantu pulang pak, soalnya semua berkas ditahan. Vina gak tahu kalau mereka agen,” ucapnya.

Kasus ini bermula dari perkenalan Vina dengan seorang pria asing di lingkungan kerjanya di kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK), Jakarta.

Baca juga: Dari Jatiwangi untuk Indonesia, Bupati Majalengka Gaspol Sukseskan Program Gentengisasi

Ia mengaku mengetahui ajakan menikah, namun tidak menyadari adanya dugaan sindikat.

“Vina tahunya setelah tiba di China,” katanya.

Kasus tersebut viral setelah video Vina menangis dan meminta pertolongan beredar luas di media sosial, memicu perhatian publik dan respons dari pemerintah daerah. 
 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.