TRIBUNJAKARTA.COM - Warga Negara Indonesia (WNI) dapat menghubungi Hotline Perwakilan RI di kawasan Timur Tengah dalam kondisi darurat imbas perang Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran.
Daftar Hotline Direktorat Pelindungan Warga Negara Indonesia (WNI) dan Hotline Perwakilan RI di kawasan Timur Tengah itu dirilis oleh Kementerian Luar Negeri (Kemlu).
Daftar nomor darurat tersebut dirilis untuk saluran komunikasi para WNI yang berada di tengah situasi perang AS-Israel dengan Iran.
"Dalam situasi darurat, WNI dapat segera menghubungi Hotline Direktorat Pelindungan WNI Kementerian Luar Negeri melalui nomor +62 812-9007-0027," tulis Kementerian Luar Negeri dikutip dari akun instagramnya, Senin (2/3/2026).
Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia dan Perwakilan RI di kawasan Timur Tengah terus menjalin komunikasi secara intensif serta berkoordinasi dengan para WNI di wilayah terdampak.
"Seluruh WNI di wilayah terdampak untuk tetap tenang, meningkatkan kewaspadaan, mengikuti arahan otoritas setempat, serta menjaga komunikasi secara berkala dengan Perwakilan RI terdekat," tulis Kemlu.
Masyarakat Indonesia yang berencana melakukan perjalanan melalui atau transit di kawasan Timur Tengah agar mempertimbangkan kembali rencana perjalanan dan menunda perjalanan hingga situasi lebih kondusif.
WNI juga bisa menghubungi Hotline Perwakilan RI di kawasan Timur Tengah agar tetap bisa berkomunikasi.
Kementerian Luar Negeri meminta masyarakat Indonesia yang berencana melakukan perjalanan melalui atau transit di kawasan Timur Tengah agar mempertimbangkan kembali rencana perjalanan dan menunda perjalanan hingga situasi lebih kondusif.
"Kementerian Luar Negeri bersama seluruh Perwakilan RI di kawasan akan terus memantau dan melakukan asesmen secara menyeluruh terhadap dinamika situasi keamanan, kondisi riil di lapangan, serta langkah-langkah penanganan yang sedang dan akan dilakukan guna menyikapi perkembangan situasi ke depan," tulis Kemlu.
Sementara itu dikutip dari Tribunnews.com, Iran langsung melancarkan aksi balasan atas serangan terkoordinasi Amerika Serikat (AS) dan Israel, Minggu (3/1/2026).
Serangan AS-Israel pada Sabtu (28/2/2026) ini menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan para pejabat keamanan tinggi Iran.
Adapun serangan balasan Iran telah menargetkan Israel dan aset-aset AS di berbagai negara Timur Tengah, termasuk Qatar, Uni Emirat Arab, Kuwait, Bahrain, Yordania, Arab Saudi, Irak, dan Oman.
Dalam laporan pembaruannya, Al Jazeera menyebut tiga tentara AS tewas dalam pertempuran dan lima lainnya luka serius setelah serangan Iran di seluruh Timur Tengah, menurut Komando Pusat AS (Centcom).
Serangan balasan Iran juga menyasar langsung Israel.
Sedikitnya sembilan orang tewas dalam serangan rudal Iran di kota Beit Shemesh, Israel.
Serangan balasan Iran ini mengabaikan ancaman Presiden AS, Donald Trump yang memperingatkan Iran bahwa mereka akan dihantam “dengan kekuatan yang belum pernah terlihat sebelumnya” jika mereka menyerang “dengan sangat keras hari ini”.
Di sisi lain, unit elite militer Iran, Korps Garda Revolusi bersumpah akan membalas dendam dan mengatakan telah melancarkan serangan terhadap 27 pangkalan yang menampung pasukan AS di Timur Tengah, serta fasilitas militer Israel di Tel Aviv.
Serangan balasan Iran ini membuat seluruh kawasan membara karena sebagian negara di Timur Tengah menampung sejumlah pangkalan militer AS.
"Ledakan terus terdengar di Qatar dan Uni Emirat Arab," tulis laporan Al Jazeera.
Media pemerintah Iran mengatakan setidaknya 201 orang tewas dalam serangan di 24 provinsi.