Dampak Perang Amerika Serikat vs Iran ke Indonesia, Harga BBM dan Bahan Pokok Terancam Naik
Odi Aria March 02, 2026 09:27 AM

SRIPOKU.COM – Memanasnya konflik antara Israel, Amerika Serikat, dan Iran memicu kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi global, termasuk Indonesia.

Serangan militer yang berlangsung sejak akhir pekan membuat harga minyak mentah dunia melonjak tajam.

Harga minyak Brent dilaporkan naik dari kisaran US$65 per barel pada awal Februari menjadi sekitar US$73 per barel.

Bahkan, dalam skenario terburuk, harga minyak berpotensi menembus US$120 per barel seperti saat pecahnya perang Rusia-Ukraina.

Lonjakan harga energi ini tak lepas dari penutupan Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak mentah global.

Penutupan tersebut membuat distribusi energi terganggu dan meningkatkan ketidakpastian pasar.

Selain berdampak pada pasokan minyak, gangguan jalur pelayaran juga berpotensi menghambat arus perdagangan internasional.

Jika kapal-kapal harus memutar melalui jalur Afrika untuk menghindari kawasan konflik, biaya logistik global akan melonjak.

Dampaknya turut dirasakan negara-negara yang bergantung pada impor bahan baku dan energi, termasuk Indonesia.

Kenaikan harga minyak mentah berisiko memperbesar beban subsidi energi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Jika pemerintah tidak melakukan realokasi anggaran, tekanan fiskal dikhawatirkan semakin berat.

Di sisi lain, ruang penambahan utang dinilai tidak mudah di tengah sorotan lembaga pemeringkat internasional terhadap kualitas pengelolaan fiskal nasional.

Dari sisi pelaku usaha, lonjakan harga BBM akan berdampak langsung pada biaya operasional transportasi darat.

Komponen BBM disebut menyumbang sekitar 35 hingga 40 persen dari total biaya operasional truk. Jika harga solar naik 10 persen, ongkos angkut bisa terdongkrak hingga 3,5–4 persen.

Dalam skenario kenaikan 20 hingga 30 persen, ongkos logistik berpotensi naik hingga dua digit.

Kenaikan ongkos angkut ini pada akhirnya akan diteruskan ke harga barang, terutama komoditas pangan, bahan bangunan, dan produk konsumsi bermargin tipis.

Risiko imported inflation atau inflasi akibat kenaikan harga barang impor pun sulit dihindari.

Asosiasi pengusaha juga mengingatkan potensi lonjakan premi asuransi pengiriman akibat meningkatnya risiko keamanan di kawasan Timur Tengah.

Selain itu, pembatasan jalur pelayaran dan berkurangnya kapal yang berani melintas bisa menyebabkan ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan jasa angkut.

Dampak langsung dari eskalasi konflik ini diperkirakan mulai terasa dalam beberapa hari hingga dua atau tiga minggu ke depan, tergantung pada perkembangan situasi di lapangan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.