Tiga Dekade Jikustik: Dari Kaset Pita 14 Ribu Rupiah hingga Panggung Prambanan
suhendri March 02, 2026 11:03 AM

Oleh: Prima Trisna Aji - Dosen Prodi Spesialis Medikal Bedah Universitas Muhammadiyah Semarang

TANGGAL 26 Februari 2026 menandai 30 tahun perjalanan band Jikustik. Bagi sebagian orang, itu hanya angka. Bagi saya, itu adalah pengingat tentang masa remaja, tentang kesederhanaan, dan tentang sejarah sebuah band dari Yogyakarta yang tumbuh bersamaan dengan perjalanan hidup saya.

Jikustik lahir dengan lagu berjudul “Maaf”. Di awal kemunculannya, tidak semua orang yakin mereka akan bertahan apalagi bisa terkenal. Industri musik saat itu keras. Banyak band muncul, lalu hilang. Tetapi saat saya masih kelas 3 SMP, saya punya keyakinan tersendiri: band ini akan panjang usianya. Dan akan menjadi salah satu band dari Yogyakarta yang akan menembus musik nasional seperti band Sheila on 7.

Saya masih ingat bagaimana saya membeli kaset pita album pertama mereka, Seribu Tahun (2000). Harganya sekitar Rp14 ribu waktu itu. Untuk anak SMP, itu bukan jumlah yang kecil. Saya sengaja setiap berangkat sekolah membawa bekal nasi dan telur dari rumah agar tidak jajan saat istirahat waktu sekolah.

Sore hari, setelah uang terkumpul, saya mengayuh sepeda ontel ke toko kaset Harapan Music di Jalan Slamet Riyadi, Surakarta. Perjalanan itu mungkin terlihat biasa, akan tetapi bagi saya saat itu sangat bahagia dikarenakan bisa mengumpulkan uang untuk membeli kaset pita yang sebagian anak–anak SMP kelas 3 adalah “wah”.

Setelah itu, album-album lain hadir: Perjalanan Panjang (2002), Sepanjang Musim (2003), Pagi (2004), Siang (2006), Malam (2008), Kembali Indah (2011), Live Acoustic (2014), Tetap Berjalan (2015), Rekam/Kenang (2023), hingga Back 4 Good. Lagu-lagu seperti “Puisi”, “Tetap Percaya”, “Tuhan Itu Ada”, dan “Gadis Perekam Hujan” menjadi bagian dari banyak fase hidup saya.

Ada satu momen yang tidak pernah saya lupakan. Ketika single baru Jikustik kala itu berjudul “Bagai Elang” ciptaan Dadik Jikustik dirilis, saya langsung jatuh hati. Lagu itu terasa melankolis, maknanya dalam serta sangat bermakna isinya.

Pada saat itu bertepatan istri saya sedang hamil anak kedua kami. Kami sepakat ingin mendengarkan lagu baru itu secara langsung di sebuah konser malam tahun baru Jikustik di Candi Prambanan Jogjakarta. 

Konsernya digelar sore hari. Kami berangkat dari Karanganyar Jawa Tengah menuju Yogyakarta dengan penuh semangat. Namun perjalanan sangat macet dan hujan turun cukup deras. Mobil berjalan lambat dan waktu terus berjalan.

Saat kami masih mengantre di parkiran masuk mobil di area Candi Prambanan, dari kejauhan terdengar suara Icha Jikustik sudah menyanyi. Kami saling menatap. Langkah kami dipercepat menuju arena konser yang cukup jauh karena berada di kawasan candi. Tiba-tiba terdengar intro yang saya kenal. Ya itu lagu “Bagai Elang.”

Saya berhenti sejenak. Lagu yang ingin sekali kami dengar ternyata sedang dibawakan yaitu lagu Bagai Elang, sementara kami masih di luar panggung. Akan tetapi kami tetap berjalan, sambil merekam potongan lagu itu dari kejauhan meski tertutup pagar tembok konser. Jujur kami tidak bisa berlari karena kondisi istri saya yang baru hamil. Suaranya samar, bercampur dengan langkah kaki dan sisa hujan. Ketika akhirnya kami berhasil masuk ke dalam area konser, lagu itu sudah selesai dibawakan. Ada rasa kecewa, tetapi juga rasa menerima. Mungkin belum waktunya.

Beberapa minggu kemudian, sekitar bulan Februari, saya mendapat pesan WhatsApp dari Mas Dadik gitaris Jikustik. Isinya membuat saya terdiam beberapa saat: Jikustik akan mengadakan konser ulang tahun secara privat di sebuah hotel di Yogyakarta, dan saya mendapat undangan gratis dari beliau.

Saya dan istri datang dengan perasaan berbeda dari konser sebelumnya. Lebih mengharukan tentunya, lebih personal dan akan lebih menikmati lagunya. Dan malam itu, Jikustik membawakan “Bagai Elang” secara live.

Yang membuat saya sulit melupakan momen itu adalah ketika Mas Dadik gitaris Jikustik menyampaikan di atas panggung bahwa lagu tersebut dibawakan untuk saya dan istri saya yang sedang hamil. Saya menggenggam tangan istri saya. Kami tidak banyak bicara. Rasanya sederhana, tetapi dalam. Ternyata Allah mengabulkan doa hamba-Nya di saat waktu yang siap dan di saat yang tepat.

Yang jelas di situ kita bisa mengambil hikmah bahwa ada setiap hikmah yang bisa kita ambil dari setiap kejadian, dan semua akan dikabulkan di saat yang tepat apabila kita ikhlas.

Bagi saya, di situlah makna hubungan antara musisi dan pendengar terasa nyata. Bukan hanya soal lagu yang diputar, tetapi tentang perhatian, tentang ingatan, tentang kepedulian.

Perjalanan Jikustik memang tidak selalu mulus. Pergantian vokalis, perpisahan dengan vokalis pertamanya yaitu Pongki Barata yang sangat melekat dengan identitas awal band ini, hingga kembalinya Icha Jikustik sepeninggal vokalis Brian, semuanya menjadi bagian dari dinamika yang wajar dalam perjalanan panjang. Yang patut dihargai, hubungan baik tetap terjaga. Mereka saling menyapa, saling menghormati. Dan itu tidak selalu mudah dalam dunia hiburan.

Kini saya bukan lagi anak SMP yang mengayuh sepeda ontel. Musik tidak lagi diputar dari kaset pita, tetapi dari ponsel. Namun setiap kali lagu “Puisi” atau “Tetap Percaya” terdengar, saya seperti kembali ke masa itu. Bukan karena nostalgia berlebihan, tetapi karena musik memang punya cara menyimpan kenangan.

Tiga puluh tahun adalah waktu yang panjang. Banyak band tidak sampai sejauh itu. Jikustik mungkin tidak selalu berada di puncak popularitas, tetapi mereka tetap berjalan, tetap berkarya, dan tetap menjaga hubungan dengan penggemarnya.

Saya berharap Jikustik terus berjalan. Tidak perlu selalu besar atau megah. Cukup tetap ada, tetap membuat lagu, dan tetap menjadi bagian dari hidup orang-orang yang tumbuh bersama mereka.

Selamat ulang tahun ke-30, Jikustik. Terima kasih sudah menjadi bagian dari perjalanan hidup saya dari masa remaja, hingga menjadi seorang suami dan ayah. Musik kalian tidak hanya saya dengar, tetapi saya alami.

Terima kasih juga telah menjadi soundtrack perjuangan seorang anak SMP yang rela menahan lapar demi sebuah kaset pita. Terima kasih telah membuktikan bahwa ketulusan, seperti nada yang baik, akan selalu menemukan jalannya untuk tetap hidup. Selamat Ulang Tahun Band Legend.. Teruslah berkarya... (*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.