Buntut Polemik Dwi Sasetyaningtyas, Tasya Kamila Dikritik Usai Beber Kontribusi Sebagai Alumni LPDP
Putra Dewangga Candra Seta March 02, 2026 09:32 AM

 

SURYA.co.id – Nama Tasya Kamila mendadak menjadi sorotan publik setelah ikut bersuara dalam polemik beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

Polemik ini pertama kali mencuat gara-gara pernyataan Dwi Sasetyaningtyas, yang tak lain merupakan alumni LPDP.

Alih-alih menuai simpati, pernyataannya justru memicu kritik tajam dari warganet yang mempertanyakan dampak nyata kontribusinya kepada negara.

Pengakuan Tasya soal Pengabdian Negara Picu Perdebatan

Sebelumnya, Tasya Kamila menegaskan bahwa dirinya telah menjalankan kewajiban pengabdian sebagaimana diatur dalam ketentuan penerima beasiswa LPDP.

Ia menyebut keterlibatannya dalam berbagai kegiatan sosialisasi, khususnya yang berkaitan dengan kepedulian terhadap lingkungan.

WISUDA - Foto wisuda Tasya Kamila usai lulus Program S2 Public Administration in Energy and Environmental Policy di Columbia University pada tahun 2018
WISUDA - Foto wisuda Tasya Kamila usai lulus Program S2 Public Administration in Energy and Environmental Policy di Columbia University pada tahun 2018 (Instagram)

Tak hanya itu, Tasya juga mengaku aktif menghadiri forum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, baik sebagai moderator maupun peserta diskusi internasional.

Melalui unggahan di media sosial, Tasya menyampaikan pernyataan berikut:

"Izin laporan, boss!
Terimakasih @lpdp_ri atas kepercayaannya. Alhamdulillah telah selesai masa bakti.
Bismillah, jangan lelah mencintai negeri. Kita semua punya tempat untuk berkontribusi," tulisnya.

Unggahan tersebut menjadi pemicu perbincangan luas di ruang digital.

Baca juga: Tasya Kamila Disorot Imbas Polemik Dwi Sasetyaningtyas, Ini Aturan Masa Bakti Alumnus Beasiswa LPDP

Kontribusi Disebut Seperti Kegiatan PKK, Netizen Pertanyakan Dampak

Alih-alih mendapat apresiasi, sejumlah netizen justru melontarkan komentar bernada sinis.

Mereka mempertanyakan relevansi dan besarnya dampak dari aktivitas yang dipaparkan Tasya dibandingkan dengan dana pendidikan yang diterimanya.

Salah satu kritik datang dari akun @houseofvya yang secara terbuka menyampaikan keraguannya:

"Mba kok impactnya ga sebesar dana yg dikeluarkan yah? Ini lebih mirip prokeran BEM/kantor, program CSR perusahaan, atau kegiatan ibu2; di lingkungan," tulis akun tersebut.

Komentar ini kemudian menjadi sorotan karena mewakili kegelisahan sebagian publik terkait transparansi dan output nyata penerima beasiswa negara.

Kritik Tak Diabaikan, Tasya Pilih Membalas Terbuka

Penyanyi Tasya Kamila menyelesaikan pendidikan S2 jurusan Public Administration in Energy and Environmental Policy di Columbia University pada tahun 2018 dengan beasiswa LPDP.
Penyanyi Tasya Kamila menyelesaikan pendidikan S2 jurusan Public Administration in Energy and Environmental Policy di Columbia University pada tahun 2018 dengan beasiswa LPDP. (Instagram/Tasya Kamila)

Kritik yang datang tidak dibiarkan berlalu begitu saja.

Tasya Kamila memilih merespons secara terbuka komentar tersebut, menandakan bahwa polemik ini belum berhenti dan masih terus bergulir di media sosial.

Berikut jawaban Tasya Kamila di kolom komentar:

Tasya mengawali pernyataannya dengan permohonan maaf yang jujur mengenai sulitnya memenuhi standar ekspektasi semua orang.

"Huhu maaf ya aku belom bisa penuhin ekspektasi kamu sebagai penerima beasiswa. Alhamdulillah baik LPDP maupun orang-orang yang terdampak lewat berbagai gerakanku berkenan. Tapi aku sadar memang aku gak bisa memenuhi ekspektasi dan menyenangkan hati semua orang. Jujur aku sedih karena usahaku, gerakan akar rumput untuk lingkungan dibilang gak berdampak." tulisnya.

Meski merasa sedih, Tasya menegaskan bahwa langkah-langkah yang ia ambil saat ini merupakan penerapan langsung dari apa yang ia pelajari di Columbia University, khususnya mengenai efektivitas kebijakan publik.

"Aku mempraktikkan keilmuan yang aku dapat di Columbia University, soal bagaimana kebijakan publik bisa efektif dijalankan melalui gerakan akar rumput dan bagaimana publik juga bisa mendorong kebijakan. Kebetulan di tahun 2016, isu SDGs menjadi salah satu prioritas sehingga jurusan kuliahku menjadi salah satu yang diprioritaskan LPDP."

Bagi Tasya, isu lingkungan memerlukan jembatan yang kuat antara pembuat kebijakan dan masyarakat luas.

Ia menekankan bahwa gerakan lingkungan tidak bisa berjalan secara organik tanpa adanya penggerak utama.

"Gerakan-gerakan ini memang bisa dan justru HARUS dikerjakan siapa saja, tapi tetap harus ada yang mau jadi inisiator, amplifier, dan memberikan wadah untuk mengerjakannya. Harus pula ada yang menjembatani antara policymaker dan publik agar pesan tersampaikan sehingga kita tahu apa yang harus dilakukan dan tujuan lingkungan terwujud."

Ia juga menutup pernyataannya dengan menjelaskan bahwa perubahan besar hanya bisa terjadi melalui sinergi lintas sektor, bukan kerja individu semata.

"Dan sebaliknya, dari gerakan akar rumput soal lingkungan yang dibuat ngetrend juga mendorong kebijakan publik pro lingkungan, mendorong demand untuk produk2 dan praktik bisnis yang pro lingkungan. Aku nggak bekerja sendirian, aku berkolaborasi dengan Kementerian dan Lembaga, NGO, sekolah2, ibu2 PKK, termasuk juga CSR perusahaan, untuk membangun dampak yang lebih besar." tuutp Tasya.

Perdebatan ini pun kembali memantik diskusi publik tentang standar kontribusi penerima beasiswa LPDP, ekspektasi masyarakat terhadap figur publik, serta batas penilaian antara kerja sosial, simbolik, dan dampak nyata bagi negara.

Rekam Jejak Jadi Sorotan

Sebelumnya, rekam jejak artis Tasya Kamila sebagai alumnus beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) mendadak jadi sorotan publik.

Hal ini merupakan buntut dari mencuatnya polemik alumnus LPDP bernama Dwi Sasetyaningtyas yang dilatarbelakangi pernyataan kontroversialnya di sosial media.

Menanggapi tudingan yang merembet ke dirinya, Tasya Kamila lantas memberikan pernyataan  melalui media sosialnya.

Buatku, kalian berhak bertanya soal ini! Sebagai sesama rakyat yang membayar pajak, aku sangat mengerti bahwa teman-teman mau ‘investasi’ kita menghasilkan output yang baik buat bangsa,” tulis pelantun lagu lawas berjudul 'Libur Tlah Tiba' itu.

Tasya menempuh pendidikan S2 di Columbia University, mengambil jurusan Public Administration in Energy and Environmental Policy.

Ia lulus delapan tahun lalu.

Bukan tanpa alasan, Tasya memilih jurusan tersebut karena pernah menjabat sebagai Duta Lingkungan Hidup sejak 2005. 

Ia juga mengaku memiliki cita-cita menjadi menteri, sehingga merasa perlu membekali diri dengan ilmu kebijakan publik yang relevan, khususnya di sektor energi dan lingkungan.

Selama studi, Tasya aktif dalam berbagai organisasi internasional. Ia juga sempat magang di Kementerian ESDM serta mengembangkan proyek Desa Mandiri Energi di Sumba, Nusa Tenggara Timur. Studi diselesaikannya tepat waktu dengan IPK 3,75.

Namun perjalanan akademiknya tidak selalu mulus. Di tengah masa ujian, Tasya harus menghadapi kabar duka. Ia tak bisa pulang ke Indonesia saat sang ayah meninggal dunia karena harus menjalani ujian. Setelah menyelesaikan studi, ia kembali ke Tanah Air.

Sebagai penerima LPDP, Tasya menjalani Masa Bakti 2n+1 pada periode 2018–2023.

Ia menyebut ada tujuh kontribusi yang telah dilakukannya.

Selain kembali ke Indonesia dan berperan sebagai jembatan komunikasi antara pemerintah dan publik dalam kapasitasnya sebagai figur publik, Tasya aktif mendorong gerakan keberlanjutan.

Salah satunya melakukan gerakan akar rumput (grassroot movement) untuk keberlanjutan melalui yayasan Green Movement Indonesia,” tulis Tasya.

Berikut ini 7 kontribus Tasya Kamila sebagai penerima beasiswa LPDP:

  1. Kembali ke Indonesia setelah lulus studi dan memenuhi kewajiban Masa Bakti 2n+1 periode 2018–2023.
  2. Berperan sebagai jembatan antara pemerintah dan publik dalam kapasitasnya sebagai figur publik, khususnya pada isu kebijakan dan keberlanjutan.
  3. Menginisiasi gerakan akar rumput (grassroot movement) di bidang keberlanjutan melalui yayasan Green Movement Indonesia.
  4. Mengembangkan dan terlibat dalam proyek Desa Mandiri Energi di Sumba, Nusa Tenggara Timur, sebagai bagian dari kontribusi nyata di sektor energi dan lingkungan.
  5. Memberdayakan pemuda Indonesia lewat talkshow, seminar, dan workshop yang membahas pendidikan, lingkungan hidup, dan kesehatan.
  6. Menggunakan platform media sosial untuk edukasi publik, khususnya terkait pentingnya menjaga lingkungan dan keberlanjutan.
  7. Mendorong kontribusi modern berbasis pengaruh digital, yakni menggerakkan semangat publik hingga mendorong aksi yang dapat berdampak pada kebijakan (policy), bukan hanya melalui jalur konvensional seperti bekerja di kantor pemerintahan.

Tasya menegaskan, kontribusi penerima LPDP tak selalu berbentuk pekerjaan formal di kantor pemerintahan.

Baik itu secara konvensional (seperti bekerja di kantor), maupun secara modern (seperti menjadi influencer yang bisa menggerakkan semangat hingga suatu aksi bisa menjadi policy, and vice versa),” lanjut Tasya.

Istri Randi Bachtiar itu juga menepis anggapan bahwa peran sebagai ibu rumah tangga membatasi kontribusinya.

Menurutnya, pemanfaatan media sosial justru menjadi cara efektif untuk menjangkau lebih banyak masyarakat dan mendorong perubahan perilaku.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.