Oleh: Yudi Septiawan - Dosen Prodi Hubungan Internasional Universitas Bangka Belitung
KETEGANGAN Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali memunculkan kekhawatiran dunia. Ancaman perang, sanksi ekonomi, kondisi geopolitik Timur Tengah sepertinya akan terus bergulir. Hal ini dikarenakan AS punya ambisi besar dalam mencapai kepentingan strategisnya; energi, stabilitas geopolitik, serta yang paling getol yaitu AS mencoba mempertahankan pengaruh globalnya, khususnya di Timur Tengah.
Selain faktor energi, AS juga ingin menunjukkan bahwa mereka masih menjadi negara superpower. Padahal, peta kekuatan dunia saat ini sudah bergeser dan malah cenderung multipolar yang secara tidak langsung menegaskan bahwa kekuatan AS tidak lagi absolut. Kondisi inilah yang menjadi sebab lain mengapa invasi ini terjadi, untuk menunjukkan eksistensi AS.
Konflik memang terjadi di Timur Tengah. Namun, dampaknya bukan hanya dirasakan oleh kedua belah negara yang sedang berkonflik dan sekutunya saja, tetapi juga global. Oleh sebab itu, penulis merumuskan beberapa efek domino dari konflik Iran-AS yang berpotensi terjadi:
1. Perluasan konflik di Timur Tengah
Dalam beberapa hari terakhir, pangkalan militer AS di Timur Tengah manjadi sasaran rudal-rudal Iran, seperti di Qatar dan Bahrain. Dengan terlibatnya beberapa aktor dalam konflik Iran-AS, maka konflik akan berubah menjadi konflik kawasan (perang kawasan). Namun, penulis memprediksi bahwa negara-negara tetangga terdampak seperti Qatar, Saudi Arabia, Bahrain, tidak akan menyerang balik Iran. Ini dikarenakan sebagian besar ekspor minyak mereka melewati Selat Hormuz yang menjadi wilayah Iran. Dalam Teori Rational Choice, negara akan bertindak berdasarkan kepentingan nasionalnya. Oleh sebab itu, jika Iran diserang, maka ekspor minyak akan lumpuh, dan ekonomi dalam negeri negara-negara tersebut akan terguncang.
2. Krisis energi global
Seperti poin 1, dampak paling serius dari konflik Iran-AS adalah ancaman terhadap jalur energi dunia, terutama Selat Hormuz. Jika selat yang selalu ramai dilalui tanker ini terganggu atau ditutup, harga minyak dapat melonjak tajam dan memicu krisis energi global. Faktanya, per 1 Maret 2026, Pasukan Garda Revolusi Islam Iran menutup jalur Hormuz dan meminta kapal-kapal tanker untuk keluar dari jalur Hormuz. Potensinya, lonjakan harga minyak dunia akan terjadi dan tentu akan menganggu stabilitas ekonomi global.
3. Perlombaan senjata dan ketegangan militer
Selain krisis energi, konflik ini juga dapat memicu arms race (perlombaan persenjataan) di Timur Tengah. Dengan hadirnya konflik Iran-AS, negara-negara tetangga Iran, seperti Irak, Kuwait, Bahrain, Oman, Saudi Arabia, akan berupaya memperkuat program militer untuk menjaga keamanan mereka. Selaras dengan Teori Balance of Power (Morgenthau), sebuah negara akan menjaga keseimbangan kekuatan jika merasa terancam, baik dengan beraliansi maupun meningkatkan persenjataannya. Apabila ini terjadi, maka potensi ketegangan militer di kawasan dalam jangka panjang akan terus berlangsung.
Untuk Indonesia, konflik ini lambat laun akan berdampak pada kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang pada akhirnya menekan anggaran negara serta mengganggu stabilitas perdagangan global. Sebagai salah satu negara pengimpor energi, Indonesia sangat rentan terhadap lonjakan harga minyak dunia akibat konflik antara Iran-AS. Artinya, pemerintah perlu memperkuat diplomasi ekonomi dan energi guna memastikan stabilitas pasokan energi dalam negeri.
Langkah itu penting untuk mengantisipasi gejolak harga energi global yang dapat merembet pada inflasi dan tekanan fiskal nasional. Tanpa langkah antisipatif yang tepat, bukan tidak mungkin lonjakan harga minyak dunia akan mendorong kenaikan harga BBM secara tajam dan memicu gejolak ekonomi domestik.
Di sisi lain, Prof. Connie Rahakundini (Guru Besar Hubungan Internasional) menyarankan Presiden Prabowo untuk keluar dari Board of Peace War karena apa yang dilakukan AS saat ini terhadap Iran bukan upaya untuk menjaga perdamaian dunia, malah menciptakan kekacauan dunia. Posisi Indonesia sebagai Wakil Board of Peace harus jelas, mendukung atau menentang AS.
Namun, sebuah seloroh menarik dari Dino Patti Djalal (mantan diplomat dan pengamat hubungan internasional) menyatakan bahwa teman-temanya di Washington bilang kalau serangan AS ke Iran ini hanya untuk mengaburkan kasus Epstein Files yang menyeret nama Donald Trump. Tetapi ini hanya spekulasi.
Akhirnya, konflik Iran-AS menyisakan catatan bahwa ketika sebuah negara superpower berhadapan dengan negara yang mempunyai bargain energi, maka yang terjadi adalah negosiasi dan diplomasi. Ketika keduanya buntu, maka cara terakhir adalah perang. Dan, apabila ini terus terjadi, maka stabilitas ekonomi, energi, dan keamanan global akan terdampak. (*)