TRIBUNSOLO.COM, BOYOLALI - Masjid kuno di Dukuh Glinggang, Desa Kendel, Kecamatan Kemusu, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, dikenal sebagai Masjid Jami Jalaluddin.
Masjid ini konon pernah menjadi tempat pertapaan Raden Said, yang lebih dikenal sebagai Sunan Kalijaga.
Hingga kini, masjid ini masih berdiri kokoh dan menjadi saksi bisu sejarah panjang perkampungan setempat.
Baca juga: Sejarah Opor Ayam, Hidangan Khas Lebaran di Solo yang Dibawa Bangsa India-Arab pada Masa Lampau
Masjid ini tergolong unik karena seluruh bangunannya menggunakan kayu jati asli dari wilayah sekitarnya.
Usianya diperkirakan sudah ratusan tahun, menjadikannya salah satu warisan budaya dan spiritual yang bernilai tinggi bagi warga setempat.
Masjid Jami Jalaluddin memiliki struktur yang khas:
Seluruh dinding, tangga, dan lantai masjid terbuat dari kayu jati, memberikan kesan klasik dan menenangkan bagi pengunjung.
Baca juga: Asal-Usul Masjid Agung Kauman Sragen, Salah Satu Masjid Tertua di Bumi Sukowati
Masjid ini memiliki tingkat satu, dengan bagian atas dulu khusus digunakan untuk mengaji Alquran.
Menurut cerita, pengajian dilakukan di atas karena dianggap lebih sopan daripada di bawah, mengingat posisi jamaah di atas bisa memengaruhi ketenangan yang ada di bawah.
Konon, pembangunan masjid ini bukan hal yang mudah.
Kayu jati yang digunakan untuk mendirikan masjid disebut sakral dan diperoleh dengan cara khusus:
Selain itu, sebagian kayu jati merupakan peninggalan Raden Said, yang hingga kini masih disimpan dalam kotak kayu di dekat mimbar masjid.
Peninggalan ini dijaga oleh tokoh masyarakat setempat sebagai simbol sejarah dan spiritual masjid.
Baca juga: Asal-usul Deles Indah yang Kini jadi Wisata Hits di Klaten, Namanya Konon Diambil dari Daendels
Masjid Jami Jalaluddin sempat digunakan sebagai tempat bertapa Raden Said dan juga mengalami masa terbengkalai.
Berkat kepedulian warga, masjid kemudian dibersihkan dan dirawat sebagai tempat ibadah.
Meski usianya sudah ratusan tahun, masjid ini masih kokoh.
Renovasi hanya dilakukan dua kali, yakni pada menara bagian barat dan area tempat imam. Bagian lain masih asli dan terawat dengan baik.
Masjid ini memiliki ukuran 20 meter x 40 meter, dan pada bulan suci Ramadan selalu ramai dikunjungi jamaah untuk beribadah dan kegiatan keagamaan.
Dengan bertambahnya waktu, masyarakat Dukuh Glinggang kini semakin banyak yang menekuni ilmu agama di pondok pesantren, sehingga masjid juga berfungsi sebagai pusat pendidikan spiritual bagi warga sekitar.
(*)