Asal-usul Masjid Jami Jalaluddin di Kemusu Boyolali : Dipercaya Dulu Tempat Pertapaan Sunan Kalijaga
Hanang Yuwono March 02, 2026 11:12 AM

 

TRIBUNSOLO.COM, BOYOLALI - Masjid kuno di Dukuh Glinggang, Desa Kendel, Kecamatan Kemusu, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, dikenal sebagai Masjid Jami Jalaluddin.

Masjid ini konon pernah menjadi tempat pertapaan Raden Said, yang lebih dikenal sebagai Sunan Kalijaga.

Hingga kini, masjid ini masih berdiri kokoh dan menjadi saksi bisu sejarah panjang perkampungan setempat.

Baca juga: Sejarah Opor Ayam, Hidangan Khas Lebaran di Solo yang Dibawa Bangsa India-Arab pada Masa Lampau

Masjid ini tergolong unik karena seluruh bangunannya menggunakan kayu jati asli dari wilayah sekitarnya.

Usianya diperkirakan sudah ratusan tahun, menjadikannya salah satu warisan budaya dan spiritual yang bernilai tinggi bagi warga setempat.

Arsitektur dan Keunikan Bangunan

Masjid Jami Jalaluddin memiliki struktur yang khas:

  • Tangga dan bangunan luar: Terdapat tiga tangga di bagian luar, dengan dua tangga di sisi kiri dan satu tangga di sisi kanan masjid.
  • Makam pendiri: Di sebelah barat masjid terdapat dua makam pendiri masjid yang diberi pagar sebagai tanda penghormatan.
  • Jendela dan lafal Al-Qur’an: Tepat di sisi kanan dan kiri tempat imam terdapat hiasan dua lafal Al-Qur’an yang menggambarkan posisi manusia sedang sholat.
  • Tempat wudhu: Awalnya jamaah menggunakan gayung untuk wudhu, meski sebagian sekarang sudah dilengkapi dengan kran modern.

Seluruh dinding, tangga, dan lantai masjid terbuat dari kayu jati, memberikan kesan klasik dan menenangkan bagi pengunjung.

Baca juga: Asal-Usul Masjid Agung Kauman Sragen, Salah Satu Masjid Tertua di Bumi Sukowati

Masjid ini memiliki tingkat satu, dengan bagian atas dulu khusus digunakan untuk mengaji Alquran.

Menurut cerita, pengajian dilakukan di atas karena dianggap lebih sopan daripada di bawah, mengingat posisi jamaah di atas bisa memengaruhi ketenangan yang ada di bawah.

Proses Pembangunan yang Penuh Pengorbanan

Konon, pembangunan masjid ini bukan hal yang mudah.

Kayu jati yang digunakan untuk mendirikan masjid disebut sakral dan diperoleh dengan cara khusus:

  • Puasa dan doa selama dua tahun dilakukan untuk mendapatkan kayu jati yang layak.
  • Setiap kayu yang digunakan dianggap bukan sembarang kayu, melainkan hasil usaha penuh pengorbanan.

Selain itu, sebagian kayu jati merupakan peninggalan Raden Said, yang hingga kini masih disimpan dalam kotak kayu di dekat mimbar masjid.

Peninggalan ini dijaga oleh tokoh masyarakat setempat sebagai simbol sejarah dan spiritual masjid.

Baca juga: Asal-usul Deles Indah yang Kini jadi Wisata Hits di Klaten, Namanya Konon Diambil dari Daendels

Masa Lalu dan Perawatan Masjid

Masjid Jami Jalaluddin sempat digunakan sebagai tempat bertapa Raden Said dan juga mengalami masa terbengkalai.

Berkat kepedulian warga, masjid kemudian dibersihkan dan dirawat sebagai tempat ibadah.

Meski usianya sudah ratusan tahun, masjid ini masih kokoh.

Renovasi hanya dilakukan dua kali, yakni pada menara bagian barat dan area tempat imam. Bagian lain masih asli dan terawat dengan baik.

Ukuran dan Aktivitas Ibadah

Masjid ini memiliki ukuran 20 meter x 40 meter, dan pada bulan suci Ramadan selalu ramai dikunjungi jamaah untuk beribadah dan kegiatan keagamaan.

Dengan bertambahnya waktu, masyarakat Dukuh Glinggang kini semakin banyak yang menekuni ilmu agama di pondok pesantren, sehingga masjid juga berfungsi sebagai pusat pendidikan spiritual bagi warga sekitar.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.