Ramadhan Bulan untuk Reparasi dan Pembersihan Hati
Muliadi Gani March 02, 2026 12:54 PM

Oleh: Ustaz Sofyan Lestaluhu, SE., MM., MH

PROHABA.CO - Pemirsa, Tribuners yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala, soimin dan soimat yang melaksanakan ibadah puasa yang berbahagia.

Alhamdulillah, alhamdulillahi, Ahmaduhu Subhanahu wa Ta’ala wa atubu ilaihi mutawakkilan ilaihi mu’tamidan.

Asyhadu an la ilaha illallah wahdahu la syarika lah, wa asyhadu anna sayyidina wa nabiyyina Muhammadan ‘abduhu.

Terima kasih. Yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala, pertama-tamamarilah kita panjatkan puji dan syukur kita ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala atas berbagai limpahan kenikmatan yang tidak pernah berhenti dikucurkannya kepada kita sekalian.

Kenikmatan yang tidak mungkin bagi kita untuk menghitung-hitungnya, terutama nikmat iman dan Islam, nikmat rezeki, dan kesehatan, serta kesempatan sehingga pada hari ini kita masih dapat melaksanakan ibadah puasa di tahun ini, 1447 Hijriah.

Soimin dan soimat, Tribuners yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kesempatan sore hari ini kita akan berbicara tentang puasa. Puasa adalah bulan yang dapat mengobati hati kita. Puasa adalah bulan reparasi.

Puasa hadir ke tengah-tengah kita untuk memberikan sentuhan yang baru terhadap kepribadian kita, terhadap akhlak kita, terhadap tingkah laku kita.

Soimin dan soimat yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala. 

Ada tiga tingkatan kepribadian atau akhlak kita yang dapat kita soroti di dalam kehidupan ini.

Baca juga: Panggilan Keimanan di Bulan Ramadhan

Yang pertama adalah akhlakul hasanah.

Apa itu akhlakul hasanah? Akhlakul hasanah adalah apabila orang lain memberikan suatu kebaikan kepada kita dan kita akan membalasnya dengan kebaikan yang sama.

Kemudian yang kedua adalah akhlakul karimah.

Akhlakul karimah adalah apabila orang lain memberikan suatu kebaikan kepada kita dan kita akan membalasnya dengan kebaikan yang lebih besar daripada apa yang sudah diberikan kepada kita.

Dan yang ketiga adalah akhlakul azimah. 

Akhlakul azimah adalah apabila orang lain melakukan suatu kejahatan kepada kita, menzalimi kita, memfitnah kita, berbuat suatu kejahatan dan kezaliman terhadap kita, namun kita tidak pernah membalasnya dengan kejahatan yang sama, tidak kembali memfi tnah orang itu, tidak kembali melakukan suatu kemungkaran kepada orang itu, namun kita tetap membalasnya dengan kebaikan.

Soimin dan soimat, Tribuners yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Puasa hadir sebagai bulan muhasabah, memberikan kita suatu pelatihan, memberikan kita suatu pelajaran bahwa kita di bulan ini harus belajar untuk memperbaiki hati kita, supaya kita tidak benci dengan orang lain, kita tidak perlu membalas orang lain yang berbuat kejahatan kepada kita.

Puasa adalah obat untuk mengobati seluruh dan segala penyakit hati yang ada pada kita.

Inilah alasan mengapa Allah Subhanahu wa Ta’ala mewajibkan kita untuk berpuasa. 

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu.” Soimin dan soimat yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Bulan puasa ini ibarat sebuah aliran sungai yang mengalir dengan aliran ketaatan.

Bulan yang harinya selalu dipenuhi dengan kebaikan dan kebahagiaan. Bulan yang malamnya selalu bersinar dengan lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an.

Ada sebuah pertanyaan besar untuk kita pada sore hari ini: mengapa Allah Subhanahu wa Ta’ala mewajibkan kita manusia, khususnya kaum muslimin dan muslimat, khusus lagi orang-orang yang beriman, untuk berpuasa?

Jawabannya adalah untuk kita memperbaiki atau mereparasi hati kita.

Baca juga: Sabar: Ibadah Sunyi yang Pahalanya Besar

Ada sebuah riwayat yang disampaikan oleh Hasan Al Kautbawi di dalam bukunya Duratun Naasihin, bahwa ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan akal dan nafsu, yang pertama kali dipanggil oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah akal.

Ketika akal berdiri di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala, Allah berkata kepada akal: “Wahai akal, man ana wa man anta? Siapakah Aku dan siapakah engkau?” Akal menjawab dengan jelas.

Mendengar jawaban ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala langsung memuliakan akal.

Kemudian yang kedua, giliran Allah Subhanahu wa Ta’ala memanggil nafsu dengan pertanyaan yang sama. Allah berkata kepada nafsu: “Siapakah Aku dan siapakah engkau?” 

Dengan sombong nafsu menjawab: “Engkau adalah Engkau dan aku adalah aku.”

Mendengar jawaban ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala memasukkan nafsu ke dalam neraka Jahim selama 100 tahun lamanya.

Tribuners yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Setelah 100 tahun berlalu, Allah Subhanahu wa Ta’ala kemudian memanggil nafsu kembali, masih dengan pertanyaan yang sama: “Wahai nafsu, siapakah Aku dan siapakah engkau?”

Masih dengan gagah dan sombongnya, nafsu berkata kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Ana wa ana, anta wa anta.

Aku adalah aku dan Engkau adalah Engkau.” Mendengar jawaban ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala sangat marah dan murka kepada nafsu, dan pada akhirnya Allah Subhanahu wa Ta’ala memasukkan nafsu ke dalam neraka Ju.

Apa itu neraka Ju?

Soimin dan soimat, Tribuners yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Neraka Ju adalah neraka yang isinya orang-orang kelaparan, neraka yang isinya orang-orang yang kehausan.

Tidak ada makan dan minum di sana. Dan pada akhirnya, dengan berpuasa, tidak ada makan dan minum, nafsu tidak punya tenaga, tidak punya kuasa.

Nafsu lemah, dan akhirnya sadar, lalu kembali ke hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan berkata: “Wahai Tuhanku, anta Rabbi dan aku adalah hamba-Mu.”

Dengan demikian, puasa merupakan bulan reparasi. Puasa memperbaiki hati kita dengan mengalahkan setiap tindakan-tindakan yang tidak baik yang dipengaruhi oleh nafsu kita.

Kesimpulannya adalah, di dalam hidup ini jangan sekali-kali menjadikan nafsu menjadi pemimpin atas diri kita.

Tetapi di dalam kehidupan ini kita harus menjadikan hati sebagai pemimpin atas diri kita.

Maka berbahagialah mereka yang selama hidupnya selalu menjadikan hati dan akalnya menjadi pemimpin atas dirinya.

Soimin dan soimat yang berbahagia, Tribuners yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala, itulah beberapa hal yang saya sampaikan pada kesempatan sore hari ini sebelum kita berbuka. Mudah-mudahan dapat memberikan pencerahan bagi kita semua.

Lebih kurangnya saya mohon maaf. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. (*)

Baca juga: Ramadhan, Menyempurnakan Hubungan Sesama Manusia

Baca juga: Keutamaan Shalat Tarawih Malam ke-12 Ramadhan, Pada Hari Kiamat Wajah Bersinar Seperti Bulan Purnama

Baca juga: Khutbah Jumat oleh Drs. Nasri Lisma : Menyucikan Hati, Menjaga Alam, dan Menegakkan Shalat

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.