TRIBUNSUMSEL.COM - Pasangan artis Meisya Siregar dan Bebi Romeo hingga kini masih berada di kota Mekkah, Arab Saudi di tengah panasnya serangan yang dilancarkan Amerika-Israel terhadap Iran.
Meisya Siregar menceritakan upaya pencarian tiket ini seperti sedang melakukan "war tiket" karena banyaknya jadwal yang penuh dan dibatalkan.
Meski sempat tertahan di Arab setelah umrah, Meisya mengonfirmasi telah mendapatkan jadwal penerbangan langsung (direct flight).
Ia memilih menggunakan maskapai Saudia atau Garuda Indonesia yang menyediakan rute langsung Jeddah/Madinah ke Jakarta.
"Dapet nih aku direct tanggal 3, bismillah yah," tulisnya, Senin, (2/3/2026).
Diketahui, imbas dari perang tersebut, Meisya Siregar dan Bebi Romeo belum bisa pulang ke tanah air dan harus tertahan di kota Makkah Arab Saudi usai ibadah umrah.
Meisya dan Bebi termasuk 58.000 jemaah umrah asal Indonesia yang masih ada di Arab Saudi setelah perang Iran Vs Amerika meletus sejak Sabtu (28/2/2026).
Keduanya mengabarkan berangkat ke Tanah Suci sejak sepekan lalu. Meisya dan Bebi berangkat umrah hanya berdua.
Ia mengabarkan bahwa penerbangan mereka menuju Dubai, Uni Emirat Arab (UEA), yang sedianya dijadwalkan pada 2 Maret 2026, dibatalkan secara mendadak oleh maskapai Emirates.
"Trus, nasib kite gimana ini pesawat di cancel ga bisa pulang ??? Airspace UEA closed untuk waktu yg ga pasti," tulis Meisya dikutip dari instagramnya, Senin (2/3/2026).
Baca juga: Pasca Iran Diserang, Kanwil Haji & Umrah Sumsel Imbau Jemaah Tenang, Bagikan Sejumlah Langkah
Meisya pun pasrah dan berserah diri akan nasib yang dialaminya.
Ia pun meminta doa.
"Doain yah temen2, Allah kasih Qadar yg baik untuk para jamaah yg ga bisa pulang. jujur kita msh clueless nih. Berserah aja di rumah Allah.
Allah jaga anak2, dan kasih plan yg terbaik."
Sebelumnya, Meisya seharusnya dijadwalkan kembali ke Indonesia menggunakan maskapai Emirates dengan transit di Dubai, namun bandara dunia telah menutup akses.
Jubir Kementerian Haji dan Umrah Senin (2/3/2026) Ichsan Marsha mejelaskan jika perang menyebabkan sejumlah penerbangan ditutup.
58 ribu lebih jamaah kita masih tertahan di Arab Saudi," ucap Ichsan.
Jalur udara mengkhawatirkan sehingga membuat maskapai penerbangan membatalkan penerbangan.
Pemerintah melalui Kementerian Haji dan Umrah bersikap.
Imbauan mengenai penundaan pemberangkatan umrah dikeluarkan atas pertimbangan aspek keselamatan dan perlindungan jemaah.
Wakil Menteri Haji dan Umrah RI (Wamenhaj), Dahnil Anzar Simanjuntak menegaskan, langkah ini merupakan bentuk kehati-hatian pemerintah dalam memastikan keamanan warga negara.
“Mempertimbangkan kondisi Timur Tengah yang tidak menentu dan eskalasinya semakin tinggi, kami mengimbau jemaah umrah yang akan berangkat dalam waktu dekat untuk menunda keberangkatannya,” ujar Dahnil Anzar Simanjuntak di Jakarta, Minggu (1/3/2026), dilansir dari Tribunnews.com.
Dikutip dari keterangan resmi Kemenhaj RI, pemerintah juga meminta seluruh jemaah umrah yang saat ini tengah berada di Arab Saudi beserta keluarga di Tanah Air agar tetap tenang dan tidak panik.
Baca juga: AS-Israel Vs Iran Memanas, Nasib 58 Ribu Jemaah Asal Indonesia Tertahan di Arab Saudi
Kementerian Haji dan Umrah RI bersama Kementerian Luar Negeri RI berkoordinasi dengan otoritas Arab Saudi, maskapai penerbangan, dan Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) guna memastikan jemaah yang mengalami penundaan kepulangan dapat tertangani dengan baik.
Termasuk agar para jemaah umrah tersebut memeroleh akomodasi yang memadai dan aman.
“Kami terus berkoordinasi dengan pihak Arab Saudi, maskapai, dan PPIU agar jemaah yang tertunda kepulangannya dapat ditampung di hotel maupun tempat-tempat lain yang aman dan layak,” tambah Dahnil.
Ichsan mengatakan pihaknya berupaya agar para jemaah ini bisa pulang.
"Berkaitan dengan skema, kita akan lakukan koordinnasi dengan PPU selaku penanggung jawab pemberangkatan dan pemulangan jamaah dan juga otoritas penerbangan," katanya.
"Karena ini berkaitan dengan penutupan ruang udara di berbagai negara transit," imbuhnya.
Pihaknya masih berupa opsi-opsi sesuai situasi di lapangan dan tentunya menitikberatkan pada keselamatan para jemaah.
Seperti opsi menggunakan mekanisme pengalihan rute penerbangan, penjadwalan ulang kepulangan atau yang lainnya.
Termasuk pula terus berkoordinasi dengan pihak di Arab Saudi memikirkan akomodasi jika para jemaah Indonesia ini tertahan cukup lama di Arab Saudi.
"Untuk pengawasan dari kita kepada jamaah juga telah membentuk tiga tim yang dihadirkan di Terminal 1, Terminal 2 dan Terminal Haji di Jeddah untuk berkoordinasi dan memantau jamaah kita yang berada di tanah suci," katanya.
"Kita sudah melakukan pendataan, kita imbau akomodasi yang layak untuk jamaah. Sudah ada tim-tim yang membersamai jamaah kita di sana," ungkapnya.
Duka warga Iran syok dan sedih setelah tersiar kabar bahwa Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei meninggal pada Sabtu (28/2/2026).
Ayatollah Khamenei tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat (AS)-Israel di Teheran.
Iran menetapkan masa berkabung 40 hari untuk mengenangnya.
Dalam video yang diunggah Palestine Chronicle dikutip Kompas.com, sejumlah warga Iran di Masjid Imam Reza Mausoleum tampak sangat berduka.
"Suasana di kompleks makam suci Imam Reza di Mashhad berubah menjadi sangat berduka setelah pengumuman kemartiran Ayatollah Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran," tulis Palestine Chronicle di caption.
Para jemaah berkumpul dalam keadaan syok dan berduka di dalam kompleks suci tersebut.
Iran diserang AS-Israel
Sebelumnya, AS dan Israel melancarkan serangkaian serangan terhadap target di Iran pada hari Sabtu.
Serangan ini memicu ledakan di ibu kota Teheran dan peningkatan ketegangan di seluruh kawasan.
Tak lama kemudian, Presiden AS Donald Trump mengunggah pernyataan video yang mengumumkan operasi tempur AS di Iran, dengan tujuan menghilangkan ancaman yang akan segera terjadi.
Laporan lapangan menunjukkan asap tebal mengepul di atas distrik Pasteur, Teheran, yang merupakan lokasi kediaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Otoritas Iran pun segera melakukan pengerahan keamanan besar-besaran di ibu kota.
Pihak AS dan Israel menegaskan bahwa operasi ini menargetkan situs-situs militer.
Militer Israel juga mengeluarkan peringatan agar warga sipil Iran menjauhi infrastruktur militer demi menghindari korban jiwa.
Disebutkan bahwa serangan tersebut merupakan tindak lanjut dari perencanaan bersama selama berbulan-bulan antara AS dan Israel.
Ikuti dan bergabung di saluran WhatsApp Tribunsumsel