Oleh: Irma Al Qodriyah Imdam, S.Pi., S.Pd. - Pengajar di TKIT CAHAYA, Toboali
PENDIDIKAN merupakan salah satu pilar utama dalam pembangunan bangsa. Hari ini, pendidikan bukan lagi sekadar soal nilai ujian. Anak-anak hidup di tengah derasnya arus globalisasi dan isu-isu kontemporer seperti perubahan iklim, perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI), tekanan sosial, serta meningkatnya kasus kesehatan mental pada anak dan remaja. Oleh karena itu, pendidikan dituntut untuk beradaptasi.
Sekolah harus jadi tempat yang bukan hanya mengajarkan matematika, sekolah bisa mengajarkan cara menjaga bumi, menggunakan teknologi dengan bijak, dan merawat kesehatan mental. Pendidikan tidak lagi sekadar transfer pengetahuan, sekaligus proses pembentukan karakter, keterampilan hidup, dan kemampuan berpikir kritis.
Perkembangan teknologi AI juga sudah masuk ke kehidupan sehari-hari. Anak-anak perlu diajarkan cara menggunakan teknologi untuk hal positif, bukan sekadar hiburan, sehingga menuntut literasi digital agar anak mampu memilah informasi dan menggunakan teknologi secara produktif.
Kesehatan mental juga menjadi isu penting. Sekolah bisa menyediakan ruang tenang, kegiatan mindfulness, atau sekadar waktu untuk berbagi cerita. Erikson menekankan bahwa tahap perkembangan psikososial anak membutuhkan dukungan emosional agar anak dapat membangun identitas yang sehat.
Di tengah maraknya intoleransi, pendidikan menjadi benteng. Polarisasi sosial dan krisis identitas budaya menuntut pendidikan yang inklusif. Vygotsky menekankan pentingnya interaksi sosial dalam pembelajaran. Sekolah harus menjadi ruang aman untuk dialog dan toleransi.
Pendidikan berbasis budaya lokal, seperti penggunaan cerita rakyat dan tradisi, serta permainan sederhana dapat memperkuat identitas sekaligus menumbuhkan sikap menghargai keberagaman. Anak-anak belajar bahwa keberagaman adalah kekayaan, bukan ancaman. Hal ini sejalan dengan konsep pendidikan karakter harus ditanamkan sejak dini yang menekankan nilai universal seperti empati, kejujuran, dan tanggung jawab. Pendidikan karakter juga penting: empati, kejujuran, dan tanggung jawab.
Teknologi digital membawa peluang sekaligus tantangan. Gawai dan media sosial sudah jadi bagian hidup anak-anak. Anak-anak mudah terpapar hoaks dan kecanduan gawai. Pendidikan harus mengajarkan literasi digital dan guru berperan sebagai fasilitator yang membantu anak memilah informasi dan menggunakan teknologi sebagai alat kreatif, bukan sekadar hiburan. Literasi digital harus menjadi bagian integral kurikulum. Montessori menekankan pentingnya pembelajaran yang berpusat pada anak, seperti guru bisa mengajak anak dan memberi kesempatan untuk bereksperimen dengan coding, aplikasi interaktif, dan media kreatif untuk sains.
Sentuhan spiritual juga penting dalam pendidikan. Mengajarkan syukur, doa, atau refleksi sederhana bisa membantu anak lebih kuat mengembangkan keseimbangan emosional dan moral. Hal ini sejalan dengan pendekatan holistik Montessori yang menekankan integrasi aspek kognitif, sosial, dan spiritual. Nilai spiritual bukan hanya soal agama, tetapi juga tentang menemukan makna hidup.
Pendidikan adalah harapan, pendidikan harus adaptif terhadap isu-isu aktual dengan tetap berlandaskan teori perkembangan anak. Dengan menggabungkan pengetahuan, karakter, budaya, teknologi, dan spiritualitas, maka bisa melahirkan generasi yang siap, generasi yang tangguh, kritis, dan berkarakter dan siap menghadapi dunia.
Guru, orang tua, dan masyarakat perlu berkolaborasi agar pendidikan menjadi gerakan bersama. Dengan demikian, pendidikan dapat menjadi harapan masa depan yang mampu menjawab tantangan global sekaligus membentuk manusia seutuhnya. Pendidikan bukan hanya tanggung jawab sekolah, dan juga tanggung jawab semua pihak. (*)