BANGKAPOS.COM--Gejolak geopolitik di Timur Tengah usai serangan militer Amerika Serikat dan Israel ke Iran yang menewaskan Ali Khamenei diperkirakan berdampak luas terhadap ekonomi global, termasuk Indonesia.
Salah satu efek langsung yang mulai terasa adalah potensi kenaikan harga minyak mentah dunia yang bisa berimbas pada harga bahan bakar minyak (BBM).
Sebelumnya, Pertamina telah menaikkan harga BBM non-subsidi mulai 1 Maret 2026. Di wilayah Jabodetabek, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, harga Pertamax (RON 92) naik dari Rp 11.800 menjadi Rp 12.300 per liter.
Kenaikan juga terjadi pada Pertamax Green 95, Pertamax Turbo, Dexlite, hingga Pertamina Dex.
Pertamina baru saja menaikkan harga BBM non subsidi mulai 1 Maret 2026.
Berdasarkan pengumuman di laman resmi Pertamina.com, Sabtu (28/2/2026), harga terbaru BBM di
SPBU Pertamina adalah sebagai berikut untuk wilayah Jabodetabek, Jawa, Bali dan Nusa Tenggara:
Dengan memanasnya konflik, para analis memperkirakan harga BBM masih berpotensi kembali naik jika harga minyak mentah dunia terus merangkak.
Guru Besar Universitas Airlangga, Rahma Gafmi, menilai posisi Iran sangat strategis karena berada di jalur vital distribusi energi global, yakni Selat Hormuz.
Sekitar 20–30 persen produksi minyak global atau sekitar 20 juta barel per hari melintasi jalur tersebut.
Jika Selat Hormuz terganggu atau ditutup, pasokan minyak dunia akan tertekan dan harga berpotensi melonjak tajam.
Selain itu, jalur strategis lain seperti Bab el-Mandeb juga rawan terdampak eskalasi konflik.
“Jika Selat Hormuz ditutup, maka akan berdampak besar pada pasokan minyak global, yang dapat menyebabkan kenaikan harga minyak dan mengganggu ekonomi global,” ujar Rahma kepada Kontan, Minggu (1/3/2026).
Rahma menegaskan, Selat Hormuz bukan sekadar jalur perairan biasa, melainkan titik cekik (choke point) ekonomi dunia.
Meski lebarnya hanya sekitar 21 mil, jalur ini menjadi urat nadi distribusi energi global, termasuk pasokan LNG untuk Eropa.
Artinya, bahan bakar untuk kendaraan, pesawat, hingga industri manufaktur di berbagai negara sangat bergantung pada stabilitas jalur ini.
Selain Selat Hormuz, Bab el-Mandeb yang terletak di antara Yaman dan Djibouti juga merupakan jalur strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.
Gangguan di kawasan ini akan memperparah tekanan terhadap perdagangan global.
“Sejarah membuktikan, pada Perang Tanker 1980-an dan ketegangan 2019, serangan terbatas saja sudah membuat harga minyak melonjak tajam,” kata Rahma.
Ekonom memprediksi harga minyak WTI berpeluang naik ke kisaran US$ 65–US$ 70 per barel, bahkan bisa menembus US$ 80 jika konflik meluas.
Kenaikan tersebut berisiko memicu koreksi di pasar saham dan obligasi global.
Skenario Harga Minyak dan Risiko Koreksi Global
Ekonom Bright Institute Yanuar Rizky menilai, bulan Maret biasanya menjadi periode re-balancing portofolio hedge fund, yang kerap memicu koreksi pasar.
Menurutnya, sebelum serangan terjadi, outlook rebalancing Maret–Mei sudah memasukkan harga minyak sebagai variabel kunci, dengan tiga skenario harga minyak WTI:
1. Di bawah US$ 65 per barel
2. US$ 65 – US$ 70 per barel
3. Di atas US$ 70 per barel
Dengan eskalasi konflik Iran, Yanuar melihat peluang harga WTI masuk ke skenario moderat US$ 65–US$ 70 per barel, bahkan berisiko melonjak di atas US$ 70 per barel.
“Kalau reli di atas US$ 70 pada Maret–Mei, kemungkinan akan membuat bursa saham dan surat utang pemerintah terkoreksi tajam,” jelas Yanuar.
Jika harga bertahan di US$ 65–US$ 70, inflasi berpotensi naik namun daya beli konsumen energi tertahan. Konsekuensinya, volatilitas saham dan yield obligasi meningkat.
Di sisi lain, komoditas safe haven seperti emas diperkirakan ikut melonjak.
Beberapa analis bahkan memproyeksikan harga emas dunia bisa menyentuh level tertinggi baru jika situasi tak kunjung mereda.
Harga Emas Bisa Tembus US$ 6.000
Analis Komoditas Ibrahim Assuaibi menyebut eskalasi ini sebagai babak baru memanasnya geopolitik Timur Tengah yang berpotensi memicu lonjakan harga komoditas safe haven.
“Ini kemungkinan besar harga emas akan naik,” ujar Ibrahim.
Jika perang berlanjut, Ibrahim memproyeksikan harga emas dunia bisa mencapai US$ 6.000 per troi ons pada akhir kuartal I 2026. Harga emas Antam bahkan berpotensi menyentuh Rp 3,5 juta per gram.
Sementara itu, harga minyak WTI diperkirakan bisa mencapai US$ 80 per barel pada akhir kuartal I 2026 jika konflik semakin meluas.
Indonesia diprediksi menghadapi tiga tekanan utama:
1. Beban Subsidi Energi Membengkak
Lonjakan harga minyak global akan meningkatkan beban subsidi BBM dan listrik. Pemerintah berpotensi merealokasi anggaran pembangunan untuk perlindungan sosial.
2. Rupiah Tertekan hingga Rp 17.000 per Dolar AS
Pelemahan rupiah berisiko semakin dalam. Jika menembus Rp 17.000 per dolar AS, inflasi impor akan meningkat karena bahan baku industri manufaktur Indonesia masih bergantung pada pasar luar negeri.
3. Risiko Keamanan dan Radikalisasi
Instabilitas Timur Tengah dapat memicu gerakan radikal transnasional. Sentimen anti-Barat yang meningkat berpotensi dimanfaatkan aktor non-negara untuk mengaktifkan kembali sel tidur di Asia Tenggara.
Para pengamat mendorong pemerintah mempercepat diversifikasi energi melalui pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT) guna mengurangi ketergantungan pada impor minyak.
Selain itu, diplomasi aktif dan penguatan sistem keamanan nasional dinilai penting untuk meredam dampak ekonomi maupun keamanan dari konflik yang semakin kompleks.
Dengan dinamika yang terus berubah, stabilitas harga energi global kini sangat bergantung pada perkembangan situasi di Timur Tengah.
“Indonesia perlu mengambil langkah-langkah strategis untuk menghadapi dampak ekonomi dan keamanan dari konflik ini,” pungkas Rahma.
Sumber : Kontan.co.id