Krisis Timur Tengah Berpotensi Naikkan BBM dan Harga Pangan di Indonesia
Tim TribunTrends March 02, 2026 02:38 PM

TRIBUNTRENDS.COM -- Perang yang melibatkan Israel, Amerika Serikat, dan Iran memberikan dampak negatif ke berbagai negara, termasuk Indonesia.

Sejumlah efek mulai dirasakan masyarakat Indonesia, seperti potensi kenaikan harga barang impor, melonjaknya harga bahan bakar minyak (BBM), hingga berujung pada kenaikan harga kebutuhan pokok.

Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda, menyampaikan bahwa meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah akibat serangan Israel dan Amerika Serikat ke Iran mendorong kenaikan harga energi global.

KONFLIK TIMUR TENGAH - Dampak Konflik Timur Tengah Picu Kenaikan Harga di Indonesia (TribunnewsBogor.com/Kompas.com)

"Harga minyak Brent sudah menyentuh US$ 73 per barel dari yang sebelumnya sempat di US$ 65 per barel di awal Februari. Bisa jadi harga minyak global akan menyentuh US$ 120 per barel sama seperti ketika Rusia melakukan invasi ke Ukraina,” tutur Nailul dikutip dari Kontan, Senin (2/3/2026).

Ia menjelaskan, penutupan Selat Hormuz berpotensi mengurangi pasokan minyak dunia secara signifikan, mengingat sekitar 20 persen perdagangan minyak mentah global melewati jalur tersebut.

“Berkurangnya pasokan minyak otomatis menaikkan harga minyak mentah dunia,” kata Nailul.

Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu jalur pelayaran paling sibuk dan strategis bagi distribusi energi dan barang secara global. Penutupan jalur ini membuat kapal komersial tidak diperbolehkan melintas.

Kondisi tersebut berdampak langsung pada arus perdagangan internasional. Distribusi barang impor dan ekspor, termasuk milik Indonesia, berpotensi mengalami gangguan dalam waktu dekat.

Baca juga: Masyarakat Waspada! Dampak Perang AS-Israel vs Iran: Harga BBM Naik, Krisis Ekonomi, Rupiah Melemah

Selain itu, potensi keterlibatan kelompok Houthi di Laut Merah juga membuka risiko gangguan di Bab el-Mandab. Jika jalur tersebut terganggu, maka arus perdagangan yang melewati Terusan Suez dan Mesir bisa terhambat. Kapal-kapal kemungkinan harus memutar melalui Afrika, yang berujung pada kenaikan biaya logistik global dan harga barang.

Nailul mengingatkan bahwa lonjakan harga minyak dapat membebani kondisi fiskal negara.

Kenaikan harga energi dan barang impor akan meningkatkan kebutuhan subsidi, terutama untuk BBM.

“Anggaran kita akan jebol apabila tidak ada realokasi anggaran ke subsidi BBM,” kata dia.

Ia juga pesimistis pemerintah dapat mengandalkan penerimaan negara di tengah kondisi global yang tidak menentu.

Selain itu, opsi penambahan utang dinilai tidak mudah, mengingat lembaga pemeringkat seperti Moody’s dan S&P sebelumnya telah menyoroti kualitas pengelolaan fiskal Indonesia.

Nailul menambahkan bahwa kenaikan harga energi akan berdampak pada meningkatnya biaya pengiriman (freight) dan premi asuransi. Hal ini akan membebani pelaku usaha, baik yang berorientasi ekspor maupun yang bergantung pada bahan baku impor.

“Harga impor akan naik dan bisa menyebabkan imported inflation,” katanya.

Pendapat serupa disampaikan oleh Founder dan CEO Supply Chain Indonesia (SCI), Setijadi. Ia menjelaskan bahwa kenaikan harga minyak akibat potensi gangguan di Selat Hormuz akan berdampak langsung pada harga solar domestik, yang merupakan komponen utama biaya operasional transportasi darat.

Ilustrasi masyarakat mengantre pembelian BBM di SPBU.
Ilustrasi masyarakat mengantre pembelian BBM di SPBU. (SURYA.CO.ID/Ahmad Zaimul Haq)

Menurutnya, dengan porsi BBM yang mencapai sekitar 40 persen dari total biaya operasional truk, kenaikan harga solar akan langsung memengaruhi ongkos angkut.

“Dengan asumsi komponen BBM mencapai 35 persen sampai 40 persen dari total biaya operasi truk, kenaikan harga solar 10 persen dapat mendorong kenaikan ongkos angkut sekitar 3,5 persen sampai 4 persen” tutur Setijadi.

Ia menambahkan, jika harga solar naik 20 persen, ongkos angkut truk berpotensi meningkat sekitar 7 persen hingga 8 persen. Bahkan, dalam skenario yang lebih berat, kenaikan hingga 30 persen dapat mendorong ongkos naik sekitar 10,5 persen sampai 12 persen.

Secara umum, biaya logistik nasional diperkirakan mencapai sekitar 14 persen dari harga produk, dengan hampir setengahnya berasal dari transportasi darat.

Dengan struktur biaya tersebut, kenaikan ongkos truk sebesar 7 persen hingga 8 persen saja dapat meningkatkan harga barang rata-rata sekitar 0,5 persen. Dalam kondisi ekstrem, kenaikan ongkos angkut di atas 10 persen bisa mendorong harga barang naik mendekati 0,8 persen, terutama untuk komoditas pangan, bahan bangunan, dan produk konsumsi dengan margin tipis.

Akibat meningkatnya biaya transportasi karena kenaikan harga BBM, harga bahan pokok dan barang lainnya berpotensi ikut naik.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Kamdani, menyatakan bahwa dampak paling cepat dirasakan Indonesia dari konflik ini adalah gangguan pada jalur perdagangan, terutama yang menuju kawasan Timur Tengah.

“Dampak eskalasi konflik AS, Israel, Iran yang akan terasa paling langsung dan immediate untuk Indonesia adalah gangguan pada rute perdagangan, khususnya yang mengarah ke Timur Tengah dan sekitarnya sarana saat ini Selat Hormuz ditutup, dan kapal-kapal komersial dilarang mendekat,” ujar Shinta

Ia menilai para pelaku usaha perlu mengantisipasi potensi kenaikan biaya perdagangan akibat situasi tersebut.

Shinta juga mencatat bahwa meningkatnya risiko keamanan menyebabkan premi asuransi pengiriman melonjak. Perusahaan pelayaran dan penjamin harus memperhitungkan kemungkinan kerugian akibat konflik yang sedang berlangsung.

Di sisi lain, pembatasan jalur pelayaran serta berkurangnya jumlah kapal yang beroperasi menyebabkan kapasitas angkut menurun. Ketidakseimbangan antara jumlah kapal dan kebutuhan pengiriman ini berpotensi mendorong kenaikan tarif logistik, tidak hanya ke Timur Tengah, tetapi juga ke kawasan Eropa dan Afrika yang terhubung melalui jalur tersebut.

Akibatnya, biaya impor dan ekspor Indonesia berpotensi meningkat dalam waktu yang relatif singkat.

“Selain mengganggu kelancaran perdagangan ke Timur Tengah, kami rasa kita juga harus mengantisipasi kenaikan atau lonjakan biaya perdagangan, baik yang disebabkan oleh peningkatan beban asuransi perdagangan maupun karena penurunan volume kapal yang dapat melintas, ke kawasan Timur Tengah, Eropa dan Afrika karena eskalasi konflik ini,” paparnya.

Shinta menyebut dampak dari situasi ini bisa mulai terasa dalam waktu dekat, tergantung pada perkembangan kondisi di lapangan.

“Dampak-dampak yang bersifat langsung ini bisa dilihat segera dalam beberapa hari hingga dua, tiga minggu ke depan, tergantung pada perkembangan konflik yang terjadi,” beber Shinta. (Tribun Trends/Tribunnews Bogor)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.