TRIBUN-SULBAR.COM, POLMAN - Sejumlah korban kebakaran 38 rumah menceritakan apa yang mereka saksikan saat kebakaran hebat melanda Desa Galung Tulu, Kecamatan Balanipa, Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat (Sulbar), Senin (2/3/2026).
Kebakaran ini terjadi pada pukul 20.30 Wita, saat warga salat tarawih berjamaah di masjid.
Awalnya api berasal dari posisi tengah kawasan padat penduduk, diduga dari kompor yang ditinggal pemiliknya.
Baca juga: Bantuan Pakaian Bekas Menumpuk, Korban Kebakaran 38 Rumah di Polman Butuh Peralatan Dapur
Baca juga: Abon MBG di Mamuju Tengah Diduga Berulat, GMNI Soroti Kualitas Menu dan Standar Gizi
Kobaran api membakar tiga rumah, namun karena kawasan padat penduduk, api terus berkobar dan menghanguskan 38 rumah.
Sebagian besar penghuni dari 38 rumah ini sedang menunaikan ibadah salat tarawih.
Warga menyebut lampu sempat padam disusul suara ledakan berulang kali saat api mulai berkobar.
"Pas kita sedang salat tarawih di masjid, mati lampu akhirnya warga berhamburan setelah mendengar orang teriak kebakaran," ujar salah satu korban, Iskandar kepada wartawan.
Iskandar mengaku awalnya hanya melihat dua rumah yang terbakar.
Namun api cepat berkobar hingga merambat ke rumah lainnya.
Warga tidak mampu memadamkan kobaran itu lantaran hawa api cukup panas dan cepat menjalar.
Iskandar sempat mendengar suara ledakan berulang kali disusul kobaran api yang membumbung tinggi.
Meski begitu, dia tidak mengetahui secara pasti penyebab suara ledakan itu.
"Kita dengar suara ledakan berulang kali tapi kita tidak tahu apa penyebabnya, setelah itu berkobar api ke langit karena sudah tidak ada atapnya rumah. Akhirnya api melebar ke kanan dan ke kiri, berputar itu api," terangnya.
Menurut Iskandar, musibah kebakaran ini menghanguskan seluruh rumahnya hingga rata dengan tanah.
Tak ada barang yang bisa diselamatkan kecuali pakaian yang menempel di badannya.
Sementara warga lain bernama H Adam mengatakan, kabar terjadinya kebakaran diperoleh saat menunaikan ibadah salat tarawih di masjid.
Diakui, saat kejadian rumahnya dalam keadaan kosong.
Adam mengaku tidak dapat berbuat banyak untuk memadamkan kobaran api.
Menurutnya, tidak banyak barang miliknya yang bisa diselamatkan, hangus tinggal puing-puing.
“Kita langsung ke sini, tapi tidak bisa ke rumah karena sudah merah mi api berkobar, hanya koper yang bisa diselamatkan," ungkapnya.
Kebakaran ini menghanguskan 38 rumah, terdiri dari 57 Kepala Keluarga (KK) dan 199 jiwa mengungsi.
Warga saat ini mendirikan tenda posko beratapkan terpal di masing-masing bekas rumah terbakar.
Bantuan paket sembako ini dikumpulkan petugas sosial kebencanaan di posko tenda utama.
Selain bantuan sembako, warga terdampak sebanyak 57 Kepala Keluarga (KK) juga mendapat bantuan tikar, kompor, dan obat-obatan.
Pantauan di lokasi, petugas kebencanaan menyusun paket sembako yang diberikan kepada tiap satu KK.
Paket sembako ini terdiri dari beras 25 kg, mi instan, kopi, gula, minyak, kue, biskuit, telur satu rak, dan air empat dus.
Satu per satu warga dari 57 KK ini berbaris di posko darurat untuk diberikan paket sembako.
Warga terdampak saat ini mendirikan tenda posko masing-masing di lahan bekas puing rumah terbakar.
Mereka mulai memasak untuk memenuhi kebutuhan harian anak-anak yang membutuhkan makanan.
Pemerintah Daerah (Pemda) Polman juga tampak mendirikan dapur umum bekerja sama dengan petugas kepolisian Korps Brimob. (*)
Laporan Wartawan Tribun-Sulbar.com, Fahrun Ramli