Raihan Sempat Ingin Akhiri Hidup Usai Aniaya Fara, Kini Akan Salat Taubat, Polisi Beri Buku Agama
Talitha Daren March 02, 2026 05:38 PM

TRIBUNTRENDS.COM - Raihan Mufazzar (21), tersangka kasus pembacokan terhadap seorang mahasiswi di lingkungan kampus Universitas Islam Negeri Sultan Syarief Kasim (UIN Suska) Riau, menunjukkan penyesalan saat menjalani pendampingan psikologi di Markas Polresta Pekanbaru, Senin (2/3/2026).

Dalam sesi konseling yang dilakukan tim Bagian Psikologi Biro SDM Polda Riau, Raihan terlihat beberapa kali melafalkan Surah Al-Kafirun dan Ayat Kursi.

Ia juga mengungkapkan keinginan untuk melaksanakan salat taubat serta membaca buku-buku bernuansa spiritual selama berada di tahanan.

Pendampingan tersebut dipimpin Kabag Psikologi Biro SDM Polda Riau AKBP Dr Winarko.

Selain konseling, tim psikologi turut melakukan serangkaian tes untuk mendalami kondisi kejiwaan tersangka.

Termasuk perilakunya di lingkungan keluarga, pertemanan, serta dinamika emosinya sebelum peristiwa terjadi.

Baca juga: Profesi Ferdi Pacar Farra Korban Pembacokan Raihan, Seorang Pelaut, Kini Syok Baru Tahu Diselingkuhi

Tes Psikologi Pelaku

Serangkaian tes psikologi dilakukan untuk menggali kondisi kejiwaan tersangka, termasuk perilaku di lingkungan keluarga, pertemanan, serta dinamika emosinya sebelum kejadian.

“Pendampingan ini untuk memahami aspek psikologis tersangka secara komprehensif,

Dari hasil sementara, yang bersangkutan menunjukkan rasa penyesalan yang sangat mendalam,

Ia mengaku bertanggung jawab atas perbuatannya,” ujar Kabid Humas Polda Riau Kombes Pol Zahwani Pandra Arsyad.

Menurut Pandra, usai melakukan penganiayaan, Raihan sempat memiliki keinginan untuk mengakhiri hidupnya.

Namun hal tersebut tidak sampai terjadi.

Dalam sesi pendampingan, tersangka menyampaikan bahwa seharusnya jika memiliki persoalan, ia bisa bercerita dan mencari jalan keluar, bukan memendamnya sendiri.

“Semakin dilakukan pendekatan psikologis, kita edukasi. Prinsip kami fight the crime, love humanity. Kejahatannya tetap diproses, tetapi sisi kemanusiaannya juga kita perhatikan,

Untuk keinginannya salat taubat, serta buku-buku spiritual atau keagamaan, nanti akan disiapkan,” tegas Pandra.

Baca juga: Tengah LDR, Pacar Farra Syok Lihat Video Kekasihnya dengan Raihan, Bagaimana Bisa? Jujur Bingung

KASUS PEMBACOKAN - Kolase potret Ferdi kekasih Farra korban pembacokan di UIN Suska Riau
KASUS PEMBACOKAN - Kolase potret Ferdi kekasih Farra korban pembacokan di UIN Suska Riau (TikTok/@_mzfrr/@d.ferrr)

Dikenal Introvert

Dari hasil asesmen awal, Raihan diketahui berkepribadian introvert atau tertutup dan disebut tidak pernah merasakan kehangatan dalam lingkungan keluarga. 

Ia merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. 

Ayahnya bekerja sebagai tukang bangunan.

Raihan sempat tidak lagi aktif kuliah pada November dan Desember 2025, lantaran hubungan dengan korban, Farradhilla Ayu Pramesti (23) merenggang.

Pelaku dan korban, memang memiliki kedekatan, namun tidak berpacaran.

Baca juga: Pengakuan Rehan Mahasiswa UIN Suska: Asah Kapak Sebelum Habisi Fara, Rencanakan Sejak November 2025

MAHASISWA BACOK MAHASISWI: Diduga postingan terakhir mahasiswa UIN Suska Riau, Raihan Mufazzar (kiri) sebelum membacok Fara, wanita yang ditaksirnya pada Rabu (25/2/2026).
MAHASISWA BACOK MAHASISWI: Diduga postingan terakhir mahasiswa UIN Suska Riau, Raihan Mufazzar (kiri) sebelum membacok Fara, wanita yang ditaksirnya pada Rabu (25/2/2026). (Tribun Trends/(kolase Instagram Raihan Mufazzar))

Aksi Pembacokan

Diketahui, aksi pembacokan terjadi pada Kamis, 26 Februari 2026 sekitar pukul 08.00 WIB, di lantai dua Gedung Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum UIN Suska Riau. 

Saat itu korban tengah menunggu jadwal ujian akhir skripsi di sebuah ruangan, seketika diserang menggunakan senjata tajam oleh Raihan Mufazzar.

Korban mengalami luka serius dan sempat menjalani operasi. 

Sebelumnya, tim trauma healing Polda Riau juga telah memberikan pendampingan psikologi kepada korban di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru tempat ia menjalani pemulihan.

Pandra menekankan, peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya peran keluarga dalam memantau tumbuh kembang anak, terutama dalam pengendalian emosi dan kesehatan mental. 

Pengawasan, komunikasi, serta kehangatan di lingkungan rumah dinilai menjadi fondasi penting agar persoalan pribadi tidak berkembang menjadi tindakan yang merugikan banyak pihak.

(TribunTrends.com/Tribunpekanbaru.com/Rizky Armanda)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.