Pemberangkatan Jemaah Umrah Untuk Momen Lailatul Qadar Terancam Batal Imbas Perang Timur Tengah
Kemal Setia Permana March 02, 2026 06:11 PM

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Pemberangkatan jemaah umrah dalam rangka mengejar malam Lailatul Qadar sudah di depan mata.

Ironisnya, konflik Israel-Amerika Serikat ke Iran memicu pembatasan lalu lintas penerbangan di sejumlah negara kawasan Timur Tengah. 

Direktur PT Dago Wisata Internasional, Dodi Sudrajat, mengatakan pihaknya dijadwalkan memberangkatkan jemaah pada tanggal 6 Maret 2026, bagian dari program umrah I'tikaf Lailatulqadar. 

Banner dan informasi seputar program tersebut terpampang di kantor travel Dago Wisata, Sadang Serang, Kota Bandung. 

Lailatul Qadar adalah malam istimewa di sepuluh hari terakhir Ramadhan yang diyakini lebih baik dari seribu bulan karena menjadi malam turunnya Al-Qur’an. 

Keinginan umrah saat berpuasa di bulan Ramadhan pun pahala yang lebih besar, yaki senilai haji.

Pada momentum tersebut, jemaah bisa menyambut Hari Raya Idulfitri di Tanah Suci. 

Baca juga: 30 Warga Tasik Jalankan Ibadah Umrah di Tengah Suasana Perang, Aman Gunakan Penerbangan Langsung

Namun dalam momen menyambut Lailatul Qadar tahun ini, perang Iran kontra Amerika Serikat dan Israel membuat dilema pihak travel.

Meski visa sudah dikantongi namun gagal berangkat masih membayangi. 

"Ini yang menjadi dilema ketika visa sudah keluar. Misalkan kami ada keberangkatan tanggal 6 Maret untuk Lailatul Qadar, tiket itu sudah oke, visa-nya sudah oke, ini tinggal 4 hari lagi. Belum ada kepastian dari Qatar, tapi policies-nya sudah keluar, silakan uang di-refund," ujar Dodi,saat ditemui Tribujabar.id, Senin (2/3/2026). 

Dodi menyayangkan kondisi tersebut. Pasalnya,momentum Lailatul Qadar hanya terjadi satu kali dalam satu tahun. 

"Tapi dengan kondisi begini, ada momen Lailatul Qadar. Sudah jauh-jauh hari kita booking, ini yang menjadi dilema," ucapnya. 

Dia mengatakan, umrah di bulan Ramadhan ini memang paling diminati.

Dago Wisata telah mempersiapkan program ini hingga enam bulan lamanya.  

"Mulai plan kita membuat produk adalah 6 bulan. Jadi kalau bulan Ramadhan sebenarnya persiapan sudah dari Oktober," tuturnya. 

Baca juga: Kanwil Kemenhaj Jabar Tunggu Data Jumlah Jamaah Umrah yang Tertahan Imbas Konflik di Timur Tengah

Dia tak mau berdiam diri, Dodi menyebut pihaknya bersama Himpunan Penyelenggara Umrah dan aji (HIMPUH), Dewan Pengurus Pusat (DPP) Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) koordiator Umrah dan Haji, dan ASITA Jabar koordiator Umrah dan Haji mengambil jalan keluar, untuk tetap memberangkatkan para Jemaah dengan mencari pesawat yang langsung terbang ke Tanah Suci.

"Akhirnya apa yang terjadi adalah kita mencari one way, gimana caranya mencari pesawat yang berangkat ke sana, pulangnya lagi beda pesawat. Itu salah satu solusi agar momen untuk ikut Lailatul Qadar bisa dilaksanakan. Beda kalau umrah reguler biasa mungkin bisa diundur bulan depan, tapi kalau momen Lailatul Qadar, kan diundurnya setahun ke depan," bebernya. 

Para jemaah pun melihat situasi ini harap-harap cemas. Pemerintah menganjurkan keberangkatan untuk ditunda. 

"Misalkan gini, kalau kita ke Doha menngunakan Emirates itu, kan sebelahan dengan Strait Hormuz di utaranya Saudi. Namun kalau kita direct langsung ke Jeddah itu tidak melewati Selat Hormuz. Kemudian dari Jakarta pakai Garuda juga masih bisa sebenarnya," jelasnya. 

Dodi menilai, menghidari rute titik serangan di Timur Tengah menjadi solusi untuk merespon situasi yang ada, dengan syarat lalu lintas aman terkendali.

Oleh karena itu, pihaknya belum membatalkan perjalanan umrah untuk para Jemaah. 

Baca juga: Persib Dipuji AFC Setelah Angkat Ranking Liga Indonesia dan Tambah Jumlah Wakil Klub di ACL

"Sampai saat ini ini kita belum batalkan.Ketika dibatalkan ada resiko untuk travel-travel atau Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) itu mengalami kerugian," ucap Dodi. 

Sebegai informasi, Qatar salah satu negara yang diserang oleh Iran. Penyerbuan ini bukan tanpa alasan, di sana terdapat pangkalan militer AS. 

"Sehingga lalu lintas di atas Qatar ini pasti diblok dan terbukti keberangkatan kapal Qatar kemarin tertunda. Ada lagi pakai Emirates. Namun radiusnya yang masih di bawah 1000 km antara Qatar dan Dubai turut menjadi sasaran, karena memang mereka berada di pinggir selat Hormuz bersebrangan dengan negara Iran," ucap dia. 

Dodi menyebut, pada momentum Ramadhan tahun ini pihaknya menyiapkan keberangkatan hingga 10 bus. 

"Kurang lebih 10 bus. Ada di awal, di tengah, ada di akhir. Ada yang full Ramadhan juga," imbuhnya. (*) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.