TRIBUNTRENDS.COM - Suasana duka di Desa Ragung, Kecamatan Pangarengan, Kabupaten Sampang, Jawa Timur, mendadak berubah menjadi tegang. Bukannya sekadar memberikan penghormatan terakhir, sejumlah warga justru mendatangi rumah duka dengan membawa tuntutan yang belum terselesaikan di dunia, utang piutang.
Kejadian yang sempat terekam dalam sebuah video viral ini memperlihatkan momen emosional saat seorang ibu berkerudung biru berbicara di hadapan keluarga almarhumah SM (46). Ia menuntut kepastian atas piutang yang nilainya sangat fantastis.
"Mohon maaf, almarhumah punya utang ke saya uang dan emas perkiraan Rp 200 jutaan. Kami mohon jangan dimakamkan sebelum ada tanggung jawab dari keluarga," tegas perempuan dalam video tersebut, menggambarkan rasa frustrasi warga yang merasa haknya belum terpenuhi.
Kasi Humas Polres Sampang, AKP Eko Puji Waluyo, menjelaskan bahwa peristiwa ini terjadi pada Sabtu (28/2/2026). Begitu kabar kematian SM tersiar, bukan hanya kerabat yang berdatangan, melainkan juga para penagih utang yang khawatir piutang mereka hilang bersama jasad yang akan dikebumikan.
"Informasi dari warga setempat, almarhumah ini memiliki banyak utang sehingga saat meninggal kemarin warga yang pernah meminjamkan uang itu datang ke rumah duka," ungkap AKP Eko saat dikonfirmasi pada Senin (2/3/2026).
Baca juga: Geger Pengumuman Kiamat Dini Hari di Sampang Melalui Toa Masjid, Pelaku Ternyata ODGJ
Menariknya, warga yang datang menagih bukan hanya berasal dari lingkungan sekitar tempat tinggal SM. Warga dari desa lain pun turut hadir menagih janji.
"Diduga yang dipinjam tidak hanya uang namun juga ada beberapa emas," tambah AKP Eko, merujuk pada total utang yang diperkirakan menyentuh angka Rp 200 juta.
Situasi di rumah duka sempat mencekam karena warga meminta kesepakatan pembayaran harus diputuskan segera sebelum prosesi pemakaman dilakukan. Hal ini memicu spekulasi di masyarakat bahwa jenazah ditolak untuk dimakamkan. Namun, pihak kepolisian meluruskan persepsi tersebut.
Baca juga: Disebut Paradise of Java, Ini Daerah Paling Sedikit Motor di Jatim, Mengalahkan Bondowoso, Sampang
"Jadi bukan ditolak untuk dimakamkan, hanya ditunda sementara sampai ditemukan kesepakatan pertanggungjawaban," imbuh AKP Eko mengklarifikasi duduk perkaranya.
Setelah melalui proses diskusi yang berlangsung cukup alot dan penuh tekanan, pihak keluarga akhirnya melunakkan sikap dan menyatakan bersedia memikul tanggung jawab atas utang-utang almarhumah. Setelah titik temu dicapai, ketegangan pun mereda.
Prosesi yang tertunda itu akhirnya bisa dilanjutkan kembali.
"Setelah semuanya jelas, pemakaman berjalan lancar," pungkas AKP Eko menutup kronologi kejadian tersebut.