Jelang Idul Fitri, Relokasi Dipercepat dan Donasi Disalurkan untuk Warga Terdampak
Eko Sutriyanto March 02, 2026 06:33 PM

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ribuan warga terdampak banjir bandang di sejumlah wilayah Pulau Sumatera masih bertahan di pengungsian hingga awal Maret 2026.

Pemerintah menargetkan seluruh pengungsi dapat direlokasi ke hunian yang lebih layak sebelum Idul Fitri.

Sebagian korban belum bisa kembali ke rumah karena kerusakan parah pada permukiman dan infrastruktur.

Di sisi lain, kebutuhan logistik dasar seperti pangan, air bersih, dan layanan kesehatan masih terus diperlukan.

Tiga Bulan di Tenda Darurat

Tiga bulan setelah banjir bandang menerjang Kabupaten Aceh Tamiang pada November 2025, sejumlah warga masih tinggal di tenda darurat.

Mereka menunggu kepastian pembangunan hunian sementara (huntara) maupun hunian tetap (huntap).

Baca juga: 36 Ribu Bata Interlock Presisi Dikirim, Hunian Sementara Korban Banjir Bandang Sumatera Dikebut

Di Kampung Landuh, Kecamatan Rantau, Minggu (1/3/2026), Ponirah (69) masih bertahan di tenda lusuh yang didirikannya di lahan kosong. 

Rumahnya hancur total saat banjir datang, membuatnya bersama anak dan cucunya kehilangan tempat tinggal.

“Ya saya minta rumah saja. Pokoknya rumah kami bisa dibikin. Kasihan cucu saya seperti ini, kedinginan. Rumah saya hancur, tidak bisa lagi,” ujar Ponirah seperti dikutip Serambi Indonesia.

Ia mengaku harus menjalani hari-hari dalam keterbatasan, menghadapi panas matahari dan debu tebal di sekitar lokasi pengungsian.

Kondisi tersebut terasa semakin berat karena bertepatan dengan bulan puasa.

Target Relokasi Sebelum Lebaran

Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Wilayah Sumatera menyatakan percepatan relokasi menjadi fokus utama fase pemulihan di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Ketua Satgas PRR, Muhammad Tito Karnavian, berharap seluruh pengungsi segera dipindahkan dari tenda darurat ke huntara atau menerima dana tunggu hunian.

“Kita harapkan secepat mungkin bisa menyelesaikan sebelum Idulfitri. Kalau bisa sebelum Idulfitri semua tidak ada di tenda tapi di huntara atau menerima dana tunggu hunian,” ujarnya, Minggu (1/3/2026).

Ia menjelaskan jumlah pengungsi telah menurun signifikan dibanding masa awal bencana. Dari lebih dari dua juta warga terdampak, per 27 Februari 2026 tersisa 11.307 jiwa yang masih berada di tenda pengungsian.

Sebagian besar berada di Aceh sebanyak 10.394 jiwa, sementara di Sumatera Utara 913 jiwa. Adapun di Sumatera Barat, seluruh pengungsi telah meninggalkan tenda darurat.

Progres Huntara dan Huntap

Untuk mendukung percepatan relokasi, Satgas PRR mendorong pembangunan huntara, hunian tetap (huntap), serta penyaluran dana tunggu hunian.

Dari target 18.253 unit huntara, sebanyak 10.498 unit atau 57 persen telah terealisasi. Sementara pembangunan huntap mulai berjalan dengan 1.363 unit dari target 36.669 unit, termasuk enam unit di Sumatera Barat yang sudah selesai.

Penyaluran bantuan perbaikan rumah rusak juga dilakukan bertahap. Dari lebih dari 73.000 unit rumah yang teridentifikasi rusak ringan, sedang, hingga berat, proses verifikasi dan pencairan bantuan terus dipercepat agar warga dapat segera memperbaiki rumah secara mandiri.

Dukungan juga datang dari sektor swasta.

PT Jakarta International Container Terminal (JICT) menyalurkan donasi Rp300 juta untuk membantu penanganan banjir dan longsor di Aceh serta Sumatera Utara melalui PMI Kota Jakarta Utara.

Direktur Utama JICT, Ade Hartono, menyatakan bantuan tersebut merupakan bentuk solidaritas perusahaan terhadap masyarakat terdampak.

Sementara itu, Hendra Hidayat, Wali Kota Jakarta Utara, menilai kontribusi tersebut membantu mempercepat penyediaan logistik, layanan kesehatan, serta pemulihan awal warga.

"Dengan masih adanya ribuan warga di pengungsian dan proses pemulihan infrastruktur yang belum sepenuhnya rampung, bantuan dari berbagai pihak dinilai tetap krusial untuk mempercepat pemulihan kehidupan masyarakat di wilayah terdampak," katanya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.