TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Menyantap gorengan saat berbuka puasa memang menjadi tradisi yang sulit dilewatkan.
Aroma harum dan renyahnya bakwan, risol, atau tempe goreng kerap menjadi pembuka selera setelah seharian menahan lapar dan dahaga.
Baca juga: Suka Makan Gorengan Saat Buka Puasa? Tetap Sehat dengan 5 Langkah Ini!
Namun, di balik kenikmatan tersebut, cara pengolahan—terutama pemilihan minyak goreng—memegang peran penting terhadap kesehatan tubuh selama Ramadan.
Health Enthusiast Reisa Broto Asmoro mengingatkan bahwa kualitas minyak goreng tidak boleh diabaikan, terutama ketika pola makan berubah selama bulan puasa.
Menurutnya, sahur dan berbuka merupakan dua momen krusial yang menentukan stamina tubuh sepanjang hari. Jika asupan makanan terlalu tinggi lemak akibat penggunaan minyak yang tidak tepat, tubuh bisa terasa cepat lelah, begah, bahkan memicu gangguan pencernaan.
“Kita boleh saja menggunakan minyak lebih dari sekali, asalkan kualitasnya masih baik. Perhatikan komposisi, kandungan, dan nutrisinya,” ujar Reisa dalam talkshow Ramadan No Oversharing bersama Tropika No Over Saring di AEON Mall Sentul City, Bogor, Minggu (1/3/2026).
Reisa menjelaskan, penggunaan minyak yang telah dipakai berulang kali tanpa kontrol kualitas dapat meningkatkan kadar lemak jenuh dan senyawa berbahaya akibat proses oksidasi.
Minyak yang sudah berubah warna menjadi lebih gelap, berbau tengik, atau menghasilkan asap berlebih saat dipanaskan, menandakan kualitasnya menurun.
"Jika tetap digunakan, makanan akan menyerap lebih banyak minyak dan berpotensi membebani sistem pencernaan," katanya.
Dalam jangka panjang, konsumsi lemak berlebih dapat meningkatkan risiko gangguan metabolisme, terutama ketika tubuh sedang beradaptasi dengan pola makan terbatas selama puasa.
Sebaliknya, minyak goreng yang melalui proses penyaringan optimal cenderung lebih stabil saat dipanaskan. Stabilitas ini membantu menjaga struktur minyak sehingga makanan tidak menyerap lemak secara berlebihan.
“Kondisi ini penting untuk mencegah rasa begah dan menjaga tubuh tetap ringan saat berpuasa,” jelasnya.
Diskusi dalam acara tersebut tidak hanya membahas aspek fisik, tetapi juga menyinggung kesehatan mental dan spiritual selama Ramadan.
Aktor dan presenter Akri Patrio mengingatkan bahwa esensi Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan haus, melainkan juga menjaga sikap, termasuk dalam bermedia sosial.
“Selagi menyampaikan kebaikan, tidak apa-apa. Tapi jangan berlebihan,” pesannya.
Menurutnya, keseimbangan antara kesehatan fisik dan mental menjadi kunci agar Ramadan dijalani dengan lebih bermakna.
Sebagai bagian dari edukasi, acara turut menghadirkan demo memasak bersama Chef Hideki. Ia memperagakan cara membuat hidangan gimari dan tempura don dengan teknik penggorengan yang tepat.
Chef Hideki menunjukkan bahwa suhu minyak harus stabil agar makanan matang merata dan tetap renyah tanpa menyerap minyak berlebih.
"Minyak yang terlalu dingin membuat makanan menyerap lebih banyak lemak, sementara suhu terlalu tinggi dapat merusak kualitas minyak," katanya.
Demo tersebut menggunakan minyak goreng dari Tropical dengan teknologi dua kali penyaringan, yang diklaim membantu menjaga kejernihan dan kestabilan minyak saat dipanaskan.
Brand Manager Tropical, Wiranti Ratanattaya, berharap edukasi semacam ini dapat meningkatkan kesadaran masyarakat dalam memilih bahan pangan yang lebih sehat.
“Melalui rangkaian diskusi, tausiyah, dan praktik memasak, masyarakat diharapkan tetap dapat menikmati menu favorit saat berbuka tanpa mengorbankan kesehatan, sehingga Ramadan dijalani dengan tubuh lebih bugar dan pikiran lebih terjaga,” ujarnya.