Dulu Sarang Kriminal Kini Jadi Tempat Sujud: Kisah Masjid Hijrah BJTB di Kolong Tol Buah Batu
Ravianto March 02, 2026 09:44 PM

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Di balik deru kendaraan yang terus melintas dengan sangat padat di Jalan Raya Bojongsoang, Desa Buah Batu, Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung, berdiri sebuah masjid yang tak biasa.

Masjid tersebut, letaknya tepat di bawah kolong jembatan Tol Padaleunyi kilometer 142, arah pintu masuk tol Buah Batu menuju Cileunyi.

Namanya masjid itu yaitu Masjid Hijrah BJTB.

BJTB merupakan singkatan dari Bawah Jembatan Tol Buah Batu.

Sekilas, tak banyak yang menyangka di bawah bentang beton jalan tol tersebut terdapat sebuah tempat ibadah yang rapi dan bersih.

Di sana, atap yang biasa menutup bagian atas bangunan masjid pada umumnya, tidak pernah ada.

Baca juga: Masjid Besar Al-Istiqomah, Saksi Bisu Tsunami 2006 yang Kini Jadi Penopang Wisata Pangandaran

Jamaah yang datang bisa langsung melihat struktur kolong tol menjulang di atas kepala.

Konsep terbuka tersebut bukan tanpa alasan, melainkan bagian dari kesepakatan agar bangunan tetap aman dan tidak melanggar aturan.

Meski berada di kolong jembatan tol, suasananya jauh dari kesan kumuh.

masjid hijrah kolong bawah jembatan buah batu bandung maret
Masjid Kolong Tol - Masjid Hijrah Bawah Jembatan Tol Buah Batu (BJTB), Desa Buah Batu, Kecamataj Bojongsoang, Kabupaten Bandung, Senin 2 Maret 2026. Tribun Jabar / Adi Ramadhan Pratama.

Lantai bersih, tempat wudhu tertata, kamar kecil tersedia, serta taman kecil yang membuat area terasa teduh.

Di sudut lain, beberapa lapak UMKM berdiri melayani pengunjung.

Banyak para pengendara motor dan mobil kerap singgah untuk beristirahat.

Tak sedikit pula para pengemudi ojek online (ojol) yang memanfaatkan tempat ini untuk salat, mengisi daya ponsel, atau sekadar melepas lelah. Sebab semua disini dipastikan gratis. 

Namun di balik kondisi lingkungan masjid yang tertata dan bersih tersebut, terdapat sebuah kisah panjang seorang pria bernama Saepul Rohmat (47).

Dirinya merpakan salah satu pendiri sekaligus penggerak utama di Masjid Hijrah BJTB.

"Awalnya dulu saya bersama teman-teman berusaha untuk hijrah. Dulu cikal bakal saya berada di geng motor. Tapi saya berusaha untuk memperbaiki diri, usai saya kehilangan anak sulung di usianya 17 tahun," ujarnya kepada Tribun Jabar, Senin (2/3/2026).

Peristiwa itu mengguncang hidupnya dan mendorongnya mencari jalan perubahan.

Di situlah tercetus pemikiran sederhana pada tahun 2022, 'apakah dosa-dosa saya yang diperbuat sejak dahulu dimaafkan oleh Allah SWT atau tidak ?'.

Dari sebuah pemikiran, ke obrolan sederhana itulahdengan seorang teman, muncul gagasan untuk membangun masjid sebagai bagian dari ikhtiar memperbaiki diri.

Di mana pilihan lokasi jatuh pada lahan di bawah tol yang saat itu dikenal rawan. 

"Pada waktu itu, pemahaman agama belum banyak. Saya dulu berada di jalanan, bukan dunia majelis, bukan juga dunia dengan orang-orang saleh, dan bukan juga dengan pemuda-pemuda yang menjaga istikamah di dalam ketaatan kepada Allah" katanya.

"Artinya jauh terbalik. Nah dari situ mulailah puncaknya. Saya melihat salah satu video di YouTube, yang sempat membangun masjid di Jakarta Utara. Pada saat itu, tiba-tiba adik saya itu bilang ada yang mau modalin buat masjid," katanya.

Lokasi yang saat ini masjid tersebut berdiri, sebenarnya bukanlah kawasan yang baik-baik saja.

Kawasan itu kerap dikaitkan dengan praktik kriminalitas, transaksi benda ilegal, hingga sempat penggerebekan aparat kepolisian.

"Di sini lokasinya dekat dengan daerah saya tepat tinggal. Di sini kegambarlah dulu aroma kriminalitasnta kuat."

"Dulunya ini yang boleh dibilang seram, menakutkan. Memang bukan tempat (pemakai) narkoba, tapi di dalamnya ada transaksi kuat," ucapnya.

Dengan adanya kondisi itu, ditambah latar belakang dirinya yang memang sempat berada di jalan 'kegelapan'. Loksi itu menjadi tempat hijrah dirinya ke kehidupan yang lebih baik. Saepul memilih mendirikan masjid di lokasi itu.

Bukan untuk dianggap 'sok suci', melainkan sebagai salah satu cara penebusan dosa yang sempat dirinya perbuat dulu.

Meskipun begitu, perjalanan untuk membangun masjid tersebut tidaklah mudah. Gesekan dengan sejumlah pihak sempat terjadi.

Dari pembangunan pada 2022, masjid tersebut banyak mengalami penentangan, terutama dari preman setempat. Titik baliknya, ketika pristiwa gempa bumi Cianjur terjadi. Saat itu, Saepul sempat ingin menyerah dan memtuskan menjadi relawan.

Selama satu bulan, dirinya berada di Cianjur. Namun di Bandung, kabar bahwa masjidnya akan digusur oleh preman setempat, Saepul memutuskan pulang. Terkejutnya, saat berada di masjid tersebut, plang ancaman hingga besi-besi berserakan.

"Di sana plang besar, bertuliskan 'Kalau ada yang berani salat disini, masjid ini akan dihancurin'. Di situ saya panggil semua teman saya, mereka datang dan jaga-jaga takut emang ada yang mau ngehancurin," ujarnya.

Setelah dua hari menunggu rupanya tidak ada, semua temannya pun akhirnya memutuskan untuk pergi. Namun, tidak berselang lama, rupanya 'preman' yang memasang plang tersebut datang dan disitu pertikaian terjadi.

Proses mediasi, negosiasi, hingga berbagai tekanan sempat dilalui. Hingga akhirnya, kesepakatan pun terjadi. Di mana, Saepul harus menyetorkan sejumlah uang sebagai kompensasi kepada preman tersebut agar bisa mendirikan masjid.

"Awalnya saya bingung uang dari mana. Saya berdoa ke Allah, ternyata ada aja bantuannya. Ada yang tiba-tiba ngasih uang untuk bantu ngebebasin masjid. Ada yang ngasih tapi engga mau disebut namanya. Ada aja bantuannya," katanya.

Usai kesepakatan itu, tensi pertentangan mulai mereda dari segi preman. Namun setelah itu, dari aparatur negara pun datang. Sebab, seperti yang diketahui masjid itu memang ilegal dan berada di lahan milik pemerintah.

Perusahaan BUMD hingga pihak kecamatan pun sempat berselisih dengan Saepul. Namun dengan berbagai pendekatan hingga alasan yang logis untuk mensejahterakan kondisi lingkungan sekitar tersebut, akhirnya mereka semua tidak mempermasalahkan.

"Di situ saya diminta untuk tidak menutup atap. Soalnya kalau ditutup, ketika angin lagi tinggi bisa ambrol. Terus pihak pemerintah pun memberikan aturan-aturannya. Memang ecara atran mereka tak berhak mengirimkan izin tertulis," ucapnya.

"Tapi secara lisan, saya melihat mereka akhirnya membiarkan. Dengan catatan yang aturan-aturan tersebut dipenuhi. Makanya hingga saat ini saya lanjutin. Balik lagi niat saya ini demi kemaslahatan masyarakat di sini," ujarnya.

Situasi mulai lebih tenang pada 2024, selepas Ramadan. Sejak itu, aktivitas ibadah berjalan lebih kondusif. Masjid ini dibuka 24 jam. Memasuki bulan suci Ramadan 1447 hijriah suasana di Masjid Hijrah BJTB terasa lebih hidup. 

Setiap sore, jika terdapat donatur ataupun swadata pengurus takjil dan hidangan berbuka dibagikan. Tak sampai disitu selain Salat wajib, selama Ramadan juga salat tarawih digelar secara rutin, disertai tausiah sebelum ibadah dan tadarus Al-Qur'an.

"Konsepnya memang terbuka seperti jni 24 jam. Ya, alhamdulillah kami sediain air gratis, casan gratis, parkir gratis. Dan alhamdulillah dari mulai masjid berdiri, mudah-mudahan tidak ada yang kehilangan motor di sini," katanya.

Bagi Saepul, keberadaan masjid ini bukan semata soal bangunan fisik. Dirinya menyadari, lahan itu bukan miliknya dan sewaktu-waktu bisa saja dibongkar. Namun dirinya meyakini setiap amal yang dilakukan telah tercatat.

Yang terpenting baginya, tempat yang dulunya dikenal negatif kini berubah menjadi ruang ibadah dan persinggahan yang membawa manfaat. Di mana, Masjid Hijrah BJTB ini menjadi simbol sederhana tentang perubahan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.