Laporan Reporter POS-KUPANG. COM, Alexandro Novaliano Demon Paku
POS-KUPANG. COM, OELAMASI - Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kupang, Marthen Rahakbauw, menyebut dugaan temuan daging berulat dalam paket Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SD Negeri Nekon menjadi bahan evaluasi menyeluruh bagi pelaksanaan program di daerah tersebut.
Menurutnya, kejadian itu merupakan yang pertama kali terjadi sejak MBG berjalan di Kabupaten Kupang.
“Sampai saat ini, kejadian seperti ini baru pertama kali terjadi di Kabupaten Kupang,” ujarnya Kepada POS.KUPANG, Senin (2/3/2026).
Marthen menjelaskan, saat ini terdapat sekitar 18 hingga 20 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang beroperasi di Kabupaten Kupang.
Baca juga: Video Daging Berulat di MBG Kupang NTT Viral, Bupati Yosef Lede Siap Beri Sanksi Tegas kepada SPPG
Layanan tersebut menjangkau peserta didik mulai dari PAUD, TK, SD, SMP hingga SMA. Bahkan, ke depan program MBG juga direncanakan akan menjangkau posyandu dan lansia.
Ia berharap pihak SPPG sebagai mitra kerja benar-benar memperhatikan standar higienitas dan kualitas bahan pangan sebelum diolah dan didistribusikan ke sekolah-sekolah.
“Harapan kami, dalam mempersiapkan kebutuhan makan anak-anak ini, unsur higienis, kesehatan dan kelayakan dari semua bahan pokok seperti sayur-sayuran, daging, ikan, telur dan sebagainya harus mengikuti prosedur atau standar kualitas. Sehingga anak-anak mendapatkan makanan yang berkualitas,” ujarnya.
Menurutnya, tujuan utama program MBG adalah memastikan anak-anak memperoleh asupan gizi yang baik serta memiliki daya tahan tubuh untuk mengikuti proses pembelajaran secara optimal.
Sebelumnya, video berdurasi sekitar 40 detik yang memperlihatkan dugaan daging berulat dalam paket MBG viral di media sosial. Rekaman tersebut disebut terjadi di SD Negeri Nekon, Kecamatan Fatuleu, Senin (23/2/2026).
Dalam video itu, seorang ibu memperlihatkan isi kotak makanan dan menyoroti potongan daging yang diduga terdapat belatung.
“Ini lihat ulat semua di daging. Anak-anak makan ini,” terdengar suara dalam rekaman tersebut.
Narasi yang beredar menyebutkan paket makanan itu tidak hanya dibagikan kepada siswa di SD Negeri Nekon, tetapi juga disalurkan ke Posyandu Oebaha di Desa Tolnaku, Kabupaten Kupang.
Viralnya video tersebut menimbulkan kekhawatiran publik terkait standar keamanan pangan dalam pelaksanaan program MBG, khususnya menyangkut pengawasan kualitas bahan baku, pengolahan, hingga distribusi makanan.
Marthen menegaskan, mekanisme kontrol kualitas mulai dari SPPG hingga di tingkat sekolah harus dijaga dengan baik agar kejadian serupa tidak terulang dan kepercayaan masyarakat tetap terpelihara. (nov)