Tribunlampung.co.id, Lebanon - Suasana mencekam tergambar di pusat kota Lebanon, menyusul gelombang serangan yang dilancarkan Israel terhadap Hizbullah.
Kepanikan besar terjadi di setiap sudut kota pada Senin (2/3/2026).
Ribuan warga kocar-kacir meninggalkan rumah mereka menyusul peringatan evakuasi yang dikeluarkan militer Israel di tengah eskalasi konflik dengan Hizbullah.
Dikutip Tribunlampung.co.id dari Tribunnews.com, ketegangan ini memperbesar kekhawatiran akan pecahnya perang terbuka Israel–Hizbullah yang dapat menyeret kawasan Timur Tengah ke konflik lebih luas.
Militer Israel melalui juru bicaranya, Ella Waweya, meminta warga di lebih dari 50 kota dan desa di Lebanon selatan serta timur untuk segera menjauh minimal 1.000 meter dari tempat tinggal mereka.
Baca juga: Petinggi Hizbullah Dilaporkan Tewas Seusai Israel Luncurkan Rudal ke Lebanon
“Demi keselamatan Anda, segera evakuasi rumah Anda dan pindah setidaknya 1.000 meter dari desa Anda ke area terbuka,” ujar Waweya dalam pernyataan resmi di platform X.
Tak lama setelah peringatan itu, eksodus massal terjadi dari Dahiyeh, pinggiran selatan Beirut yang dikenal sebagai basis kuat Hizbullah serta sejumlah wilayah di Lebanon selatan.
Jalan raya menuju Beirut macet total. Mobil dan sepeda motor berjejer panjang. Sebagian warga bahkan melarikan diri dengan berjalan kaki, membawa tas seadanya.
Puluhan sekolah dibuka sebagai tempat penampungan darurat. Beberapa keluarga terlihat bertahan di jalanan pusat kota dan kawasan tepi laut Beirut karena tidak memiliki tempat tujuan.
Seorang ayah dari tiga anak, yang meminta identitasnya dirahasiakan, menggambarkan kepanikan yang terjadi saat serangan dimulai.
“Kami sedang duduk di rumah dan tiba-tiba ini terjadi. Kami terkejut dan segera berkemas, membangunkan anak-anak, dan masuk ke dalam mobil. Sekarang kami terjebak di jalan karena pengungsian besar-besaran dari selatan,” ujarnya.
Ia mengaku mengemudi tanpa tahu ke mana harus pergi.
“Kami lelah harus meninggalkan rumah dan tanah kami berulang kali,” katanya dengan nada letih.
Mengutip dari The Middle East, eskalasi konflik bermula ketika Hizbullah meluncurkan serangan roket dan drone ke Israel utara sebagai “balas dendam” atas tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dalam operasi gabungan AS–Israel di Teheran.
Sebagai respons, Israel menggempur sejumlah titik strategis di Lebanon melalui serangan udara besar-besaran.
Target serangan meliputi Dahiyeh di pinggiran selatan Beirut, sejumlah kota di Lebanon selatan, hingga Lembah Beqaa di bagian timur negara itu.
Pemerintah Israel menyatakan serangan tersebut menyasar fasilitas dan personil Hizbullah yang dianggap melanggar kesepakatan gencatan senjata tahun 2024.
Namun nyatanya dampak serangan itu cukup besar. Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan sedikitnya 31 orang tewas dan 149 lainnya luka-luka.
Dari jumlah tersebut, 20 korban tewas dan 91 orang luka berada di Beirut, sementara 11 korban tewas dan 58 luka-luka tercatat di wilayah selatan Lebanon.
Situasi ini mengingatkan kembali pada perang besar tahun 2024 yang menyebabkan kehancuran luas di Lebanon dan menewaskan banyak warga sipil.
Konflik tersebut juga melemahkan struktur komando Hizbullah, termasuk tewasnya pemimpin lamanya, Hassan Nasrallah.
Sejak gencatan senjata diberlakukan, Israel masih melakukan serangan berkala di wilayah selatan Lebanon, namun serangan roket terbaru yang diklaim Hizbullah kini menjadi titik balik baru dalam dinamika konflik.
Eskalasi terbaru ini terjadi saat pemerintah Lebanon berupaya mencegah Hizbullah terlibat dalam perang regional yang lebih luas, khususnya yang berkaitan dengan Iran.
Dengan meningkatnya intensitas serangan udara, munculnya gelombang pengungsian warga sipil, serta ancaman langsung terhadap pimpinan Hizbullah, risiko perang terbuka di kawasan semakin besar.
Lebanon kini kembali berada di persimpangan krisis antara menjaga stabilitas dalam negeri atau terseret lebih jauh ke dalam pusaran konflik Timur Tengah yang kian memanas.