Wawancara Khusus : Serangan AS-Israel ke Iran Dipicu Ambisi Geopolitik dan Ancaman Nuklir
Nolpitos Hendri March 03, 2026 12:29 AM

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Berikut wawancara khusus Pemred Tribun Pekanbaru, Erwin Ardian dengan Pakar Hukum Internasional Universitas Muhammadiyah Riau, Fahmi Salsabila.

Baca juga: Arti Kata Keep Strong, Keep Strong Artinya, Contoh Kalimat, Arti Keep Strong dalam Bahasa Gaul

Perang yang pecah pada 28 Februari 2026 antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran langsung mengguncang dunia.

Serangan udara besar-besaran dikabarkan menghantam sejumlah titik strategis di Teheran dan menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, bersama sejumlah petinggi militer.

Iran pun membalas dengan serangan rudal dan drone ke wilayah Israel serta pangkalan militer AS di kawasan Teluk.

Konflik meluas, korban sipil berjatuhan, dan kekhawatiran eskalasi perang di Timur Tengah semakin besar.

Lalu apa motif, seberapa canggih serangannya, dan ke mana arah konflik?

Topik ini dibahas dalam podcast Ape Kesah di kanal YouTube Tribun Pekanbaru Official bersama pakar hukum internasional Universitas Muhammadiyah Riau, Fahmi Salsabila, MSi, yang dipandu Pimred Tribun Pekanbaru, Erwin Ardian.

Berikut petikan wawancaranya:

Pemred Tribun Pekanbaru - Erwin Ardian : Apa alasan Amerika dan Israel akhirnya menyerang Iran, padahal negosiasi disebut masih berjalan?

Fahmi: Ini memang di luar banyak prediksi. Sejak Revolusi Iran 1979, hubungan Iran dengan Amerika memang konfrontatif. Iran sudah lama diembargo, tapi tetap bertahan dan bahkan berkembang secara militer.

Iran kini memiliki rudal hipersonik, drone canggih, dan kemampuan pengayaan nuklir hingga 60 persen. Itu yang membuat Barat khawatir. Memang belum ada bukti Iran memiliki senjata nuklir, tapi kemampuan menuju ke sana sudah ada.

Israel tidak ingin ada negara di Timur Tengah yang memiliki kemampuan nuklir. Sementara Amerika, dengan doktrin realisnya, ingin tetap menjadi aktor utama dunia. Jika ada negara yang dianggap menandingi, maka akan ditekan atau ditaklukkan.

Pemred Tribun Pekanbaru - Erwin Ardian : Bagaimana serangan itu bisa sangat presisi? Sekali serang langsung mengenai tokoh-tokoh utama. Apakah teknologinya sudah secanggih itu?

Fahmi: Kita harus akui, teknologi militer Amerika dan Israel sangat mumpuni. Mereka punya satelit canggih, sistem penginderaan jarak jauh, dan rudal presisi yang dipandu satelit.

Dengan kombinasi teknologi dan strategi militer, target bisa dikunci dengan sangat akurat. Ini menunjukkan ada kelemahan dalam sistem keamanan Iran, sehingga lokasi para petinggi bisa diketahui. Ini juga menjadi alarm bagi para pemimpin tingkat tinggi di berbagai negara.

Pemred Tribun Pekanbaru - Erwin Ardian : Jadi mereka memang sudah tahu posisi orang per orang yang menjadi target?

Fahmi: Kalau melihat hasilnya yang presisi, kemungkinan besar iya. Bukan hanya Ayatollah Khamenei, tapi juga komandan IRGC dan sejumlah pejabat tinggi lainnya menjadi sasaran.

Bahkan disebut-sebut presiden juga menjadi target, meski tidak terkena. Tujuannya jelas: mengguncang dan melemahkan rezim, bahkan membuka peluang perubahan kekuasaan dengan dukungan kelompok oposisi.

Pemred Tribun Pekanbaru - Erwin Ardian : Seberapa besar peran intelijen dalam perang ini?

Fahmi: Sangat besar. Intelijen adalah kunci. Kita tahu Mossad Israel dikenal sangat kuat. Ada candaan di kalangan politisi, di mana pun bisa saja ada agen mereka.

Pelacakan bisa dilakukan lewat berbagai cara, bahkan melalui perangkat pribadi seperti ponsel. Teknologi pelacakan sekarang sangat canggih. Jadi bukan hal mustahil posisi target bisa diketahui secara detail.

Pemred Tribun Pekanbaru - Erwin Ardian : Apakah Khamenei tidak berada di bunker saat serangan?

Fahmi: Informasi yang beredar menyebutkan beliau terkena reruntuhan bangunan akibat serangan udara. Artinya, kemungkinan tidak berada di bunker khusus saat serangan terjadi.

Pemred Tribun Pekanbaru - Erwin Ardian : Setelah Khamenei wafat dan sudah ditunjuk pengganti sementara, bagaimana ke depan? Apakah Iran akan melunak atau justru semakin keras?

Fahmi: Itu tergantung siapa yang akan memimpin. Jika yang terpilih adalah sosok yang masih satu garis keras dan memiliki kedekatan dengan IRGC, maka perlawanan kemungkinan akan terus berlanjut.

Saat ini Amerika masih terus menggempur. Apakah Iran akan bertekuk lutut atau justru semakin keras melawan, kita masih harus menunggu perkembangan berikutnya.

Pemred Tribun Pekanbaru - Erwin Ardian : Ada prediksi perang bisa berlangsung tiga pekan. Melihat kondisi sekarang yang makin masif, apakah itu realistis?

Fahmi: Sulit diprediksi selesai cepat. Iran sudah menyerang wilayah yang memiliki pangkalan militer AS. Pecahan rudal di negara-negara tetangga juga menimbulkan korban.

Jika Iran merasa kehilangan figur sebesar Khamenei, balasannya bisa habis-habisan. Konflik ini berpotensi meluas, bukan hanya Iran, Israel, dan Amerika, tapi juga negara-negara Teluk dan Arab yang selama ini menjadi sekutu AS.

Api di Timur Tengah ini bisa merembet ke banyak negara. Selama ini beberapa negara Arab memang menginginkan Iran melemah. Tapi jika perang membesar, semua pihak bisa terdampak.

( Tribunpekanbaru.com / Syaiful Misgiono )

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.