Tak Hakimi Sasetyaningtyas, Rocky Gerung Pernah Minta Awardee LPDP Polandia Tak Balik: Dilema Moral
ninda iswara March 03, 2026 03:05 AM

TRIBUNTRENDS.COM - Polemik yang menyeret alumni LPDP, Dwi Sasetyaningtyas, kembali memantik perdebatan tentang nasionalisme setelah ia memamerkan paspor WNA Inggris milik anaknya, sementara sang suami yang juga penerima beasiswa disebut belum menuntaskan kewajiban pengabdian pada negara.

Di tengah riuh isu tersebut, pengamat politik Rocky Gerung justru mengangkat kisah lamanya saat berada di Warsawa, Warsawa, Polandia.

Kala itu, ia diundang mengisi kuliah dan berdialog dengan mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh studi doktoral melalui program LPDP.

Dalam sesi tanya jawab, seorang mahasiswi yang hampir menuntaskan disertasinya menyampaikan kegelisahan yang selama ini ia pendam.

“Pak Rocky, saya sudah selesai menulis disertasi, sudah lulus atau mungkin baru mau ujian, tapi saya punya dilema. Bagaimana menurut Pak Rocky kalau saya enggak pulang ke Indonesia? Saya dapat LPDP dan kewajiban moral saya demi patriotisme, demi nasionalisme untuk mengabdi ke Indonesia,” tutur Rocky menirukan pertanyaan mahasiswi tersebut dikutip dari YouTube-nya yang tayang pada Senin (2/3/2026).

Baca juga: Hotman Paris Minta Status WNI Dwi Sasetyaningtyas Dicabut & Harta Disita, Anhar: Kembalikan Uangnya

Pertanyaan itu, menurut Rocky, bukan sekadar soal pulang atau tinggal, melainkan benturan antara idealisme dan realitas.

Sang mahasiswi mengaku dihantui kekhawatiran jika harus kembali dan bekerja di lingkungan yang tak sejalan dengan nilai moralnya.

"Tetapi kalau saya pulang nanti, saya akan mengabdi kepada atasan saya. Setiap hari tugas saya adalah mark up. Jadi saya punya dilema moral," lanjut Rocky menirukan.

Kisah tersebut kemudian diposisikan Rocky sebagai refleksi tentang makna pengabdian, apakah selalu identik dengan kepulangan fisik ke tanah air.

Di tengah polemik yang berkembang, cerita itu pun memperluas diskusi: antara nasionalisme, integritas pribadi, dan pilihan hidup yang tak selalu hitam-putih.

Respons Rocky

Menurut Rocky, persoalan tersebut tidak bisa dipandang sederhana.

Ia menilai nasionalisme tidak boleh dimaknai sekadar kewajiban administratif.

"Jadi, dia punya dilema moral, mau balik ke Indonesia tetapi dia enggak mau kembali untuk melayani bosnya dia yang koruptor atau dia tinggal di luar negeri, cari kerjaan sambil berupaya untuk memahami apa sebetulnya yang disebut sebagai pilihan hidup," katanya. 

Dalam kesempatan itu, Rocky mengaku memberikan jawaban yang cukup tegas.

"Saya nekat saja bilang, enggak usah pulang. Anda tidak berutang pada negara, Anda berutang pada saya. Dan saya enggak mau utang itu dibayar dengan Anda kembali kepada bos yang koruptor. Artinya Anda membesarkan korupsi," kata Rocky.

Perdebatan mengenai kewajiban pulang bagi penerima LPDP, kata Rocky, semestinya tidak serta-merta dikaitkan dengan tudingan tidak patriotik.

Tak buru-buru menghakimi

Rocky meminta publik tak terburu-buru menghakimi pilihan hidup seseorang hanya karena persoalan kewarganegaraan.

Ia menilai, nasionalisme tak selalu harus diukur dari status paspor atau tempat tinggal. 

"Kasus yang di Inggris itu, oke mungkin ada soal lain, tetapi kita enggak boleh langsung menghakimi," ujarnya seperti dikutip dari YouTubenya yang tayang pada Senin (2/3/2026). 

Baca juga: Status WNA Anak Dwi Sasetyaningtyas Janggal? Ditjen AHU Jelaskan, Bisa Langgar Hak Perlindungan Anak

Rocky Gerung minta tak buru-buru hakimi Dwi Sasetyaningtyas
Rocky Gerung minta tak buru-buru hakimi Dwi Sasetyaningtyas (Ist)

Bisa jadi lebih patriotis

Rocky pun kemudian membuat sebuah ilustrasi. 

Ia membayangkan anak Dwi yang berstatus WNA Inggris kelak bisa saja bergabung dengan organisasi kemanusiaan internasional, seperti Greenpeace atau komunitas relawan global yang bergerak membantu korban bencana. 

"Bayangkan si anak tadi, yang Warga Negara Inggris ada bencana di Indonesia terus dia kumpulkan teman-temannya se-Eropa itu untuk datang ke Indonesia dan membantu Indonesia. Bukankah dia lebih patriotis?" katanya. 

Menurutnya, tindakan si anak itu jauh lebih patriotis ketimbang menteri-menteri saat ini yang tak bisa menyelesaikan masalah bencana yang terjadi di Indonesia.

"Bukan kah dia lebih patriotis, ketimbang menteri-menteri yang sampai sekarang enggak tahu cara menyelesaikan bencana. Kan itu intinya kan," ucapnya. 

Rocky juga menyinggung kemungkinan lain, misalnya jika anak tersebut aktif menyuarakan isu lingkungan dan mengkritik perusakan alam di Indonesia dari panggung internasional.

"Atau, dia bergabung dengan Greenpeace lalu mulai bikin protes, terhadap perusakan lingkungan di Indonesia," katanya.

Menurut Rocky, meski anak Dwi Sasetyaningtyas kini berstatus Warga Negara Inggris, hal itu tidak berarti ia tak peduli terhadap Indonesia. 

"Suatu waktu itu kita akan sesali nanti. Kenapa? Karena pilihan hari ini bukan diikat oleh semacam ketidakpedulian pada Indonesia, tapi mungkin menghindar sebentar dari ketidakpedulian itu supaya bisa punya refleksi. Jadi kita mesti selalu hati-hati tuh," jelasnya. 

Ia menegaskan, persoalan LPDP dan kewajiban pulang ke Indonesia tidak bisa dilihat secara hitam dan putih. 

Menurutnya, tak bisa serta-merta menyebut mereka yang belum atau tidak pulang sebagai tidak patriotik.

" Jadi enggak ada yang penting sebetulnya mempersoalkan mereka yang merasa belum layak pulang ke Indonesia karena mungkin pertimbangan mereka pulang jadi ASN tapi uangnya kurang."

"Jadi begitu kompleks sebetulnya LPDP ini. Jadi jangan dinyatakan bahwa yang tidak pulang itu tidak patriotik," pungkasnya. 

Sebelumnya, seorang alumnus atau penerima beasiswa LPDP, Dwi Sasetyaningtyas memicu polemik di media sosial.

Konten yang menyinggung status kewarganegaraan anaknya itu ramai diperbincangkan karena Dwi merupakan penerima beasiswa negara.

Polemik bermula dari video yang diunggah di Instagram dan Threads miliknya.

Dalam video tersebut, Dwi memperlihatkan surat dari otoritas Inggris terkait kewarganegaraan anak keduanya yang resmi menjadi British citizen.

“I know the world seems unfair. Tapi cukup aku aja yang WNI, anak-anakku jangan. Kita usahakan anak-anak dengan paspor kuat WNA itu,” ujarnya dalam unggahan tersebut.

Unggahan itu segera viral dan memicu respons keras dari warganet.

Banyak yang menilai narasi tersebut kurang bijak disampaikan oleh seorang awardee LPDP, mengingat beasiswanya dibiayai negara.

Polemik pun berkembang.

Tak hanya isi konten yang diperdebatkan, kehidupan pribadi Dwi dan suaminya ikut dikulik, termasuk soal kewajiban pengabdian sebagai penerima beasiswa LPDP.

Dwi sendiri tercatat sebagai Sarjana Teknik Kimia dari Institut Teknologi Bandung (ITB). Ia melanjutkan studi magister di Delft University of Technology, Belanda, mengambil jurusan Sustainable Energy Technology dengan beasiswa LPDP pada 2015 dan lulus pada 2017.

Selama masa pengabdian di Indonesia pada 2017–2023, Dwi menginisiasi penanaman 10.000 pohon bakau di berbagai pesisir, memberdayakan ibu rumah tangga agar berpenghasilan dari rumah, terlibat dalam penanggulangan bencana di Sumatera, hingga membangun sekolah di Nusa Tenggara Timur (NTT).

(TribunTrends/TribunJakarta)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.