SURYAMALANG.COM, - Memasuki pertengahan pekan di bulan Ramadhan, ketepatan waktu sahur dan sholat menjadi panduan penting bagi umat Muslim di Jawa Timur.
Untuk wilayah Malang Raya, Surabaya, hingga Blitar, waktu Imsak pada Selasa, 3 Maret 2026 terpantau berada di rentang pukul 04.08 hingga 04.10 WIB.
Selain informasi jadwal teknis, Ramadhan kali ini juga diwarnai pesan spiritual dari KH M Zainul Ibad As’ad tentang pentingnya syukur dan bakti orang tua sebagai kunci kesehatan mental.
Berikut jadwal imsakiyah di Malang Raya dan wilayah sekitarnya Selasa 3 Maret 2026:
1. Kota Malang : 04:08 WIB
2. Kabupaten Malang : 04.09 WIB
3. Kota Batu : 04.09 WIB
4. Kota Surabaya : 04:08 WIB
5. Kabupaten Sidoarjo : 04:08 WIB
6. Kota Blitar: 04:10 WIB
7. Selengkapnya untuk wilayah lain bisa dilihat di sini : LINK
Melalui situs tersebut, masyarakat di seluruh Indonesia bisa mendapatkan informasi jadwal imsakiyah di wilayahnya dari 1 Ramadhan hingga 30 Ramadhan.
Jika ingin mengetahui informasi jadwal imsakiyah di wilayah Anda, ada pilihan "Provinsi", kemudian "Kabupaten/Kota".
Berikut jadwal sholat di Malang Raya dan wilayah sekitarnya Selasa 3 Maret 2026:
Kota Malang
Imsak Subuh Terbit Dhuha Zhuhr ‘Ashr Maghrib ‘Isya’
04:08 04:18 05:31 05:58 11:45 14:48 17:52 19:01
Kabupaten Malang
Imsak Subuh Terbit Dhuha Zhuhr ‘Ashr Maghrib ‘Isya’
04:09 04:19 05:31 05:59 11:45 14:48 17:52 19:01
Kota Batu
Imsak Subuh Terbit Dhuha Zhuhr ‘Ashr Maghrib ‘Isya’
04:09 04:19 05:27 05:59 11:45 14:48 17:56 19:01
Kota Surabaya
Imsak Subuh Terbit Dhuha Zhuhr ‘Ashr Maghrib ‘Isya’
04:08 04:18 05:31 05:58 11:45 14:46 17:51 19:00
Kabupaten Sidoarjo
Imsak Subuh Terbit Dhuha Zhuhr ‘Ashr Maghrib ‘Isya’
04:08 04:18 05:31 05:58 11:45 14:46 17:51 19:00
Kota Blitar
Imsak Subuh Terbit Dhuha Zhuhr ‘Ashr Maghrib ‘Isya’
04:10 04:20 05:33 06:00 11:47 14:50 17:54 19:03
Suasana khusyuk menyelimuti kajian Ramadan yang diselenggarakan Pusat Studi Qur’an Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (Unipdu) Jombang, Rejoso, Kecamatan Peterongan, Kabupaten Jombang pada Senin (2/3/2026) siang.
Dalam forum tersebut, Pembina Yayasan Pesantren Tinggi Darul Ulum, KH M Zainul Ibad As’ad, mengupas tema tentang pentingnya syukur sebagai fondasi kesehatan mental dan ketenteraman batin.
Baca juga: Rangkaian Doa di Bulan Ramadhan yang Dibaca Rasulullah SAW, Kunci Langit untuk Meraih Berkah Utuh
Sebelum memasuki pembahasan utama, KH Zainul Ibad terlebih dahulu mengajak jamaah memanjatkan doa atas wafatnya Ali Khamenei.
Zainul menyebut almarhum sebagai figur yang dikenal lantang menyuarakan kebenaran di tengah dinamika politik global.
Memasuki inti kajian, ulama yang akrab disapa Gus Ulib itu menegaskan syukur bukan sekadar lafaz di lisan.
Dalam pandangannya, syukur merupakan bagian dari rangkaian amal yang saling terhubung dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain.
Gus Ulib mencontohkan sejumlah perintah dalam Al-Qur’an yang selalu disebut secara berdampingan, seperti kewajiban mendirikan salat dan menunaikan zakat.
Menurut Gus Ulib, menjalankan salah satu tanpa yang lain membuat amalan menjadi tidak sempurna.
Baca juga: Doa 10 Hari Kedua Ramadhan 1447 H dan 4 Amalan Penghapus Dosa di Fase Maghfirah
Prinsip yang sama juga berlaku pada ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya yang harus berjalan seiring.
Konsep tersebut, lanjutnya, juga tercermin dalam ajaran tentang syukur.
Dalam Surah Luqman, manusia diperintahkan untuk bersyukur kepada Allah sekaligus berterima kasih kepada kedua orang tua; mengabaikan salah satunya dapat mengurangi nilai amal yang dilakukan.
"Syukur kepada Allah harus diwujudkan pula dalam sikap hormat dan bakti kepada orang tua," ucapnya di hadapan jamaah.
Gus Ulib menjelaskan, bentuk syukur tidak berhenti pada pengakuan bahwa segala nikmat berasal dari Tuhan.
Lebih dari itu, syukur harus terwujud dalam tindakan nyata, termasuk perhatian, doa, dan berbagi rezeki kepada orang tua, baik ketika mereka masih hidup maupun setelah wafat.
Baca juga: Tata Cara dan Niat Sholat Tahajud di Rumah Sendiri, Waktu Terbaik Melaksanakannya Saat Ramadhan 2026
Menurutnya, perjalanan hidup seseorang tidak lepas dari peran dan doa orang tua, sehingga keberhasilan sering kali berkaitan erat dengan keridaan mereka.
Gus Ulib mengingatkan bahwa ridha Allah sejalan dengan ridha orang tua.
Dalam pemaparannya, Gus Ulib juga mengaitkan sikap syukur dengan kondisi psikologis seseorang.
Gus Ulib menilai banyak persoalan batin bermula dari rasa tidak puas dan sulit menerima keadaan.
Sebaliknya, hati yang dipenuhi rasa syukur cenderung lebih tenang dan stabil.
"Ketika hati mampu menerima dan mensyukuri nikmat sekecil apa pun, ketenteraman akan mengikuti. Dari situlah kesehatan mental tumbuh," ujarnya melanjutkan.
Kajian tersebut ditutup dengan ajakan untuk menjadikan Ramadan sebagai momentum memperbaiki kualitas syukur, tidak hanya dalam hubungan vertikal kepada Allah, tetapi juga dalam relasi sosial, terutama kepada orang tua.
"Mari jadikan bulan Ramadan ini sebagi momentum untuk muhasabah diri, dan memperbaiki diri, menambah rasa syukur," pungkas Gus Ulib.
(Reporter Suryamalang.com/Anggit Pujie Widodo)