TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Para santri di Pesantren Raudhatul Qur’an, Kauman, Kota Semarang, tak hanya fokus menghafal Al-Qur’an.
Mereka juga belajar menjalankan klinik kesehatan sekaligus berdagang melalui siaran langsung di media sosial sebagai bekal kemandirian.
Pesantren yang berada di pusat Kota Semarang itu memang mengusung konsep pesantren kota.
Lokasinya di kawasan Semarang Tengah membuat santri hidup di tengah aktivitas ekonomi dan sosial yang padat.
Satu diantara gedung Pondok Pesantren Raudlatul Qur'an Kauman menjadi titik yang cukup sibuk. Ruangan tersebut dibagi menjadi beberapa, satu sebagai klinik kecantikan dan satu ruangan digunakan untuk berjualan secara live.
Beberapa barang dagangan seperti sarung, baju koko, abaya, kerudung dipamerkan oleh santri di depan gawainya yang digunakan untuk live menjangkau warganet di akun Santri Tengah Kota.
Apalagi momen Ramadan menjadi berkah sendiri, tak sedikit masyarakat yang membeli untuk persiapan lebaran.
Pengasuh pesantren, KH Khammad Ma'sum, mengatakan pola pembinaan santri harus menyesuaikan dengan lingkungan sekitar.
“Santri harus bisa menempatkan diri. Harus bisa berdakwah di tengah-tengah kota, di tengah masyarakat kota,” tuturnya ditemui Tribun Jateng, Minggu (1/3).
“Pesantren ini ada di nol kilometer Kota Semarang. Jadi mereka hidup di pusat keramaian, bukan di pinggiran,” lanjutnya.
Menurutnya, bekal hafalan saja belum cukup. Santri perlu dipersiapkan agar tidak gagap ketika kembali ke masyarakat.
“Selain tahfidz, kita bekali mereka kursus komputer, bahasa Arab, dakwah. Ada juga pelatihan membuat roti, tata rias, sampai belajar mengemudi mobil. Itu supaya mereka siap bersosialisasi dan punya skill,” jelasnya.
Salah satu pengembangan keterampilan tersebut diwujudkan melalui pembukaan layanan kesehatan dan kecantikan bernama Kiwi Klinik. Klinik ini telah berjalan beberapa bulan dan melayani santri serta masyarakat sekitar.
“Anak-anak belajar mempercantik diri dan juga membantu orang lain. Klinik ini bukan sekadar layanan, tapi tempat praktik keterampilan mereka,” katanya.
Tak berhenti di situ, pesantren juga memanfaatkan media sosial sebagai sarana belajar berdagang.
Santri dilatih menggunakan platform Tiktok untuk siaran langsung sekaligus memasarkan produk melalui fitur keranjang belanja.
KH Khammad Ma’sum menjelaskan, sistem yang digunakan adalah afiliasi sehingga santri tidak perlu memiliki stok barang maupun modal besar.
“Kami ajarkan bahwa berdagang tidak harus punya produk sendiri. Tanpa tempat, tanpa modal besar, tetap bisa jualan lewat live. Mereka belajar komunikasi, belajar membaca pasar, dan belajar tanggung jawab,” ungkapnya.
Program live tersebut awalnya dijalankan untuk mengisi waktu menjelang berbuka puasa selama Ramadan atau ngabuburit. Namun ke depan, kegiatan itu akan dijadikan rutinitas dengan pengaturan waktu yang lebih terstruktur.
“Sekarang masih sambil ngabuburit. Nanti kita jadwalkan rutin, tentu tidak boleh mengganggu hafalan. Tahfidz tetap prioritas,” tegasnya.
Ia menyebut, program live dagang tersebut baru berjalan hampir dua bulan. Meski masih tahap awal, sejumlah transaksi sudah berhasil dilakukan dan santri mulai mendapatkan komisi dari penjualan.
“Ini baru permulaan. Tapi mereka sudah mulai merasakan hasilnya. Setidaknya mereka tahu caranya, paham prosesnya. Itu bekal penting ketika nanti kembali ke masyarakat,” ujarnya.
Pesantren saat ini memiliki sekitar 300 santri mukim, mayoritas santri putri, dengan target hafalan 30 juz. Seluruh kegiatan keterampilan akan dievaluasi jika dinilai mengganggu capaian utama tersebut.
Dengan pendekatan ini, pesantren berupaya memadukan pendidikan tahfidz dengan kesiapan sosial dan ekonomi.
Di tengah hiruk-pikuk kota, para santri belajar bahwa berdakwah tak selalu dari mimbar kadang dari layar ponsel, kadang dari ruang klinik, sambil tetap menjaga hafalan yang menjadi fondasi utama. (Rezanda Akbar)