TRIBUNJAKARTA.COM - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung merespons keluhan tenaga kesehatan (nakes) di Jakarta yang disebut tidak mengalami kenaikan gaji selama 10 tahun.
Ia mengaku ragu dengan klaim tersebut dan menyatakan akan mempelajarinya lebih lanjut.
“Kalau tidak pernah naik, masa sih nggak? Karena semuanya pasti mengalami kenaikan, karena itu kan nggak mungkin nggak ada kenaikan sama sekali,” ucap Pramono saat ditemui di kawasan Sarinah, Jakarta Pusat, Senin (2/3/2026).
Keraguan Pramono beralasan. Pasalnya, berdasarkan laporan yang diterimanya, gaji tenaga kesehatan di lingkungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, khususnya yang berstatus Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), secara umum sudah lebih tinggi dibandingkan sejumlah rumah sakit di Jakarta.
Ia menyebut pengecualian hanya terjadi pada rumah sakit swasta.
“Gaji tenaga kesehatan yang ada di Jakarta sebenarnya yang ada di PPPK ya, apakah itu juga kalau ASN kan pasti naik. Yang di PPPK kita, saya mendapatkan laporan sebenarnya sudah lebih tinggi daripada rumah sakit-rumah sakit yang ada di Jakarta, kecuali di Rumah Sakit Pondok Indah. Yang lain kita sudah lebih tinggi,” ujarnya.
Meski begitu, Pramono menegaskan akan menelusuri kembali data tersebut untuk memastikan kondisi riil di lapangan.
“Tapi saya untuk lebih jelasnya saya akan pelajari untuk itu ya,” ujar dia.
Sorotan terhadap gaji tenaga kesehatan sebelumnya disampaikan Anggota DPRD DKI Jakarta dari Fraksi Partai Solidaritas Indonesia, Justin Adrian Untayana.
Dalam rapat kerja Komisi E terkait Pra-Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) 2027, Justin mendesak pemerintah daerah segera menaikkan gaji tenaga kesehatan yang disebut tidak mengalami penyesuaian selama satu dekade.
Sekretaris Komisi E itu menilai peningkatan kesejahteraan penting mengingat beban kerja tenaga kesehatan terus meningkat, sementara risiko pekerjaan tetap tinggi.
“Dalam rapat hari ini, saya kembali mendesak Pemprov DKI untuk menaikkan gaji para tenaga kesehatan yang sudah 10 tahun belum juga naik,” kata Justin, Senin.
Justin menjelaskan jumlah tenaga kesehatan di Jakarta dinilai belum sebanding dengan jumlah penduduk yang harus dilayani.
Justin mengutip Sustainable Development Goals (SDG) yang merekomendasikan rasio 4,45 tenaga kesehatan untuk setiap 1.000 penduduk.
Menurut dia, rasio tenaga kesehatan di Jakarta lebih rendah yaitu 1,73 tenaga kesehatan, sehingga tenaga kesehatan di DKI cenderung memiliki beban kerja yang jauh lebih berat.
“Tenaga kesehatan kita memikul beban kerja dua sampai tiga kali lebih besar daripada yang semestinya,” jelasnya.
Menurut dia, beban kerja semakin besar karena fasilitas kesehatan di Jakarta juga melayani pasien dari daerah lain yang menggunakan Kartu Indonesia Sehat (KIS).
Dengan kondisi tersebut, tenaga kesehatan diperkirakan melayani sekitar 13 hingga 14 juta orang.
Ia juga mengingatkan pengorbanan tenaga kesehatan saat pandemi Covid-19, termasuk banyaknya tenaga medis yang gugur saat menjalankan tugas.
“Kita juga tidak bisa lupa terhadap pengorbanan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan-tenaga kesehatan kita ketika menghadapi pandemi Covid-19. Sudah ada banyak yang gugur dalam menjalankan tugasnya menyelamatkan nyawa orang lain,” lanjutnya.
Selain beban kerja, Justin menilai kenaikan harga kebutuhan pokok dalam 10 tahun terakhir ikut menekan kesejahteraan tenaga kesehatan.
Ia menyebut harga kebutuhan dasar meningkat sekitar 36 persen tanpa diikuti penyesuaian gaji.
“Jika kita menghitung inflasi selama 10 tahun terakhir, maka harga barang-barang kebutuhan pokok ini sudah naik sebanyak 36 persen. Sementara itu, gaji para tenaga kesehatan belum naik selama 10 tahun terakhir. Ini tidak bisa ditunda-tunda lagi. Rekan-rekan tenaga kesehatan tidak dapat menunggu untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya,” tegasnya.
Karena itu, ia mendorong pemerintah daerah segera menyesuaikan gaji tenaga kesehatan, terutama bagi yang belum mencapai Upah Minimum Provinsi sebagaimana diatur dalam Keputusan Gubernur Nomor 1142 Tahun 2025.
“Saya yakin Pak Pram orang baik dan orang baik memiliki nurani, sehingga tentu dapat mengingat jerih payah dari para tenaga kesehatan kita di DKI” pungkasnya.