Mengenal Ayatollah Alireza Arafi, Pemimpin Transisi Iran Sepeninggal Ali Khamenei, Ulama Senior
Febriana Nur Insani March 03, 2026 10:51 AM

TRIBUNTRENDS.COM - Perang yang kini meletus antara Amerika Serikat dan Iran telah benar-benar menjadi sorotan global.

Konflik ini mulai memanas ketika Amerika Serikat bersama sekutunya, Israel, melancarkan serangkaian serangan udara ke Iran pada 28 Februari 2026.

Tak lama kemudian, Amerika Serikat dan Israel mengkonfirmasi bahwa Ayatollah Ali Khamenei selaku pemimpin tertinggi Iran, tewas dalam serangan tersebut.

"Khamenei, salah satu orang paling jahat dalam sejarah, telah meninggal. 

Ini bukan hanya keadilan untuk rakyat Iran, tetapi untuk semua rakyat Amerika yang hebat, dan orang-orang dari banyak negara di seluruh dunia, yang telah dibunuh atau disiksa oleh Khamenei dan gengnya yang kejam," papar Trump.

Selain Khamenei, putri, menantu, dan cucunya juga ikut kehilangan nyawa pada momen tersebut.

Pemerintah Iran kemudian menetapkan masa berkabung selama 40 hari serta memberlakukan 7 hari libur nasional.

Terkait jabatan pemimpin tertinggi yang kosong sepeninggal Khamenei, Iran akhirnya membuat keputusan.

Ayatollah Alireza Arafi ditunjuk sebagai Pemimpin Transisi Iran.

Seperti apa sosoknya?

Arafi merupakan ulama senior yang lama berada di lingkaran elite keagamaan dan politik Iran. 

Penunjukan ini menjadi langkah penting dalam proses peralihan kepemimpinan di negara tersebut setelah wafatnya Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan udara gabungan Amerika Serikat–Israel di Teheran, Sabtu (28/2/2026).

Baca juga: DPR Peringatkan Prabowo, Jadi Mediator Iran-AS Butuh Kalkulasi Matang: Bukan Sekadar Jalan-jalan!

PENGGANTI ALI KHAMENEI - Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam serangan Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu (28/2/2026). Ayatollah Alireza Arafi kemudian ditunjuk sebagai Pemimpin Transisi Iran. (HO/Press Iran)

Siapa Alireza Arafi?

Ayatollah Alireza Arafi lahir pada 1959 di Meybod, Provinsi Yazd, dari keluarga ulama. Ia menempuh pendidikan agama di Kota Qom, pusat Pendidikan ulama Syiah Iran, di bawah bimbingan sejumlah cendekiawan terkemuka.

Arafi meraih gelar mujtahid, yang memberinya kewenangan untuk mengeluarkan fatwa atau putusan hukum Islam secara mandiri.

Kariernya melesat di bawah kepemimpinan Ayatollah Ali Khamenei. Ia dipercaya menduduki sejumlah posisi penting, termasuk menjadi imam shalat Jumat di Meybod dan kemudian di Qom—jabatan yang menunjukkan kepercayaan dari pucuk pimpinan tertinggi.

Arafi juga pernah memimpin Universitas Internasional Al-Mustafa, lembaga strategis yang melatih ulama dari Iran dan berbagai negara lain.

Pada 2019, ia diangkat sebagai anggota Dewan Garda, lembaga konstitusional berpengaruh yang bertugas menyeleksi legislasi dan kandidat politik. 

Menurut kajian lembaga kajian kebijakan luar negeri Council on Foreign Relations (CFR), kombinasi jabatan administratif dan teologis yang dipegang Arafi menempatkannya “secara kokoh di inti elite ulama Iran.”

Jalur konstitusional menuju kepemimpinan

Berdasarkan Konstitusi Iran, pemimpin tertinggi harus merupakan ulama Syiah senior yang dipilih oleh Majelis Ahli, badan terpilih yang terdiri dari para ulama. 

Setelah wafatnya Khamenei, Teheran terlebih dahulu membentuk dewan kepemimpinan sementara untuk menjalankan fungsi-fungsi utama hingga Majelis Ahli menetapkan pemimpin tertinggi yang baru, menurut Middle East Institute.

Penunjukan Arafi sebagai Pemimpin Transisi Iran terjadi di tengah perbincangan sejumlah nama lain yang muncul di ruang publik dan media pemerintah sebagai calon penerus Khamenei, baik dari kalangan garis keras maupun ulama yang lebih pragmatis.

Namun, posisinya di Dewan Garda dan Majelis Ahli memberinya keunggulan institusional saat keputusan suksesi diambil.

Pandangan dan arah kepemimpinan Arafi dikenal vokal mengenai peran lembaga Pendidikan agama dan ulama dalam mempromosikan Islam Syiah yang aktif secara politik. 

Dalam pernyataan sebelumnya, ia menegaskan, “Lembaga Pendidikan agama (di Iran) perlu berasal dari rakyat, bersolidaritas dengan kaum tertindas, bersifat politis [Islamis], revolusioner, dan internasional (dalam pendekatan).”

Pengamat menilai, meski Arafi memiliki pengalaman luas dalam birokrasi keagamaan Iran dan kredensial kuat di lingkaran elite, ia tidak memiliki basis politik independen di luar struktur institusional tersebut.

Faktor ini dinilai dapat memengaruhi gaya kepemimpinannya di tengah konflik eksternal dan ketidakpastian internal.

ALI KHAMENEI TEWAS - Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dikonfirmasi tewas oleh kantor berita Iran. Dia meninggal di tengah gempuran serangan udara Israel dan Amerika Serikat, Sabtu (28/2/2026).
ALI KHAMENEI TEWAS - Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dikonfirmasi tewas oleh kantor berita Iran. Dia meninggal di tengah gempuran serangan udara Israel dan Amerika Serikat, Sabtu (28/2/2026). (Instagram/@khamenei.english_)

Transisi kepemimpinan di Teheran

Ayatollah Ali Khamenei, yang memimpin Iran hampir 37 tahun, tewas pada 28 Februari 2026 dalam serangan gabungan AS–Israel.

Peristiwa itu memicu proses suksesi sekaligus masa berkabung nasional. 

Kenaikan Arafi sebagai Pemimpin Transisi Iran menjadi kali kedua peralihan kepemimpinan tertinggi sejak Revolusi 1979.

Momen ini menjadi ujian penting bagi kerangka politik Iran dan kemampuannya menjaga kohesi di bawah tekanan kondisi regional dan global.

(TribunTrends.com)(Kompas.com/Inas Rifqia Lainufar)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.