TRIBUN-MEDAN.com - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengungkapkan tujuan utama operasi militer negaranya terhadap Iran yang dinamai Operation Epic Fury.
Operasi tersebut berlangsung sejak 28 Februari 2026 dan disebut masih terus meluas hingga Lebanon.
Dalam pidato pada upacara penganugerahan Medal of Honor, Trump menegaskan militer AS tengah menjalankan operasi besar-besaran untuk menghancurkan ancaman yang diklaim berasal dari rezim Iran.
"Tujuan kami jelas. Kami sedang menghancurkan kemampuan rudal Iran secara terus-menerus, setiap jam, termasuk kapasitas mereka untuk memproduksi rudal baru," kata Trump, Senin (2/3/2026).
Trump menyebut operasi ini sebagai kelanjutan dari Operation Midnight Hammer yang sebelumnya menargetkan fasilitas nuklir Iran.
Trump merinci empat sasaran utama intervensi militer AS di Iran:
Trump juga mengaitkan operasi ini dengan sejarah panjang ketegangan selama 47 tahun, termasuk tuduhan keterlibatan Iran dalam serangan bom pinggir jalan (IED) terhadap tentara AS.
Ia kembali menyinggung nama Qasem Soleimani sebagai sosok penting di balik serangan-serangan tersebut.
Ancam Gelombang Serangan Baru
Dalam wawancara dengan CNN, Trump menyatakan bahwa "gelombang besar" serangan berikutnya masih akan datang.
"Kami sedang menghancurkan mereka. Segalanya berjalan sangat baik dan sangat kuat," ujarnya.
Trump mengklaim sedikitnya 49 pejabat tinggi Iran tewas dalam gelombang awal serangan. Ia juga menyebut kepemimpinan Iran kini dalam kondisi kacau.
Meski konflik kian meluas dan Iran melancarkan serangan balasan ke sejumlah negara Arab seperti Bahrain, Yordania, Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab, Trump menegaskan AS siap melanjutkan operasi selama diperlukan.
"Saya tidak akan bosan. Tidak ada yang membosankan tentang hal ini," tegasnya.
Di sisi lain, Trump menyatakan dukungan terhadap rakyat Iran untuk merebut kembali kedaulatan negaranya, namun memperingatkan bahwa situasi keamanan akan semakin berbahaya dalam waktu dekat.
(*/ Tribun-medan.com)