BANGKAPOS.COM, BANGKA - Kebutuhan daging sapi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung hingga kini masih bergantung pada pasokan dari luar daerah.
Sapi-sapi yang didatangkan dari Madura, Bali, Lampung, hingga Bima menjadi penopang utama konsumsi masyarakat, lantaran produksi peternakan lokal belum mencukupi permintaan pasar.
Kepala Bidang Ketahanan Pangan Dinas Pangan dan Pertanian Kota Pangkalpinang, Yiyi Zilaida Dwitri, mengatakan pola distribusi sapi dari luar daerah telah berlangsung lama dan menjadi sistem baku dalam pemenuhan kebutuhan daging di wilayah ini.
“Sapi umumnya didatangkan dari luar daerah, kemudian masuk ke pemilik atau penampung, dipotong di rumah potong hewan, lalu didistribusikan ke pasar-pasar,” ujarnya kepada Bangkapos, Jumat (27/2/2026).
Menurut Yiyi, daerah asal seperti Madura dan Bali dikenal sebagai sentra peternakan dengan populasi sapi yang besar dan stabil.
Baca juga: Laku Baru Bayar, Strategi Pedagang di Babel Jual Daging Jelang Lebaran
Kondisi itu membuat pasokan dari wilayah tersebut dinilai lebih terjamin untuk memenuhi kebutuhan rutin maupun lonjakan permintaan pada momen tertentu.
“Daerah seperti Madura dan Bali memang dikenal sebagai sentra sapi. Pasokan dari sana membantu menjaga ketersediaan daging di daerah kita,” katanya.
Setibanya di Bangka Belitung, sapi tidak langsung diperjualbelikan. Hewan ternak terlebih dahulu melalui pemeriksaan kesehatan sebelum dipotong di Rumah Potong Hewan (RPH).
Tahapan ini dilakukan guna memastikan daging yang beredar memenuhi standar kesehatan dan keamanan pangan.
“Sapi yang masuk diperiksa kesehatannya, kemudian dipotong di RPH agar daging yang beredar di pasar aman dan layak konsumsi,” jelasnya.
Setelah proses pemotongan, distribusi daging dilakukan berdasarkan kebutuhan masing-masing pasar.
Yiyi menyebutkan, karakteristik setiap lokasi penjualan berbeda, sehingga volume pasokan disesuaikan dengan pola konsumsi masyarakat.
“Distribusi daging sapi dari RPH dilakukan berdasarkan permintaan pasar. Pasar besar biasanya membutuhkan lebih banyak karena jam operasionalnya lebih lama, sedangkan pasar pagi kebutuhannya lebih terbatas,” ujarnya.
Pasar besar yang beroperasi hingga sore hari umumnya menyerap pasokan lebih tinggi.
Selain melayani konsumen rumah tangga, pasar tersebut juga memasok kebutuhan pelaku usaha kuliner seperti rumah makan dan pedagang olahan daging.
Sebaliknya, pasar pagi yang beroperasi hingga menjelang siang cenderung memiliki volume transaksi lebih kecil.
“Perbedaan jam operasional memengaruhi volume penjualan. Pasar besar bisa menjual lebih banyak karena waktu jualnya lebih panjang,” katanya.
Ia menegaskan, peran penampung sapi dan pengelola RPH sangat penting dalam menjaga kelancaran rantai distribusi.
Penampung menjadi titik awal penerimaan sapi dari luar daerah, sedangkan RPH memastikan seluruh proses pemotongan berlangsung sesuai prosedur yang berlaku.
Pengawasan tersebut, lanjutnya, tidak hanya bertujuan menjaga kualitas daging, tetapi juga melindungi masyarakat sebagai
konsumen.
Keamanan pangan menjadi prioritas agar kepercayaan publik terhadap produk yang dijual di pasar tetap terjaga.
Meski kebutuhan daging cenderung meningkat seiring pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi, kontribusi peternakan lokal masih tergolong kecil.
Populasi ternak di Bangka Belitung belum mampu menutup selisih antara produksi dan kebutuhan konsumsi.
“Produksi lokal masih terbatas, sehingga pasokan dari luar daerah masih menjadi andalan untuk memenuhi kebutuhan
masyarakat,” ujarnya.
Pemerintah daerah, kata Yiyi, terus berupaya mendorong peningkatan populasi dan produktivitas ternak lokal melalui program bantuan bibit, pendampingan teknis, serta pembinaan kepada peternak.
Langkah ini diharapkan dapat memperkuat kemandirian pangan daerah dalam jangka panjang.
“Kami berupaya memperkuat peternakan lokal agar ke depan ketergantungan terhadap pasokan luar bisa berkurang,” pungkasnya. (x1)