TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Es pisang ijo adalah salah satu hidangan khas dari Makassar, Sulawesi Selatan, yang kini telah menjadi pilihan populer di berbagai daerah, termasuk Solo.
Rasanya yang segar dan menyegarkan menjadikannya hidangan favorit, terutama sebagai menu buka puasa selama bulan Ramadan.
Meski tampilannya sederhana, es pisang ijo memiliki sejarah panjang yang terhubung dengan tradisi dan budaya Makassar.
Baca juga: Sejarah Cap Go Meh : Jatuh pada 3 Maret 2026, Tiap Tahun Dirayakan Secara Meriah di Solo
Es pisang ijo diperkirakan muncul pada awal abad ke-20 di Makassar.
Hidangan ini awalnya disajikan dalam acara-acara penting masyarakat Bugis-Makassar.
Es pisang ijo terbuat dari pisang raja yang dibalut dengan adonan tepung berwarna hijau, menggunakan daun pandan atau suji sebagai pewarna alami.
Warna hijau pada adonan ini tidak hanya memberikan daya tarik visual, tetapi juga melambangkan kesuburan, harmoni, dan melimpahnya sumber daya alam Sulawesi.
Baca juga: Sejarah Es Kopyor, Minuman Legendaris jadi Salah Satu Favorit Buka Puasa di Solo Raya
Makanan penutup ini diciptakan untuk menyegarkan tubuh di tengah iklim tropis yang panas, dan sejak saat itu, es pisang ijo menjadi simbol kebersamaan yang sering disajikan dalam acara keluarga.
Kini, meskipun telah mengalami beberapa modifikasi, es pisang ijo tetap menjadi sajian yang melambangkan tradisi budaya Makassar.
Pisang, bahan utama dari es pisang ijo, memiliki sejarah yang panjang.
Menurut buku Pisang: Budi Daya, Pengolahan, dan Prospek Pasar, pisang telah ada sejak awal peradaban manusia dan sudah lama dimanfaatkan oleh masyarakat Asia Tenggara.
Indonesia, dengan Sulawesi Selatan sebagai salah satu daerah penghasil pisang terbesar, memanfaatkan pisang dalam berbagai kuliner, termasuk es pisang ijo.
Baca juga: Sejarah Opor Ayam, Hidangan Khas Lebaran di Solo yang Dibawa Bangsa India-Arab pada Masa Lampau
Es, bahan pelengkap dalam es pisang ijo, mulai dikenal di Nusantara pada akhir abad ke-19.
Es semula merupakan simbol kemewahan bagi keluarga kaya di Batavia, namun seiring perkembangan industri pembuatan es, konsumsi es pun meluas.
Pengaruh dari perdagangan antara Makassar dan Jawa pada abad ke-17 hingga awal abad ke-20 turut memperkenalkan es ke Makassar, yang kemudian diolah dalam hidangan es pisang ijo.
Meski es pisang ijo dimulai sebagai hidangan tradisional, inovasi tetap hadir untuk menyesuaikan dengan selera zaman.
Dahulu, kuah es pisang ijo terasa hambar karena menggunakan tepung beras dan santan.
Kini, sirup dan tepung maizena ditambahkan untuk meningkatkan rasa.
Kehadiran es dalam budaya konsumsi harian di Makassar mendorong masyarakat untuk berinovasi, menjadikan es pisang ijo lebih nikmat dan menarik.
Baca juga: Sejarah Kolang-kaling, Hidangan Khas Berbuka Puasa di Solo Raya yang Punya Kisah Panjang
Kini, es pisang ijo tak hanya bisa ditemukan di Makassar, tetapi juga di banyak kota besar, termasuk Solo.
Kehadirannya di Solo menjadikannya hidangan yang sering dicari sebagai menu berbuka puasa, berkat rasanya yang menyegarkan.
Es pisang ijo juga menjadi favorit di berbagai warung kaki lima, restoran, hingga hotel berbintang.
Popularitas es pisang ijo juga semakin meluas berkat media sosial, yang memperkenalkan sajian ini ke kalangan yang lebih luas. Inovasi dan adaptasi dalam penyajian menjadikannya tetap relevan di tengah tren kuliner modern.
Membuat es pisang ijo di rumah tidaklah sulit. Berikut adalah bahan-bahan dan cara pembuatannya:
Bahan-bahan:
Pisang Ijo:
Kuah Es Pisang Ijo:
Bahan Pelengkap:
Cara Membuat:
Membuat Adonan Kulit Pisang Ijo:
Membuat Kuah:
Penyajian:
(*)