Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Haliyudin Ulima
BULA, TRIBUNAMBON.COM – Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), Sofyan Waraiya, menyoroti masih banyak dusun sagu di daerahnya yang belum tergarap secara optimal.
Ia meminta seluruh pemangku kepentingan mulai memaksimalkan pengelolaan komoditas lokal tersebut agar memberi dampak nyata bagi ekonomi masyarakat.
Hal itu disampaikan Sofyan saat kegiatan Focus Group Discussion (FGD) laporan akhir potensi sagu di Pelataran Pujasera, Kota Bula, Senin (2/3/2026) malam.
Baca juga: Ratusan Bunga Tabebuya Berguguran, Jalanan Kota Masohi Berubah Bak Sakura Bermekaran
Baca juga: ASN Pemda Malteng Dilarang Tik-Tok-an Live Streaming Saat Jam Kerja, Denda Pemotongan TPP
Sofyan menegaskan masih banyak potensi sagu yang dibiarkan tanpa pengelolaan yang baik, padahal komoditas tersebut merupakan anugerah yang dapat menjadi sumber kehidupan masyarakat.
“Banyak dusun sagu yang tidak dimanfaatkan atau tidak dikelola. Ini anugerah yang diberikan kepada kita sebagai sumber kehidupan, namun belum dikelola secara baik dan berkelanjutan,” tegasnya.
Menurutnya, kebanggaan masyarakat terhadap sagu sebagai identitas daerah belum sepenuhnya sejalan dengan tindakan nyata dalam mengonsumsi maupun mengelolanya.
“Pertanyaannya, apakah sagu ini sudah menjadi brand orang Maluku? Tentu belum. Fanatisme terhadap pangan lokal ini cukup tinggi, namun tidak seiring dengan tindakan, khususnya tingkat konsumsi masyarakat jika dibandingkan dengan pangan lain seperti beras,” ujarnya.
Melalui FGD tersebut, pemerintah daerah bersama akademisi dan para pemangku kepentingan berupaya merumuskan langkah konkret pengembangan sagu sebagai komoditas unggulan daerah.
Sofyan menyebut kegiatan itu didanai melalui program Dinas Pertanian Kabupaten SBT Tahun Anggaran 2026.
“Forum ini menjadi ruang diskusi bersama atas hasil survei dan penelitian yang telah dilakukan, sehingga ke depan pengembangan sagu tidak hanya sebatas wacana, tetapi benar-benar menjadi gerakan bersama,” katanya.
Ia berharap kolaborasi antara pemerintah, akademisi, petani, pelaku UMKM hingga dunia usaha dapat menjadikan sagu sebagai penggerak ekonomi baru di Kabupaten SBT.
“Kalau kita serius mengelola sagu, bukan tidak mungkin komoditas ini menjadi kekuatan ekonomi daerah sekaligus memperkuat ketahanan pangan kita sendiri,” tutupnya.(*)