Renungan Harian Katolik Suara Pagi
Bersama Pastor John Lewar SVD
Biara Soverdi St. Yosef Freinademetz
STM Nenuk Atambua Timor –NTT
Selasa, 3 Maret 2026
Hari biasa Pekan II Prapaskah
Yes 1:10.16-20; Mzm 50:8-9.16bc-17.21.23
Matius 23:1-12
Warna Liturgi Ungu
Belajarlah Berbuat Baik
Saudari-saudaraku yang terkasih dalam Kristus
Pada hari Selasa Pekan II Prapaskah ini, Sabda Tuhan terasa begitu tegas, bahkan keras. Namun justru dalam ketegasan itu kita menemukan kasih yang ingin memurnikan, bukan menghancurkan.
Nabi Yesaya berseru dengan suara yang menggugah hati. Dalam Kitab Kitab Yesaya Tuhan berkata, “Basuhlah, bersihkanlah dirimu… berhentilah berbuat jahat, belajarlah berbuat baik.” Ini bukan sekadar ajakan moral biasa. Ini adalah undangan untuk pertobatan yang nyata.
Tuhan tidak terkesan pada tampilan luar. Ia tidak membutuhkan kurban yang megah jika hati tetap keras. Ia tidak mencari doa yang panjang jika hidup sehari-hari jauh dari keadilan. “Belajarlah berbuat baik; usahakanlah keadilan.”
Kata “belajar” itu penting. Artinya menjadi baik tidak selalu langsung sempurna. Ada proses. Ada latihan. Ada perjuangan melawan kebiasaan lama.
Sering kali kita merasa sudah cukup baik karena menjalankan kewajiban agama: ikut misa, berdoa, memberi sumbangan. Semua itu baik dan penting. Tetapi Tuhan hari ini bertanya lebih dalam: apakah hidup kita membawa keadilan? Apakah kita peduli pada yang lemah?
Apakah kita jujur dalam pekerjaan, dalam studi, dalam tanggung jawab kecil sehari-hari?
Kemudian dalam Injil menurut Injil Matius, Yesus berbicara tentang ahli Taurat dan orang Farisi. Mereka pandai mengajar, tetapi tidak melakukan.
Mereka meletakkan beban berat di pundak orang lain, tetapi tidak mau menyentuhnya. Mereka mencari penghormatan, tempat terdepan, dan gelar-gelar mulia.
Sabda ini sangat relevan bagi kita sekarang. Di zaman media sosial, sangat mudah menampilkan citra diri yang saleh, bijak, peduli. Kita bisa menulis kata-kata rohani, membagikan ayat Kitab Suci, berbicara tentang kebaikan.
Tetapi Tuhan melihat apakah kata-kata itu sejalan dengan tindakan kita di rumah, di tempat kerja, di sekolah.
Yesus tidak melarang kita berbuat baik di depan orang. Yang Ia kecam adalah motivasi yang salah: melakukan sesuatu supaya dipuji. Ketika hidup rohani berubah menjadi pencarian pengakuan, di situlah kita mulai kehilangan arah. Kita menjadi sibuk menjaga reputasi, bukan menjaga hati.
“Yesus berkata: Siapa yang terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu.” Inilah ukuran Kerajaan Allah. Bukan siapa yang paling dihormati, tetapi siapa yang paling rela melayani. Bukan siapa yang paling banyak bicara, tetapi siapa yang paling setia bertindak dalam diam.
Kerendahan hati bukan berarti merendahkan diri secara tidak sehat. Kerendahan hati adalah kesadaran bahwa semua yang kita miliki adalah anugerah.
Jabatan, kemampuan, pengetahuan, bahkan kesempatan untuk melayani, semuanya pemberian Tuhan. Maka tidak ada alasan untuk menyombongkan diri.
Prapaskah adalah masa untuk menyelaraskan kembali antara kata dan perbuatan. Jangan sampai kita rajin menuntut orang lain berubah, tetapi kita sendiri enggan berubah.
Jangan sampai kita mudah mengkritik, tetapi sulit memperbaiki diri. Tuhan tidak menuntut kesempurnaan instan.
Ia menghendaki hati yang mau dibasuh dan diperbarui. Jika hari ini kita merasa Sabda Tuhan menegur, jangan takut. Teguran Tuhan adalah tanda bahwa Ia masih peduli.
Ia ingin dosa yang merah seperti kirmizi menjadi putih seperti salju. Ia ingin hidup kita menjadi kesaksian yang jujur, bukan sekadar penampilan luar.
Semoga kita belajar berbuat baik dengan sungguh-sungguh, mengusahakan keadilan mulai dari hal kecil, dan memilih jalan kerendahan hati.
Sebab barangsiapa merendahkan diri di hadapan Tuhan, dialah yang akan ditinggikan oleh-Nya pada waktu yang tepat. Amin
Doa: Tuhan, sucikan hati kami dari kemunafikan dan kesombongan. Ajarlah kami menyatukan kata dan perbuatan dalam kejujuran. Mampukan kami melayani dengan rendah hati tanpa mencari pujian. Perbaruilah roh kami agar hidup kami sungguh mencerminkan kasih dan kebenaran-Mu setiap hari. Amin.
Sahabatku yang terkasih, Selamat Hari Selasa, hari ke 12 Masa Prapaskah. Salam doa dan berkatku untukmu dan keluarga di mana saja berada: Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus...Amin. (Pastor John Lewar SVD)