Try Sutrisno Meninggal Dunia, Ini Perjalanan Hidup Sang Jenderal
Moh. Habib Asyhad March 03, 2026 01:36 PM

Try Sutrisno meninggal dunia di usia 90 tahun. Pernah jadi ajudan dan wakil presiden daripada Soeharto.

---

Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini

---

Intisari-Online.com -Try Sutrisno, Wakil Presiden RI ke-6, meninggal dunia di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto Jakarta pada Senin, 2 Maret 2026. Jenderal kelahiran Surabaya, Jawa Timur, itu meninggal di usia 90 tahun.

Kabar meninggalnya Try Sutrisno dikonfirmasi oleh mantan Kepala RSPAD Letjen TNI (Purn) Albertus Budi Sulistya, sebagaimana dilansir Kompas.com. "Benar," ujar Albertus.

Try Sutrisno meninggal dunia di RSPAD pada pukul 06.58 WIB tadi. Menurut rencana, jenazah akan disalatkan di Masjid Sunda Kelapa dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata pada siang ini.

Pihak keluarga menyebut tidak ada penyakit tertentu yang dialami Try yang menjadi penyebab meninggal dunia. Sang putra, Taufik Dwi Cahyono, menyebutkan bahwa kondisi kesehatan sang ayah menurun karena faktor usia Try yang sudah menginjak 90 tahun.

"Bapak sih karena memang sudah usia, semuanya kan menurun, umur segitu, enggak ada yg spesial sakit khusus ya karena memang sudah usia ya, menurun dari kemampuan napasnya, atau semacamnya," kata Taufik di RSPAD Gatot Soebroto, Senin.

Dia menuturkan, sebelum wafat, Try telah dirawat di RSPAD sejak tanggal 16 Februari 2026 lalu karena sempat tidak punya selera untuk makan. “(Dirawat sejak) 16 Februari. Jadi cuman tiba-tiba selera makan turun, dibawa ke sini, naik turun lah, dikasih obat, dikasih makan," kata Taufik.

Taufik menuturkan, tim dokter RSPAD dan kepresidenan sudah mengupayakan pengobatan terbaik kepada Try. Namun, pada Senin pagi, keluarga mendapat kabar bahwa kondisi kesehatan Try memburuk dan dinyatakan meninggal dunia.

"Sampai di sini diusahakan segala macam-macam, ya mungkin sudah waktunya, alhamdulillah Bapak tidak menderita sakit yang terlalu lama dan yang lain-lainnya begitu, memang sudah usia," ujar Taufik.

Try Sutrisno adalah Wakil Presiden keenam Republik Indonesia saat mendampingi Presiden Soeharto, tepatnya pada 1993-1998. Dia lahir pada 15 November 1935 di Surabaya, Jawa Timur, dan termasuk salah satu Wakil Presiden Indonesia yang berasal dari golongan militer.

Try Sutrisno kemudian diterima menjadi taruna di Akademi Teknik Angkatan Darat (Atekad) pada 1956. Try Sutrisno sudah mengenal Pak Harto di masa Operasi Pembebasan Irian Barat pada 1962. Singkat cerita pada 1974, dia terpilih menjadi ajudan Presiden Soeharto.

Pada Agustus 1985, pangkat Try Sutrisno naik menjadi Letnan Jenderal TNI sekaligus diangkat menjabat Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Wakasad) mendampingi Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Kasad) saat itu Jenderal TNI Rudhini.

Tak lama menjabat sebagai Wakasad, pada Juni 1986 atau sepuluh bulan sejak diangkat menjadi Wakasad, Try pun kemudian diangkat menjadi Kasad menggantikan Rudhini.

Selanjutnya, Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) periode 1992-1997 memilih Try Sutrisno menjadi Wakil Presiden mendampingi Soeharto melalui Sidang Umumnya pada 1993.

Pada 1998 tugasnya sebagai wakil presiden berakhir dan digantikan oleh BJ Habibie dalam Sidang Umum MPR. Belakangan, Try Sutrisno menjabat sebagai anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila sejak tahun 2017.

Masa kecil Try Sutrisno

Cak Su alias Try Sutrisno adalah sosok yang sederhana. Oleh keluarga dan teman-temannya, Try Sutrisno dikenal sebagai sosok yang pandai bergaul. Wartawan Intisari, I Gede Agung Yudana dan A. Hery Suyono menyusuri masa kecilnya di Surabaya.

Karier militer Jenderal TNI (Purn) Try Sutrisno yang begitu mengesankan sampai jadi Wakil Presiden RI tak bisa disangkal. Tapi tentu hanya segelintir yang tahu kisah masa kecilnya.

Wartawan Intisari, I Gede Agung Yudana dan A. Hery Suyono, berhasil melacak sebagian masa kecil Cak Su lewat teman dan saudara-saudaranya.

Selendang sutera, tanda mata darimu. Telah kuterima, sebulan yang lalu ... Selendang sutera, kini membalut luka. Cabik semata, tercapai tujuannya ....

Duduk di sebuah bangku tua di teras rumahnya yang sederhana, seorang pemuda mengalunkan lagu berirama keroncong ini, diiringi petikan gitarnya. Itu memang lagu kesayangannya. Setiap kali rindu menembangkan lagu itu, diambillah gitarnya, dan duduklah dia di bangku tua itu, dan jreng...

Pemuda berpostur gagah, berwajah ganteng dengan potongan rambut model crew cut ala bintang film Tony Curtis itu bernama Try Sutrisno. Rumahnya di Gg. Genteng Bandar Lor 35, Surabaya. Bangku tua di depan teras rumahnya itu kini menjadi saksi bisu suasana beberapa puluh tahun yang lalu.

Kalau sekarang Jenderal TNI (Purn) Try Sutrisno, kembali mengalunkan lagu keroncong itu, maknanya bisa menjadi lain. Selendang sutera, dulu, bagi pemuda Try mungkin sekadar sebuah lagu kesukaan. Mungkin juga sebuah lagu yang bisa membangkitkan semangat menempuh perjalanan mencapai cita-citanya, seperti ketika rakyat Indonesia berjuang untuk mencapai tujuannya: kemerdekaan.

Selendang Sutera bagi Try sekarang, tak ubahnya sebuah "tanda mata". Mungkin juga sebuah lambang kepercayaan yang diberikan kepadanya. Dia pernah ketiban sampur, menerima kepercayaan dan tanggung jawab "mengawal" bangsa mencapai tujuan pembangunan ... sebagai Wakil Presiden RI mendampingi Soeharto.

Pemimpin sejak kecil

Layak! Pantas! Pas! Begitu rata-rata pendapat teman-teman Try Sutrisno semasa remaja, menanggapi perjalanan kariernya sampai duduk sebagai orang nomor dua di republik ini. Perjalanan hidup anak seorang pensiunan sopir ambulans di Djawatan Kesehatan Kota (DKK) Surabaya sampai bisa menjabat sebagai wapres dalam banyak hal mengesankan.

Try yang terlahir tanggal 15 November 1935 dari pasangan Soebandi asal Garut dan Mardiyah asli Surabaya itu dikenal rendah hati. "Saya anak rakyat biasa, bukan ningrat atau priyayi," tulisnya di Warta Jayakarta terbitan Dinas Sejarah Kodam Jaya tahun 1983.

"Meski cuma anak sopir, Cak Su tidak lantas mengaku-aku anak orang berpangkat,” tutur Soemantri (ketika itu 49 tahun), adik bungsu Try, yang memanggil kakaknya dengan Cak Su. Dia, tambahnya, berjiwa besar, selalu menerima kenyataan.

Sebagai anak ketiga dari enam bersaudara, tak ada setetes pun “darah” ABRI yang mengalir di tubuhnya. Barangkali nilai-nilai keprajuritan itu diperoleh dari ayahnya dan motivasi untuk jadi prajurit didorong oleh pergaulannya dengan tentara di masa kecil.

Kalau kemudian Try berhasil menempati posisi terhormat di lingkungan ABRI maupun pemerintahan, itu karena dia punya "modal" untuk itu. Menurut teman-temannya yang berhasil ditemui Intisari pada awal 1993 lalu, sejak kecil sudah nampak tanda-tanda bahwa Try memiliki unsur-unsur yang diperlukan untuk jadi pemimpin dalam dirinya.

“Sewaktu di SD maupun SMP, menonjol sekali jiwa kepemimpinannya. Ide yang dia cetuskan biasanya diterima (oleh teman-temannya)," tutur Salim Abdulah Basrewan, salah seorang teman Try sejak di kelas V SD hingga lulus SMP.

Setiap kali ada upacara bendera, kata Salim, dia sering tampil sebagai komandan upacara. Menjadi ketua kelas, atau malah ketua umum (semacam ketua OSIS sekarang) rasanya bukan barang luar biasa buat Try. Sudah sering dia menduduki “jabatan” itu.

Namun waktu kelas III SMP, dia bersama teman-temannya pernah menyodorkan petisi ke kepala sekolah, yang ditandatangani oleh para ketua kelas. Isinya memohon agar seorang guru diganti karena dianggap kurang becus mengajar. “Tapi mereka malah dimarahi oleh kepala sekolah,” tutur Salim.

Semasa remaja, Try punya banyak teman karena pandai bergaul. “Orangnya supel,” kata Oemar Mz., seorang teman Try di SMP yang sama. Dikenal periang, murah senyum, dan suka membanyol, tutur katanya tak pernah kasar. Walaupun logat suroboyoan-nya terasa kental.

“Dalam bergaul pun dia tidak pernah membeda-bedakan. Terhadap teman wanita, dia menghargai. Dengan teman laki-laki, dia akrab sekali,” kata Gofar, teman sekelasnya di SMP Negeri 2 Surabaya. Memang "Dari dulu disenangi teman-temannya,” tegas Siti Asmah, kakak Try yang tertua.

Bahkan menurut kawan-kawannya, sikap-sikap seperti itu masih belum luntur sekalipun dia sudah menjadi Panglima ABRI. Mungkin itu sebabnya teman-teman masa kecilnya sering rindu untuk bertemu dengan Try.

Namun, "Kami menyadari, dia terikat pada acara protokoler," ujar Salim.

Pertemuan antara Try dengan bekas teman-teman masa remajanya itu sering lebih mereka rasakan sebagai pertemuan dengan saudara yang telah lama hilang. Salim, misalnya -- yang ketika ditemui Intisari pada 1993 lalu itu adalah pedagang dan punya toko pakaian di Surabaya -- dia dipeluk erat-erat oleh jenderal berbintang empat ini tanpa rasa sungkan ketika berhasil menemui kawan lamanya yang sudah "jadi orang" itu di depan sejumlah pejabat, termasuk para kepala staf angkatan.

Ketika itu Try sedang dalam kesempatan meninjau Latgab ABRI dan pertemuan dengan para ulama di Situbondo. "Ini teman saya sekolah sejak kecil," tutur Try ketika itu seperti ditirukan Salim.

Tak suka berkelahi

Semasa kecil, Try juga termasuk mbeling untuk ukuran anak-anak, seperti diceritakan Soejoeful Kidat, teman SD & SMP dan juga teman sekampungnya, kepada Surya. Jamaknya anak-anak seusia SD, dia suka mandi di Kali Mas dekat rumahnya. Bahkan, dia suka ngeluyur ke Banyuurip kira-kira 5 km dari rumahnya, juga untuk berenang di, sungai. Itu pengalaman tak terlupakan dan paling berkesan dari Soejoeful saat berteman dengan Try Sutrisno.

Di zaman SMP, setiap jam istirahat, dia pun suka berkumpul dengan teman-temannya. Di mana ada anak berkumpul, di situ ada Try.

Dia pun suka beramai-ramai pergi ke warung Pak Bon (penjaga sekolah) di belakang sekolah, beli jajanan. Tempe goreng atau tahu petis. "Kalau punya uang sedikit, dia beli lontong balap di depan sekolah," kenang Salim.

Mungkin juga karena badannya bongsor waktu remaja, selain sikapnya yang rendah hati, Try disegani kawan-kawannya. Kalau ada temannya yang ribut-ribut berkelahi, dia sering tampil menengahi. “Ojo ngono (jangan begitu)," kata Try kepada temannya yang sedang berantem, seperti diungkapkan Gofar yang kemudian menjadi karyawan di bagian akunting sebuah perusahaan swasta di Gresik.

Meski bukan tukang berkelahi, "Dia juga terkenal pemberani,” tutur Salim.

Kalau ada orang “main-main” atau mengganggu sekolahnya, Try tampil menghadapi mereka sendirian. Bukan model tawuran seperti sekarang. "Dia dekati anak-anak atau orang yang hendak mengganggu untuk menanyakan maksudnya," lanjut Salim.

Di kelas, Try selalu duduk di bangku bagian belakang. Dia sadar, kalau duduk di depan, badannya yang bongsor dibandingkan teman-temannya akan menghalangi kawan lain macam Gofar yang tubuhnya termasuk kecil di kelas. Gofar masih ingat, Try sering iseng membopong-bopongnya waktu ada pelajaran olahraga karena tubuhnya yang jauh lebih kecil ketimbang Try.

Waktu itu mungkin belum ada kelompok bersepeda santai atau bersepeda sehat. Belum ada mountain bike, sepeda gunung atau sepeda-sepeda yang lagi ngetrend macam sekarang. Apalagi sepeda motor.

Tapi dulu Try suka bermain sepeda bahkan sampai ke luar kota bersama serombongan temannya. Kalau pasar bandeng di Gresik lagi digelar, dengan sepeda merek Hyma warisan bapaknya - yang juga biasa untuk ke sekolah – Try dari kawan-kawannya ramai-ramai ke sana. Bukan hanya Gresik, tapi juga sampai ke Tretes, bahkan Kediri, yang jaraknya puluhan kilometer dari Surabaya.

“Kalau naik sepeda, dia selalu paling depan mendahului teman-temannya," tutur Salim. Try juga tak segan-segan mampir ke rumah Oemar di Gresik, meskipun dia bukan termasuk teman dekatnya.

Soal berpakaian, menurut Gofar, sejak dulu Try suka tampil rampai, meski tetap sederhana. Kalau berpakaian, bajunya mesti dimasukkan. Bahkan kalau lagi dandan, Soemantri, adik bungsu Try, sering dimintai bantuan untuk merapikan bajunya.

Foto setengah badan di zaman SMA menggambarkan penampilan Try yang rapi. Berkaus oblong warna gelap dilapisi jas warna terang, dengan potongan rambut model crew cut, Try memang tampak gagah dan rapi. Sampai-sampai Gofar mengatakan, sayang sekali rasanya kalau rambut bagus-bagus ngadan-andan (berombak) begitu dipotong dengan model seperti sekarang.

Tak kenal memo

Di tengah keluarga, Try menjadi panutan. Kejujuran, ketekunan, dan sikap mawas diri menjadi hal utama. Ini pun sering ditekankan kepada saudara-saudaranya. "Cak Su paling benci dengan orang bohong. Dia selalu menekankan kejujuran dan sikap rendah hati," ujar Soemantri yang bekerja jadi karyawan UPPDN V Pertamina (pabrik aspal) Gresik.

Apalagi membicarakan keburukan orang lain alias ngrasani, itu tabu buat Try. Jangankan orang lain, ngomongin kakak mereka sendiri saja Try tidak suka. Kalau dia mendengar itu Try cepat-cepat memotong, sembari bilang, "Ngomong liyane, ngomong liyane (bicara tentang hal lain saja)."

Yang juga perlu diteladani dari Try oleh saudara-saudaranya ialah sikap mandiri. Kemajuan diri mesti disesuaikan dengan kemampuan diri. Itu akan membuat hidup menjadi enteng, tanpa beban. Tapi, tanggung jawab mesti tetap ada. Itu pula sebabnya, menurut saudara-saudaranya, mereka tak pernah memperoleh fasilitas apa pun lewat posisinya. "Cak Su tidak suka main memo," tegas Chamimah, adik perempuan Try.

Ketika Mimin, panggilan Chamimah, mengabarkan putri tunggalnya hendak memasuki perguruan tinggi, Try cuma berpesan, "Kangkonen sinau ae (suruh belajar saja)." Mereka memahami dan bahkan bangga dengan prinsip dan sikap yang demikian itu.

Tapi dalam hal tertentu itu tidak berlaku buat "orang luar". Try dinilai Mimin sebagai seorang dermawan. "Cak Su iku wonge gak isoan. Gak tegoan (Cak Su itu orangnya tidak tegaan)," tutur Chamimah. Dulu, kalau melihat ada temannya yang tak njajan, timbul rasa sosialnya. "Far, ayo nang Pak Bon (mari ke Pak Bon)," ajak Try dengan ikhlas seperti dituturkan Gofar.

Bumbu sate obat sariawan

Banyak jalan menuju kaya. Tapi jalan kesetiaan demi ketenangan batin itu tidak mudah. Itu pesan yang sering dikatakan sang ayah, dan nampaknya dipegang Try. Tidak mengherankan kalau di kampung tempat kelahirannya Try dikenal termasuk anak soleh. Sepulang sekolah, sore harinya dia belajar mengaji. Bahkan dia tak segan-segan mengepel lantai surau yang tak jauh dari rumahnya.

Di sekolah dulu, dia pun termasuk anak pintar. Dia cakap dalam ilmu pasti macam aljabar, fisika, kimia. Dalam ijazah SMA, dia mendapat angka 8 untuk mata pelajaran kimia dan menggambar dengan mistar.

Teman-temannya dulu mengenalnya sebagai "olahragawan". Badannya yang tinggi besar itu nampak kekar, karena Try rajin mengolah tubuhnya: dari mengangkat halter, ringen, lari, sampai renang. Tapi, "Dia paling suka renang,” tutur Soemantri. Ilmu bela diri pun dia punya.

Try pandai bermain silat. Bersama Soemantri, dia sering berlatih. Soemantri pula yang selalu dimintai tolong oleh Try untuk menunggangi punggungnya kalau sedang melakukan push up. "Dia tak puas kalau tanpa beban tambahan," kisah Soemantri. Masuk akal bila lengannya kelihatan kekar dan berotot.

Kebiasaan menjaga kebugaran tubuh ini terus berlanjut sampai dia jadi mahasiswa di Atekad. Setiap kali pulang ke Surabaya, dia masih rajin push up setiap pagi. "Yang saya tahu, sampai Pangdam dia masih halteran. Nggak tahu lagi setelah jadi Pahgab," kata Prasuwan, teman SMP Try. Menurut Chamimah yang guru taman kanak-kanak di Surabaya itu, ketika menjabat Pangab, Try tak pernah lupa berjalan atau lari-lari di atas treadmill sebelum menuju ke tempat kerja.

Selain gemar berolahraga, dulu Try suka minum jamu-jamuan. "Minum jamu ini yang tidak bisa saya tiru. Anak lain, sedikit pahit sudah tidak mau. Kalau dia, jamu pahit itu satu gelas pun jadi," kenang Prasuwan, yang juga pengusaha losmen di Surabaya.

Dasar anak Jawa Timur, makanan kesukaannya pun masakan Jawa Timur. Apa saja. Dari ikan asin, sayur lodeh, pecel, rujak, masakan jawa timuran, sampai sate madura. "Sejak dulu Cak Su paling senang makan sate madura," ungkap Soemantri. Bahkan di kampungnya, Try mempunyai langganan tetap yang dipanggilnya Yu’ Yam.

Sampai jadi pejabat tinggi pun dia masih sering minta dibelikan sate kesukaannya itu, meskipun yang jualan ganti anak Yu' Yam. Saking demennya pada sate, sampai-sampai ketika mulutnya sakit sariawan, dia obati pakai bumbu sate langganannya yang pedas. "Ternyata, sembuh juga," kata Soemantri.

"Dia itu suka makan segala macam. Jadi ndak repot ngurusin dia makan," ungkap Ny. Try Sutrisno, usai pelantikan sang suami jadi Pangab. Hanya saja, memasuki usia "tua", komposisinya mulai diatur. "Nasi sedikit, banyak sayur. Tiap hari selalu ada air jeruk atau wortel," tambah Chamimah.

Barangkali sehabis makan akan lebih lengkap lagi kalau ambil gitar. Memetik senarnya. Lalu mengalunkan lagu kesukaannya sembari bernostalgia. Jreng... selendang sutera…

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.