BUKAN POLISI, Sosok Pelaku Teror ke Anggota Damkar Singgung Fungsi Helm, Ini Kata Itwasum
Latif Ghufron Aula March 03, 2026 01:42 PM

JAKARTA - Terungkap identitas pengirim pesan ancaman ke anggota pemadam kebakaran atau Damkar Kota Depok bernama Khairul Umam.

Auditor Kepolisian Madya TK II Inspektorat Pengawasan Umum (Itwasum) Polri, Kombes Manang Soebeti memastikan, pelaku bukan anggota Polri.

Adapun identitas pelaku diketahui lewat penelusuran data terbuka di internet dengan metode profiling.

“(Data seperti) itu banyak, data kayak gitu ada di website mana-mana, ini data profiling biasa,” ujar Manang, dikutip Selasa (3/3/2026).

Berdasarkan hasil penelusuran, pengirim diketahui bernama Wawan Gunawan yang merupakan buruh harian lepas asal Subang, Jawa Barat.

Manang menilai teror yang dikirim melalui WhatsApp itu tidak dapat dikategorikan sebagai teror serius.

Hal tersebut lantaran hanya terjadi satu hingga dua kali dan tidak disertai tindakan lanjutan.

“Kalau teror itu pasti intens dong, misalnya di-spam atau didatangi. Kalau hanya WhatsApp, siapa pun bisa melakukannya, hanya iseng itu bisa, terpancing emosi bisa," katanya.

Ia menambahkan, pengungkapan identitas pelaku dilakukan guna meluruskan asumsi di media sosial yang mengaitkan pesan ancaman tersebut dengan institusi kepolisian.

"Dan yang paling penting, tuduhan yang dikomentarkan itu kan arahnya yang meneror dicurigai adalah polisi. Nah itu aja yang saya ingin buktikan bahwa (peneror) bukan polisi," tutur dia.

Awal Teror

Sebelumnya, seorang petugas pemadam kebakaran (Damkar) Khairul Umam kena teror usai membuat konten fungsi helm petugas yang tidak boleh digunakan untuk membunuh.

Petugas Damkar Khairul Umam awalnya membuat konten fungsi helm Damkar.

Kata Khairul Umam dalam kontennya, helm digunakan untuk melindungi kepala petugas bukan untuk menghancurkan kepala.

Pria yang juga seorang Komika ini kemudian menyindir kenapa masih ada saja setan berkeliaran di bulan puasa ini.

Konten tersebut diunggah seusai viral kasus seorang anggota Brimob yang membunuh seorang siswa menggunakan helm saat di jalan raya.

Usai kontennya viral, Khairul Umam mendapatkan teror yang menyerang kedua orang tuanya.

Peneror mengirim whatsapp kepada Khairul Umam dan mengungkapkan data pribadi Umam termasuk kedua orang tuanya.

Dimuat Kompas.com, Khairul Umam mengaku mendapat dua kali teror melalui chat pribadi Whatsapp pada Selasa (24/2/2026) malam dan Rabu (25/2/2026) pagi.

Awalnya, pengirim pesan mengaku sebagai penggemarnya, baik sebagai komika maupun petugas Damkar.

“Jadi terornya tuh di Whatsapp semua. Seperti yang saya bikin di story, ya awalnya dia ngaku jadi sebagai fans lah gitu-gitu segala macem,” ucap Khairul saat dihubungi Kompas.com, Rabu, dilansir Warta Kota.

Dalam pesan pertama, pengirim meminta Khairul berhati-hati dan menyarankan agar ia menjaga keselamatannya.

Kemudian orang tak dikenal itu meminta Umam berhati-hati dan memakai helm.

“Ternyata ujung-ujungnya malah bilang saya harus pakai helm, jaga keselamatan saya, suruh minta sowan sama orangtua saya gitu-gitu,” kata Khairul.

Pesan kedua bernada serupa, disertai kalimat yang membuatnya merasa terancam.

“Ya halus-halus sih halus-halus gitu. Soalnya sempet juga dia ngomong, 'tunggu saya, ada kejutan buat kamu',” kata dia.

Menurut Khairul, pengirim pesan juga menyebut alamat lengkap rumahnya dan rumah istrinya, serta mengetahui nama orangtuanya.

“Alhamdulillah untuk saat ini buat keluarga sih masih aman-aman aja ya. Meskipun dia tuh nyampein alamat lengkap rumah saya dan rumah istri saya. Untungnya dia nggak tau alamat rumah orangtua saya," imbuh dia.

Khairul menegaskan, konten yang dibuatnya murni bertujuan edukasi dan hiburan.

“Saya mah cuma bilang pake helm itu gunanya untuk apa, melindungi kepala, bukan untuk melukai kepala warga. Kalau kayak gini, ya maksudnya iya karena kontennya emang buat lucu-lucuan dan buat funny aja gitu,” katanya.

Ia juga menegaskan tidak ada narasi dalam kontennya yang menyebut atau menyinggung institusi tertentu.

Ia mengaku tak bisa mengontrol pemahaman setiap orang atas konten yang Khoirul buat.

“Kalau misalnya emang ada yang ngerasa tersinggung gini, saya sih yang saya pelajarin ya, maksudnya yang bisa saya kontrol adalah apa yang saya buat dan apa yang saya bikin. Ketika respons dari orang lain itu kan saya enggak bisa kontrol,” kata dia.

“Saya adakah narasi atau caption saya adakah narasi-narasi yang memang mengarah ke sana atau ada narasi-narasi yang menyebutkan instansi atau segala sesuatunya? Itu kan tidak. Karena saya pun kerja pakai helm,” tutur Khairul.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.