TRIBUNJATENG.COM, WONOSOBO - Kiai Haji Raden Asmara Shufhi dikenal sebagai salah satu tokoh ulama penyebar agama Islam di Wonosobo yang jejaknya masih kuat hingga kini.
Masjid dan pondok pesantren yang berkaitan dengan namanya bahkan disebut-sebut sebagai masjid dan pesantren tertua di Wonosobo.
Lokasinya sendiri tepatnya berada di Desa Bendosari, Kecamatan Sapuran, Kabupaten Wonosobo.
Dari tempat inilah tradisi keilmuan dan dakwah berkembang lintas generasi.
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Marshuf, KH Nur Shodiq, yang juga keturunannya, menuturkan bahwa kisah berdirinya masjid ini berkaitan dengan dinamika politik Jawa pada masa Perang Diponegoro.
Peristiwa itu terjadi sekitar saat Pangeran Diponegoro ditangkap oleh Belanda di Magelang, ketika situasi politik Jawa Tengah sedang bergejolak.
“Pada saat Eyang Diponegoro ditangkap terus Eyang Asmara Shufhi lari ke tempat mertuanya di Kadipaten Kalilusi,” ujarnya, Senin (2/3/2026).
Baca juga: Dinkes Wonosobo Temukan Makanan Berformalin dan Boraks di Pasar Induk, Operasi Pasar Dilanjutkan
Kiai Asmara Shufhi yang bernama asli Raden Sutimarti II atau Raden Sutomarto disebut-sebut keturunan Prabu Brawijaya V dari garis ke-9.
Jauh sebelum Perang Diponegoro pecah, Raden Sutomarto telah melakukan perjalanan ke daerah Wonosobo, yang saat itu masuk wilayah Katumenggungan Kalilusi, dipimpin oleh Tumenggung Wiroduto.
Ia kemudian dinikahkan dengan putri Tumenggung Wiroduto, R.A. Roro Kuning, yang dimakamkan di Dusun Lumajang, Pecekelan. Setelah pernikahan, beliau menetap di lingkungan keraton sebagai jaksa.
Seiring memanasnya situasi politik dan ketegangan antara Patih Danurejo dengan Pangeran Diponegoro, Raden Sutomarto memutuskan keluar dari lingkungan keraton dan bergabung dengan perjuangan Diponegoro.
Untuk menghindari kejaran Belanda, beliau menyembunyikan identitasnya dan menggunakan nama Asmara Shufhi, nama yang kemudian melekat hingga kini.
Sesampainya di Kalilusi, beliau diberi kebebasan oleh Tumenggung Wiroduto untuk menetap di mana saja.
Beliau memilih daerah yang diapit dua aliran sungai dengan sebuah pohon Bendo besar.
Lokasi ini kemudian dinamakan Bendosari, dan menjadi cikal bakal masjid serta pondok pesantren.
Pohon Bendo tersebut akhirnya ditebang dan dijadikan tiang masjid yang masih bertahan hingga kini.
Pada awalnya, aktivitas keagamaan belum dilakukan di bangunan permanen. Hanya ada gubuk sederhana di bawah pohon benda yang besar.
“Belum jadi masjid, hanya gubung di bawah pohon benda, pohonnya besar bisa buat berteduh,” kata Nur Shodiq.
Kiai Asmara Shufhi yang telah sepuh dikenal gemar mengajar ngaji. Para santri dari berbagai wilayah di Wonosobo datang untuk menimba ilmu.
Masjid permanen sendiri baru dibangun oleh putra Kiai Asmara Shufhi.
Pendirian masjid tersebut disebut untuk mengenang kisah-kisah Ashabul Kahfi sebagai simbol perjuangan beliau.
Bangunan awalnya masih sangat sederhana, dinding dari papan, pagar bambu (gedeg), dan atap berbahan ijuk. Dalam perkembangannya, atap ijuk diganti seng.
"Payon seng lungsuran (atap seng pemberian bekas) dari masjid di Semarang," sebutnya.
Masjid itu diperkirakan mulai berdiri sekitar 1875. Pada masa awal, fungsinya bukan hanya untuk salat, tetapi juga menjadi pusat pengajaran agama.
Sejak awal, masjid dan pondok berdiri berdampingan. Pondok digunakan untuk tempat tidur santri, sementara masjid menjadi pusat salat dan pengajian.
Nur Shodiq yang lahir pada 1941 mengaku sejak ia lahir masjid sudah ada. Ia masih mengingat suasana Jumat pada masa kecilnya.
“Dulu yang Jumatan di sini dari wilayah Kepil, Kalikajar. Jam 9 sudah pada datang,” kenangnya. Saat itu, ia berusia sekitar empat tahun. Saat ini Nur Shodiq berusia 84 tahun dan masih sehat.
Pada sekitar 1956, jumlah santri pernah mencapai sekitar 70 orang pada masa ayahnya mengelola pondok. Hingga kini jumlah santri sekitar 20 orang.
Tradisi pengajian berjalan aktif, menjadikan tempat tersebut sebagai pusat pendidikan agama bagi masyarakat sekitar.
Sekitar tahun 1963 berdiri madrasah diniyah. Sepulang dari mondok di Yogyakarta pada 1962, Nur Shodiq mulai membantu mengelola pondok.
Salah satu peninggalan penting yang masih ada hingga kini adalah bedug dengan angka tahun 1765.
Ahmad Halwani, keturunan kedelapan Kiai Asmara Shufhi, menyebut angka tersebut tertera pada bedug berupa lubang kecil-kecil yang membentuk angka 1765.
“Kalau melihat catatan di bedug tahun 1765 ya memang tua dan ada sebelum masjid,” ujarnya.
Jika merujuk angka tersebut, usia bedug bahkan lebih awal dibanding sejumlah bangunan di Wonosobo yang muncul setelah perang Diponegoro pada 1820-1830 an.
Meski demikian, asal-usul pasti bedug tersebut belum diketahui.
Selain bedug, satu tiang kayu benda masih ditegakkan di tengah masjid. Untuk melindunginya kayu dilapisi triplek dan masih bisa dibuka sebagain.
Siapa saja bisa melihat bahkan menyentuhnya. Meskipun bagian luar kayu ada beberapa yang keropos namun tekstur kayu masih kuat dan tidak termakan usia.
Kayu benda sendiri dikenal sebagai jenis kayu keras yang tumbuh di pegunungan Jawa.
Kini tiang tersebut tidak lagi difungsikan sebagai penyangga utama, tetapi sengaja dipertahankan sebagai simbol sejarah awal berdirinya masjid.
Masjid Asmara Shufhi sendiri telah mengalami tiga kali renovasi hingga kini tampil lebih modern. Namun jejak lama tetap dirawat sebagai bagian dari identitas sejarahnya.
Kini pengelolaan dilakukan oleh KH Nur Shodiq bersama keluarga, termasuk KH Muzamil dan KH Muttaqin.
Pondok pesantren yang menaungi kegiatan tersebut bernama Pondok Pesantren Al-Marshuf, yang merupakan singkatan dari Marhamah Asmara Shufhi.
Di belakang masjid terdapat makam Asmara Shufhi dan keluarga yang rutin dikunjungi peziarah, terutama pada bulan Ruwah ataupun saat Hari Jadi Wonosobo.
Sementara haul Kiai Asmara Shufhi sendiri digelar setiap 11 Dzulhijjah, bertepatan dengan Iduladha.
Peziarah datang dari berbagai daerah, termasuk alumni, masyarakat sekitar, dan dzuriyah luar Wonosobo.
Masjid dan Pondok Pesantren Asmara Shufhi memang disebut-sebut sebagai yang tertua di Wonosobo dan menjadi penanda penting perkembangan Islam di wilayah tersebut. (ima)