Tak ada satu pun gadis di dunia yang sengaja memilik pekerja seks sebagai profesi.Ini adalah kisah Annike Cleeve dan perjalanannya sebagai seorang PSK internasional.
Dicukil dari buku berjudul Eve, Memoirs of an International Sex Worker karya Annike Cleeve, tayang di Majalah INTISARI edisi Maret 2015 | Pencukil: Mayong S. Laksono
---
Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini
---
Intisari-Online.com -Berawal dari lokalisasi rumahan di sebuah kota kecil Australia pada usia 15, Annika Cleeve masuk ke kawasan lampu merah Sydney, pindah ke Perth, lantas direkrut agen di Singapura untuk menjadi PSK kelas dunia. Dengan nama komersial Eve dia melayani klien dari pelbagai bangsa, juga menjadi pendamping tamu ke mancanegara.
Dia tak hanya hidup mewah dan memasukkan putri tunggalnya ke sekolah mahal, dia sendiri pun akhirnya menyelesaikan kuliah pascasarjana dan kembali ke jalan yang benar.Inilah cukilan kisah hidup Annike Cleeve yang tertuang dalam buku Eve – Memoirs of an International Sex Worker (2014). Cukilan ditulis oleh Mayong Surya Laksono.
---
"...
Tak ada satu pun gadis di dunia ini yang sengaja memilih pekerja seks komersial (PSK) sebagai profesi. Pelacuran biasanya terjadi akibat keterlanjuran karena perempuan tak mau atau tak mampu menemukan pekerjaan lain. Dalam kasus diriku, sejak kecil aku dibesarkan sekadar untuk menjadi istri. Tak ada ambisi, tidak ada pula target hidup.
Di usia sembilan aku sudah membantu orangtua mengurusi warung. Kerja 18 jam sehari, merawat tiga adik laki-lakiku, membersihkan rumah, dll. Budaya patriarki melekat kuat dalam diri ayah, aku dia marahi karena bersikap kasar kepada adik–adikku meski mereka yang salah.
Dua kali aku mengalami percobaan perkosaan, pada usia 11 dan 12, dan ketika umur 14 aku sudah ditelantarkan orangtua. Ayah-ibu pisah, aku tak punya akte kelahiran atau identitas, dan masih terlalu muda untuk bekerja.
Tapi entah kenapa, banyak orang tertarik kepadaku, bahkan sampai bernafsu melihat badanku yang lebih bongsor daripada gadis lain seusiaku. Konyolnya, kedua orangtuaku sependapat bahwa aku memiliki modal besar: tubuhku. Mereka diam saja jika ada tamu warung yang memintaku duduk di pangkuannya lalu memberi uang.
Jadi, memanfaatkan kelebihan tubuh adalah satu-satunya cara yang bisa aku lakukan. Dari yang paling sederhana, sekadar menjual seks dan menerima uang, makin lama aku belajar bahwa laki-laki datang sering kali tidak hanya demi seks. Mereka perlu aktualisasi diri, perlu orang yang memberikan perhatian atau pujian, dan mendengarkan dia bicara. Pekerja seks adalah pelayan sekaligus penjual fantasi.
Jika klien seorang insinyur aku akan bilang betapa menyenangkan pekerjaan itu dan meminta dia cerita tentang dunianya. Kalau dia gemuk aku akan bilang matanya indah. Kalau dia sungkan karena bulu dadanya lebat aku akan memuji fisiknya yang bagus. Kalau mulut atau badannya bau aku tidak akan bilang atau meminta dia mengoleskan deodoran. Seorang profesional seperti diriku memang tidak dibayar untuk jujur.
Dua kali diperkosa
Ayah ketemu ibu tahun 1967, sebagai generasi pertama imigran di Australia, tepatnya di Queensland. Kami pindah dari New York ketika umurku tujuh tahun. Ibu datang dari keluarga Belanda yang kaya, mewarisi berbagai jenis usaha, sementara ayah berharap bisa ikut hidup dari kekayaan itu. Belakangan, kakek dan nenek dari pihak ibu menyusul dan tinggal di Sydney.
Ayah adalah anak sulung dari empat bersaudara, laki-laki semua, karena itu dia sangat mengharapkan ibu melahirkan anak laki-laki. Tetapi aku dibiarkan lahir. Setelah aku, berturut-turut lahir adik-adik laki-laki, Dieter serta si kembar Geert dan Haans.
Masa kecil kami rasanya cukup menyenangkan meski kenyataannya ayah-ibu selalu kesulitan soal uang. Memang selalu ada sarapan dan kue-kue kecil di meja, tapi anak-anak tidak punya seragam sekolah dan buku-buku pelajaran.
Aku tidak tahu persis sebabnya kami tiba-tiba pindah. Di daerah Rockhampton, Queensland, ayah-ibu membuka warung kebutuhan rumah tangga sekaligus makanan cepat saji. Ibu yang tidak pernah kerja seumur hidupnya harus berkeringat di tempat panas.
Demikian pula aku. Belum 10 usiaku, tiap pagi aku harus bangun pukul 04.00, bersepeda lima kilometer mengambil koran untuk dijual. Kemudian membersihkan kompor, menyiapkan uang kembalian, menyapu lantai, mengelap meja dan peralatan dapur, mengelap debu di rak-rak barang jualan.
Lalu aku memasak, menyiapkan roti isi bagi para pelanggan yang akan datang untuk sarapan. Itu berlangsung sampai menjelang pukul 09.00 saat aku berangkat sekolah. Pulang pukul 15.00 aku langsung membantu ibu membersihkan toko dan menyiapkan bahan untuk hari berikutnya.
Saking sibuknya, aku jarang menghabiskan waktu bersama ibu. Dieter baru tujuh dan si kembar lima tahun.
Ayah jarang membantu. Dalam pikirannya, pekerjaan dapur diperuntukkan bagi kaum perempuan. Tapi sesekali aku bisa merasakan kasih sayangnya. Di suatu hari libur kami ngobrol di kebun belakang dan ayah menerangkan tentang matahari, planet, dan sistem tata surya. Waktu di New York kami juga pernah ke Radio City Music Hall untuk nonton balet dan opera.
Di sekolah, banyak teman mengalami kesulitan dalam matematika dan sains, tapi bagiku mudah saja. Aku juga ikut kegiatan ekstra, banyak main ketika umur makin bertambah, namun pekerjaan tetap aku laksanakan. Aku selalu menyelesaikan tugas warung tepat waktu.
Barangkali sebuah kelebihan, aku merasa selalu menjadi magnet bagi lawan jenis. Pada umur sembilan, ketika teman lain mengenakan miniset, aku sudah memakai bra tanpa busa. Pada umur sepuluh, BH-ku ukuran 38 inci.
Di rumah aku kurang perhatian, tapi orang lain justru memberiku perhatian. Aku tak bisa membantah perasaan, aku menikmatinya.
Suatu malam aku berniat mematikan lampu kabin mobil ayah yang mungkin lupa dimatikan. Tiba-tiba seorang pemuda membekapku dari belakang dan mengancamku dengan pisau. Aku tahu dia kakak temanku, hampir setiap hari ke warung kami. Untung ayah dengar teriakanku dan sebuah pukulan tongkat bisbol menghentikan perbuatan pemuda itu.
Aku dibawa ke rumah sakit, tapi para perawat malah seperti melecehkanku dengan pertanyaan bagaimana rasanya, apakah sempat melihat penis dia, seberapa besar ukurannya, dll. Aku tertidur dan tahu-tahu sudah di ruang pemeriksaan dan dua polisi gemuk menyilangkan tangan. Tak ada catatan, tak ada cerita, mereka malah menyalahkan diriku yang keluar rumah dengan baju tidur tanpa pakaian dalam. Oh.
Di rumah, ibu hanya berkata datar, “Ibu tahu itu bukan perkosaan. Ibu baru bicara dengan ahli astrologi. Minggu ini bulanmu sedang naik menuju Venus.”
Artinya? Minggu itu aku seperti Lolita yang menggoda setiap pria yang melintas, tak peduli usia dan statusnya. Aku sengaja menciptakan peristiwa itu. Aku benci ibu!
Peristiwa itu tidak hanya melukai hatiku, tetapi juga menyebabkan aku dilarang ke sekolah sementara. Ayah dan ibu tidak membela. Malah ketika aku cekcok dengan adik-adik gara-gara mereka mengotori lantai yang sedang aku pel, ayah malah mengusirku.
Ben (22), pemuda beribu Cina-Singapura dan ayah Swedia, adalah pria sejati di mataku. Aku menumpang di rumah dia. Kami pacaran tapi dia memperlakukan aku seperti bunga indah dalam jambangan tipis. Dia bahkan terlalu malu untuk menyentuhku. Dari semula dua minggu, akhirnya hampir dua bulan aku tinggal di sana. Aku tetap sekolah.
Aku kembali ke rumah setelah ibu memohon. Sementara Ben pindah ke lain kota untuk sekolah pilot.
Datang petaka berikutnya. Leon (29), bekas tetangga, tiba-tiba menjebakku di rumah barunya. Dia mengikatku, badannya yang tinggi besar dengan mudah menelentangkanku di sofa. Dia meletakkan lututnya di pundakku, lantas membuka celana. Sambil menahan rasa sakit di pundak mulutku dipaksa membuka, sampai keluar cairan yang memuakkan itu.
Badanku sakit, terlebih lagi hatiku. Aku tak cerita ke ayah dan ibu karena tidak yakin mereka akan percaya. Pengalaman buruk di kantor polisi juga mencegahku untuk melaporkan kejadian itu. Semua aku simpan sendiri. Aku jadi makin pendiam. Tak mau sekolah, tak mau main, tak ada senyum. Akhirnya ibu mengirimku tinggal bersama kakek-nenek di Sydney.
Beberapa hari tersisa, aku ingin menikmati saat-saat terakhir sebagai remaja Queensland. Aku sengaja memberontak dan memberikan tubuhku kepada Joe yang sesungguhnya sudah punya pacar. Buat apa menjaga kesucian diri kalau orang lain terlanjur menganggapku “menikmati” perkosaan itu?
Tapi tiba-tiba aku merasa sakit. Aku minta Joe berhenti tapi dia tidak menghentikannya. Aku sama sekali tidak merasakan kenikmatan. Kesimpulanku, seks hanya enak untuk laki-laki tapi tidak untuk perempuan.
Ingin jadi artis
Rumah kakek dan nenek di Sydney seperti istana, dengan halaman belakang menghadap pelabuhan. Aku sekolah atas biaya mereka, juga biaya untuk ke gym serta uang saku. Tapi magnet di dalam diriku tak bisa hilang. Glen, kakak kelas yang tinggal tak jauh, mencoba memperkosaku. Dia bilang tak ada gadis di sekolah semenarik diriku.
Di gym juga banyak lelaki mendekat. Ajakan untuk berkencan juga datang bertubi-tubi, dan ada satu-dua yang terus terang bersedia membayar demi seks.
Sampai suatu saat kakek marah besar mendapati seorang pria 45 tahun menelepon ke rumah dengan nada penuh nafsu mencari diriku. Tak sempat beralasan bahwa aku kerja sambilan sebagai pelayan restoran atau apa, kakek mengumpat, “Sana, pulang ke ibumu, terserah dia mau terima atau tidak!”
Aku pulang ke Queensland, dan ternyata ibu dan ayah sudah berpisah. Ibu pindah ke pinggir kota namun biaya sewa rumah tetap memberatkannya. Aku harus bekerja di sebuah toko surfing di akhir minggu agar bisa meringankan beban ibu membesarkan ketiga adikku. Tapi kedatangan Jeffrey mengubah suasana.
Sebagai pacar ibu, mungkin dia menyumbang cukup besar sehingga merasa berhak mengambil kamar tidurku. Aku tidur di sofa, setiap kali harus menunggu semua orang selesai nonton televisi baru bisa tidur.
Karena dibantu Jeffrey, ibu tak meminta uang hasil kerjaku. Dengan demikian aku bisa kursus akting di Brisbane yang biasa kutempuh naik kereta api, tiga kali seminggu. Aku amat menikmati kursus tanpa kehilangan kesempatan sekolah di pagi hari. Kadang aku berenang sebelum sekolah. Hidupku penuh gairah. Aku memang bercita-cita main film atau drama.
Tiba-tiba keinginan itu seperti kandas karena aku jatuh sakit. Terlalu capek bekerja, berenang, makan sedikit, dan tidur di sofa yang selalu terganggu menyebabkan badanku ambruk. Tapi dokter memastikan, aku hamil. Anak kembar pula.
“Ini pasti perbuatan Ben. Kamu 15 tahun, dia 25. Kita harus lapor polisi, dia seorang pedofilia,” kata ibu emosional.
Badanku terlalu lemah untuk membantah. Lagi pula keadaan juga tak membaik. Kesehatanku makin turun, demikian pula kandunganku. Ibu membawaku ke sebuah klinik di Brisbane, dan aku tak punya kekuatan untuk mempertahankan janin kembarku.
Hanya beberapa hari aku kembali ke rumah, pertengkaranku bergantian antara dengan ibu dan dengan Jeffrey. Tak tahan, aku pergi. Aku kerja di restoran untuk membayar sewa flat murah tiga kamar berbagi dengan dua pria.
Ingin rasanya mengandalkan Ben tapi ibunya tak menyukaiku. Aku ingin mendekat ke sekolah drama dan punya agen yang akan mencarikanku peran, paling tidak sekali seminggu. Tapi itu tak terjadi. Tak ada pekerjaan yang “mapan” untukku karena aku tak punya data diri. Jaminan sosial hanya bagi orangtua tunggal atau orangtua, bukan anak putus sekolah.
Iklan lowongan jadi gadis penghibur selalu saja menyita perhatianku. Tak perlu identitas, surat-surat, atau dokumen apa pun. Bahkan nama asli. Aku tahu kelebihan diriku dalam memikat laki-laki. Rasanya aku bisa menjalani profesi itu secara alamiah.
Akhirnya keputusan aku ambil. Aku sudah sering mendapat julukan pelacur, maka aku tak ragu untuk mewujudkannya. Tak perlu lagi bersuci-suci karena yang terbentang bagi diriku adalah jalan menjadi pendosa.
Aku menghubungi salah satu nomor yang tertera dan membuat janji untuk datang.
“Namaku Abigail Winters,” kataku memperkenalkan diri kepada perempuan yang menyambutku. “Jangan sebutkan nama aslimu,” katanya.
“Kami menganggap semua gadis di sini berusia 18,” ia melanjutkan.
Aku baru tahu profesi itu baru boleh dijalani setelah seorang gadis berumur 18.
Setelah mendapat arahan dari manajer dan mempelajari “menu” layanan dengan aneka macam tarif, aku pun siap bekerja. Potongan 50% untuk setiap tarif “short time” seharga A$100.
Aku langsung bekerja melalui tahap kikuk dan kaku. Tapi malam itu ada beberapa orang. Sampai pukul empat dini hari aku pulang dengan A$400, dari hasil keseluruhanku A$900.
Usiaku baru 15, tapi dalam semalam menghasilkan uang lebih besar daripada gaji sebulan di toko surfing. Ratusan dolar aku dapat dengan mudah. Ya, mudah, asal aku taat pada aturan, bayaran sesuai menu, dan waspada agar kondom selalu terpasang. Aku bisa menjadi jutawan.
“Apakah itu anakku?”
Seorang kawan menyarankan aku untuk pindah ke Brisbane. Dari sana mudah mencari akses ke kawasan turis Gold Coast. Aku pun ke sana dan menjadi bagian dari rumah bordil ternama di Brisbane, La Belle Femme.
Aku juga berkenalan dengan Norm, pemilik Gala Records, yang kemudian memberiku banyak pekerjaan. Menari di video klip, menjadi figuran di film pendek, hingga menjadi petugas humas di sebuah klub. Tentu saja itu kamuflase belaka, mengingat umurku baru 16 dan resminya belum boleh bekerja sebagai PSK, lagi pula aparat pemerintah di Gold Coast rajin memeriksa identitas pekerja.
Ben tinggal tak jauh dari rumah ibu, tapi kerja di bagian lain kota. Dia tetap baik hati, namun mulai berubah. Mood-nya naik turun dan sering tiba-tiba menghilang. Aku menduga dia kecanduan narkoba. Tapi sebenarnya jiwanya yang terganggu. Dia mengidap skizofrenia.
Setelah Brisbane, aku ke Sydney. Aku menyewa kamar seharga A$120/minggu di dekat Kings Cross, distrik lampu merah ternama di kota itu. Aku menjadi bagian dari Felicity’s, klub hiburan terbesar yang dikelola geng imigran asal Yunani.
Uang memang besar, wawasan pun terbuka. Tapi kehidupan di Kings Cross penuh risiko. Preman, perdagangan narkoba, kejahatan, korupsi aparat pemerintah, pembunuhan, dsb. adalah variasi dari pekerjaan. Kalau bukan demi uang, niscaya aku tak akan berlama-lama di sana.
Antara Natal dan ulang tahunku yang ke-18 aku pulang. Aku tak tahan lagi di Sydney. Semoga pekerjaan di Gala bisa menutup sebagian pengeluaran ibu.
Ternyata aku hamil. Ketika aku memberitahu Ben, jawabannya, “Apakah itu anakku?”
Sambil bekerja di Gala, aku tak memberitahu seorang pun bahwa aku hamil. Untung janin kecil itu tak pernah mendatangkan masalah. Dia mungkin tahu ibunya sedang berjuang.
Aku tidak bekerja beberapa hari di akhir Agustus. Orang menduga aku sakit. Pada 1 September, Poppy lahir. Matanya yang cantik bercahaya meluluhkan hati ibu. Dia langsung tergerak untuk merawat cucunya. Aku setuju, tapi Poppy harus dijauhkan dari Ben. Aku khawatir kejiwaan Ben membahayakan Poppy, atau mungkin ingin menguasainya.
Aku kembali bekerja di Gala. Sehari-hari Poppy dirawat ibu, ketiga adikku ikut saudara ibu di Brisbane. Tak terasa, 18 bulan berlalu. Percekcokan dengan ibu mulai terjadi. Tak ada sebab lain kecuali uang. Apalagi di awal 1990-an itu krisis ekonomi melanda.
Orang lebih memprioritaskan makan dan rumah daripada hiburan. Gala pun terkena imbasnya. Ibu memilih pindah ke Sydney, dan aku luntang-lantung di kota bersama Poppy. Sesekali aku hidup dari belas kasihan orang lain di jalan, pernah juga aku mencuri di supermarket.
Setelah berdialog dengan diri sendiri, aku memutuskan untuk kembali ke profesi lama. Sudah ada pola yang mudah: pasang nomor ponsel di koran dan menyediakan tempat. Peraturan pemerintah Gold Coast melarang iklan “Introduction Services” – begitu nama pekerjaan itu - menyertakan alamat. Hanya ada nama Eve dan nomor untuk dihubungi.
Itu menguntungkan diriku. Apalagi Poppy sangat tidak merepotkan. Dia tidur di malam hari tanpa pernah terbangun sampai pagi. Pukul 20.00 aku membuka telepon, dering pun bertubi-tubi, pukul 20.30 aku sudah mendapat klien pertama yang membayar A$150.
Datang klien kedua dan seterusnya. Sampai pukul 03.00, aku sudah mengantongi A$640. Dadaku yang mulai turun, badan yang rasanya tak seksi lagi sejak melahirkan, ternyata menjadi “big hit”.
Setelah seminggu, aku mempekerjakan seorang staf, ibu orangtua tunggal. Tugasnya menjawab telepon, mengatur jadwal klien, dan mengawasi Poppy tidur. Lama-lama bisnis makin stabil. Saat Poppy tiga tahun aku mengirimkannya ke daycare tiga kali seminggu, sehingga aku juga bisa bekerja siang hari.
Pekerjaanku rapi terjaga. Klien hanya datang setelah mendapat jadwal lewat telepon. Aku makin bisa mengatur jadwal. Di kasino, di hotel atau diskotek, dengan mudah aku bisa mendapat ribuan dolar dari penjudi yang menang atau mabuk. Pernah juga seorang politikus berpengaruh menyewaku semalam suntuk di kamar hotelnya yang mewah. Aku menyesal tak meminta bayaran lebih banyak.
Gunjingan orangtua murid
Kota Perth di Australia Barat sedang berkembang pesat. Industri, pertambangan, pelabuhan, pekerja datang dari seluruh dunia. Mereka laki-laki kesepian namun punya banyak uang. Seorang teman memberitahu, pekerja seks di sana bisa mendapat jauh lebih banyak.
Itu alasan keduaku pergi ke sana. Alasan pertama, aku makin sulit menyembunyikan pekerjaan dari ayah dan adik-adik. Para tetangga yang kadang aku undang juga tak bisa lagi menerima cerita bahwa aku membeli mebel dan perangkat elektronik mewah dengan uang dari ayah dan ibu. Barang-barang lain hasil menang undian Melbourne Cup.
Di Perth, aku langsung mendaftar sebagai pekerja seks resmi, menitipkan Poppy ke daycare setiap hari, sehingga aku bekerja hanya siang hari. Tak sampai setahun aku berhasil menyewa apartemen yang cukup mewah dan mempekerjakan seorang sekretaris.
Keadaan berubah ketika Poppy sekolah. Aku hanya bekerja malam hari. Repotnya ketika sekolah libur. Sementara di sekolah Poppy, orangtua murid menggunjingkan diriku. Pekerjaan tak jelas tapi bisa menyewa apartemen seharga A$1.200/bulan, memiliki pengasuh anak, membayar uang sekolah A$10.000/tahun, belum les piano, bahasa Mandarin, dan senam.
Di tempat terpisah, Ben masih menjadi bagian diriku. Setidak-tidaknya aku membantu biaya ketika dia tak lagi bisa bekerja. Beberapa kali dia ditahan karena sulit mengendalikan diri.
Karierku selanjutnya adalah Singapura. Seorang klien bilang, di sana permintaan untuk perempuan kulit putih sangat tinggi. Aku segera mengurus data diri, mengeluarkan beberapa ratus dolar untuk akta kelahiran, juga paspor. Untung adik laki-lakiku bersedia ke Perth untuk mengasuh Poppy beberapa minggu.
Di Singapura aku bergabung dengan belasan perempuan lain dari seluruh dunia, tinggal di hotel kecil di sekitar Little India. Ada gadis Rusia, Jerman, Afrika Selatan, Brasil, Tiongkok, Malaysia, Indonesia, Filipina, dll. Mister Singh, pemilik jasa escort yang kantornya di Orchard Road, berkata dengan santun, “Katakan bahwa kamu dari Belanda, Eve, karena anak asuhku dari Australia sudah banyak.”
Kakek-nenekku memang orang Belanda, dan aku masih sedikit menyisakan aksen Belanda. Tapi, siapa yang peduli dengan semua bullshit ini sih?
Karena tak ada tempat mangkal, tugas kami berubah-ubah. Menemani tamu makan malam atau ke klub, baru kemudian masuk kamar hotel. Untuk menemani malam malam, Mr. Singh meminta si tamu membayar AS$200 – dan aku mendapat bagian AS$90.
Kalau kemudian si tamu mengajakku ke kamar, tarifku AS$700 untuk waktu pendek dan Mr. Singh memotong AS$150. Biasanya, setelah 3 jam aku akan pamit kepada klien, tapi kalau dia menghendaki sampai pagi, dia harus mengeluarkan lagi AS$800.
“Kadang dapat lebih kadang kurang, itu tergantung bagaimana dia dan caramu merayu,” katanya.
Penghasilanku bisa sangat besar. Pantas gadis-gadis rekanku menenteng tas mahal, mengenakan pakaian bermerek, juga perhiasan. Kata mereka, kalau beruntung bisa dapat souvenir cincin atau arloji emas. Itu di luar perjalanan mendampingi tamu ke Belanda, Paris, Amerika, Sri Lanka, Malaysia, India, Bangkok, dll. yang belakangan aku alami.
Tak lama setelah kami mendampingi rombongan band rock asal Eropa yang personelnya tak bisa bahasa Inggris di Bali, Indonesia, kami dikirim ke Brunei Darussalam.
Entah berapa uang yang dibayarkan si pengundang kepada Mr. Singh, yang pasti, sesampai kami di sebuah bangunan amat mewah, seseorang memberikan amplop tebal dan kami diarahkan ke kamar masing-masing. Aku buka amplop dan, astaga, isinya AS$6.000!
Banyak gadis cantik selain kami. Mereka berenang dan difoto-foto. Kemudian kami kembali ke kamar untuk bersiap makan malam pukul 19.00. Ada beberapa meja, di setiap meja terdapat satu pria dan lima perempuan. Ada 25 gadis dari seluruh dunia, dengan perbincangan aneka bahasa. Pria di mejaku bernama Ali, entah apa hubungannya dengan Sultan.
Setelah makan kami pindah ruang untuk minum. Pukul 23.00 seseorang mempersilakan beberapa gadis untuk meninggalkan ruangan. Rupanya aku tidak terpilih. Pada tengah malam bel berbunyi, dan kami dibawa ke tempat lain untuk minum teh, kopi, dan camilan.
“Duh, kapan malam akan berakhir?”
Seseorang menjawab, “Kita tidak dipilih, jadi habis ini boleh kembali ke kamar.”
Untuk pertama kalinya aku menerima uang tanpa bekerja.
Esok paginya, setelah sarapan buah, aku ke kolam renang. Sepintas aku melihat salah seorang gadis yang semalam terpilih berjalan sambil menggoyangkan tangannya yang dihiasi gelang besar bertatah berlian. Wah, layanan seperti apa yang dia berikan? Kalau itu terjadi pada diriku, saat pulang ke Australia nanti, bagaimana cara menjawab pertanyaan petugas pabean?
Setelah makan siang, aku ke perpustakaan. Ketika asyik membaca Pride and Prejudice ditemani secangkir kopi, seorang pria menyapa dalam aksen Inggris, “Suka kisah klasik ya?”
Aku langsung berdiri tegak. “Ya, Pak. Bacaan apa yang Bapak suka?”
Setelah basa-basi sejenak, dia pun berlalu sambil berkata, “Senang berbincang denganmu Eve. Aku tak ingin mengganggu keasyikanmu membaca.”
Dia tahu namaku sementara aku tidak tahu dia?
Saat makan malam, pria itu duduk di mejaku. Setiap orang memperkenalkan diri, dan ketika tiba giliran dia, “Kalian boleh panggil aku Mr. Darcy,” katanya sambil tertawa kecil. Perbincangan tentang seni dan sastra lantas mengalir. Dia bilang sangat menyukai Michael Jackson, dan beruntung pernah bertemu secara pribadi.
Ketika acara minum, aku tak melihat dia. Kebetulan musik disko berbunyi, dan kami pun berdansa. Saat istirahat, seorang pelayan memintaku ikut ke sebuah ruangan di sayap lain.
“Selamat malam lagi, Mr. Darcy.”
“Kamu perempuan dengan banyak pesona Eve. Kamu suka baca, kamu menari dengan lincah, dan kamu sangat cantik.”
“Terimakasih Pak,” jawabku.
Dia membimbingku ke tempat tidur, dan kesadaranku langsung timbul. Apakah dia punya kondom? Ini penting, sebab kami tak diperkenankan membawa dompet selama di sana.
Untung dia segera mengeluarkan pengaman itu dari laci. Siapa pun dia sebenarnya, dia sangat berpengalaman di tempat tidur. Dia memintaku berganti-ganti posisi, ada yang sulit dilakukan bahkan oleh seorang pesenam. Pagi harinya sarapan diantar ke kamar.
Mister Darcy mengucapkan terima kasih sambil memberikan bungkusan kecil dan sebuah amplop. Isinya? Wow, arloji Tag Heuer model terbaru berlapis emas! Aku mencium dia dan mengucapkan terima kasih.
Aku segera bergegas ke kamar dalam kawalan seorang pelayan. Begitu pintu tertutup aku pun membuka amplop itu: AS$3.000!
Kagok masuk kampus
Aku kembali ke Perth dan tetap bekerja. Aku selalu mempekerjakan mahasiswa, bahkan sarjana, sebagai sekretaris. Mereka menyadarkanku bahwa aku tak bisa selamanya hidup dari menjual tubuh. Dengan bimbingan klien yang kemudian jadi pacar, aku mencoba kuliah.
Sungguh kagok masuk kampus, apalagi harus membawa anak. Aku memilih program kuliah sore hari, tiga kali seminggu. Penghasilanku, seminggu di Singapura bisa dapat setengah tahun uang sekolah Poppy.
Keadaan jadi sulit ketika Poppy yang beranjak remaja mendapati pekerjaanku di internet. Aku mencoba mencari jalan terbaik untuk menjelaskan. Poppy akhirnya mengerti dan membela diriku. Aku menutup semua aktivitas online, hubungan telepon, dan sekretaris pun aku berhentikan. Dengan segala upaya aku menyelesaikan kuliah.
Ketika kuliah selesai, aku bingung. Gelarku master, tapi tak tahu pekerjaan apa yang akan aku cari. Seorang klien membimbingku mengarang resume yang meyakinkan.
Kerja di bagian marketing akhirnya aku jalani, tapi adaptasinya sungguh berat. Aku selalu membandingkan kerja tanpa baju memperoleh A$4.000 seminggu dengan kerja penuh waktu berdandan lengkap demi A$600. Ternyata aku sangat tergantung pada pekerjaan lamaku, atau aku harus mendapat orang kaya yang mau menerima diriku seutuhnya.
Tak sekali-dua aku bertemu pria semacam itu. Dia tahu pekerjaanku dan mau menerima apa adanya. Tapi hubungan kami putus, entah karena dia tak bisa lepas dari bayang-bayang istrinya atau memilih perempuan lain untuk dinikahi.
Saat tepat dan orang yang tepat itu tiba ketika aku sudah bisa menikmati pekerjaan di kantor, masih punya aktivitas lain buat Poppy dan diri sendiri, termasuk menjadi pelatih tim bola keranjang di sekolahnya. Kebahagiaan kami mengalahkan kekuatan besar yang selalu ingin menarikku ke kebiasaan lama. Akhirnya, aku bangkit dari ranjang kelam.
..."