Dari pedalaman Playen, tentara Indonesia melaporkan semangat Serangan Umum 1 Maret 1949 kepada dunia. Menegaskan bahwa Republik masih ada.
Artikel ini tayang pertama di Majalah Intisari edisi Mei 1995 dengan judul "Radio Gerilya Menohok Kekuasan Belanda" | Penulis:G. Sujayanto/B. Soelist
---
Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini
---
Intisari-Online.com -Sesudah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia tahun 1945, rakyat masih harus berjuang mengusir penjajah. Dalam masa ini bisa dilihat betapa pentingnya peranan radio PHB PC-2 yang mengabarkan Serangan Umum 1 Maret 1949 dari Kecamatan Playen, Gunung Kidul, sampai ke duta besar RI di PBB secara estafet di bawah pimpinan Boediardjo.
Siaran rahasia ini menyebabkan Belanda marah dan menyerang Playen dengan 1 brigade pasukan payung.
"Kekuatan kita di zaman perjuangan adalah semangat untuk merdeka, padahal kita nggak tahu bagaimana rasanya. Barangkali seperti budak belian lepas dari belenggu," ujar H. Boediardjo, mantan Menpen RI dan mantan Deputi Menteri/KASAU mengisahkan kerinduan akan kemerdekaan bangsa Indonesia dari cengkeraman kuku penjajah.
Masa-masa itu Boediardjo muda yang belum genap 18 tahun, sudah giat berjuang dan masuk menjadi anggota Militaire Luchtvaart dan mengusir kekuasaan penjajah guna mewujudkan cita-cita perjuangan. Namun ini tidaklah semudah membalikkan telapak tangan.
Perangkat melawan kekuasaan penjajah hampir dikata belum ada. Angkatan perang yang menjadi tulang punggung belum terbentuk. Untung, semua rakyat disatukan dengan tekad, semangat, dan jiwa.
"Pokoknya, kita semua berani mati! Wong kita bersenjatakan bambu runcing kok, ya nekat, rasanya kebal kayak Gatotkaca," ungkap Boediardjo, kelahiran Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, 16 November 1921.
Tapi diakuinya keberanian rakyat masa itu memang luar biasa, sampai tidak mau lagi kalau diminta mengulang. "Bayangkan, saya ngelucuti tentara Jepang yang menyandang pedang dan pistol, padahal mereka bengisnya kayak apa. Untung semangatnya lagi nglemprek,” ceritanya.
Waktu itu Boediardjo sudah merasa yakin, entah kapan, kemerdekaan Indonesia pasti terwujud. Apalagi mereka yang pintar-pintar di Jakarta sudah membuat UUD dan membentuk panitia kemerdekaan segala.
Maka ketika tahun 1945 Jepang menyerah pada Sekutu, kesempatan itu diambil oleh Soekarno – Hatta dengan memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. "Pilihan kita Cuma merdeka atau mati," katanya.
Usai pernyataan kemerdekaan itu perjuangan bangsa Indonesia bertambah berat. Setelah Jepang menyerah pada Sekutu akibat jatuhnya bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, kekuasaan Jepang diambil alih oleh tentara Sekutu pada 29 September 1945. Ditandai dengan tibanya mereka di tanah Jawa di bawah pimpinan Letnan Gubernur Jenderal van Mook.
Setibanya tentara Sekutu situasi bertambah runyam sampai terjadinya Agresi Militer Belanda I pada 21 Juli 1947 dan Agresi Militer Belanda II pada 19 Desember 1948 merebut ibu kota Yogyakarta. Agresi Militer Belanda II ini membuat Kota Yogyakarta berada di bawah kekuasaan Belanda sampai terjadinya Serangan Umum 1 Maret 1949 yang menduduki Yogya selama 6 jam di bawah pimpinan Letkol Soeharto.
Pakai kurir sejauh 40 km
Serangan yang menohok kekuasaan Belanda itu semakin punya arti lantaran disiarkan secara rahasia melalui radio darurat PHB AURI PC-2 dari Dusun Banaran, Kelurahan Playen, Gunungkidul, ke duta besar Indonesia di PBB pada malam harinya dipimpin Boediardjo.
"Bayangkan, kita pakai kurir dari Yogyakarta ke Playen yang berjarak 40 km' memberitahukan serangan itu, sehingga bisa kita siarkan pada malam itu juga," jelas Boediardjo, yang pernah mengikuti pendidikan teknik radio di Bandung tahun 1940.
Siaran itu telah membuka kedok Belanda yang selalu menggembar-gemborkan bahwa RI dengan TNI-nya tidak lebih daripada gerombolan pengacau. Ternyata terbukti TNI dan RI masih utuh dan tegar, bahkan sanggup merebut dan menduduki Yogyakarta pada siang hari bolong.
Padahal radio yang semula beroperasi di sebelah barat RS Panti Rapih, Yogyakarta, ini digendong ke Dusun Banaran, Kelurahan Playen, lantaran Agresi Militer Belanda II yang menduduki Kota Yogya. Radio berkekuatan 50 watt yang beroperasi macam maling ini mengudara sesudah larut malam dengan frekuensi berganti-ganti serta memakai morse dan pemancar yang disamarkan agar tidak tercium oleh Belanda.
Setiap malam waktu mau mengudara antena radio baru dikatrol di antara dua pohon kelapa. Sedangkan mesin generator di sembunyikan di bawah tanah di dalam dapur. Ini sama sekali tidak mencurigakan karena sehari-harinya berupa tumpukan kayu bakar dekat luweng yang masih digunakan untuk menanak nasi.
Begitu pun dengan perlengkapan teknis dan nonteknis, secara cepat dalam waktu pendek dapat disembunyikan kalau menghadapi situasi darurat. Penggunaan sandi pun dihemat agar tidak mudah dibuka musuh.
"Kalau siang orang nggak akan dengar dan lihat, kita juga menyaru sebagai petani atau apa saja. Tapi rupanya Belanda terus mengincar. Hampir tiap hari di atas desa terlihat pesawat L-5 berputar-putar cukup rendah mencari posisi PC-2. Pesawat ringan yang berawak 2 orang itu biasa dipakai artileri Belanda memandu tembakan meriam. Mungkin dia tahu posisi kita secara kira-kira, tetapi tidak sampai menemukan secara tepat,” kata Boediardjo yang memimpin radio gerilya ini bersama dengan 23 anggotanya.

Pretelan kapal terbang
Kesahajaan memang mengiringi kemunculan radio yang pemancarnya berasal dari pretelan kapal terbang Jepang itu. Dulu, menurut Boediardjo (74) yang juga mantan Dubes RI untuk Spanyol ini, sepulang dari dinas ke Manila atau Birma (sekarang Myanmar) pasti membawa peralatan perang.
Dengan perlengkapaan seadanya dia mereka-reka sendiri pemancar itu. Lama-kelamaan lengkaplah peralatan yang berupa: pembangkit, pemancar (dulu masih pakai lampu), dan penerima.
Dari stasiun induknya di Banaran, siaran yang tak tentu hari dan jamnya ini secara estafet diteruskan ke Tasikmalaya, Tanjungkarang, Palembang, Bukittinggi, Jambi, Pekanbaru, Balige, Aceh, Birma, terus ne New Delhi sebagai corong Indonesia di dunia.
Karena pemberitaan radio gerilya ini, terutama siarannya tentang Serangan Umum 1 Maret, Playen akhirnya diserbu tentara Belanda pada 10 Maret 1949. Serangan itu dimulai pada pukul 07.00 WIB melalui pangkatan AURI Gading, Playen, dengan mengerahkan 18 pesawat Dakota yang dilindungi beberapa pesawat bomber dan pengawalan pesawat pemburu cocor merah.
Dari perut pesawat diterjunkan ratusan pasukan payung, sementara dari darat pasukan infanteri Belanda datang dari Maguwo dan Imogiri dengan tembakan kanon dan mortir. “Tapi sebelum Belanda datang, saya sudah meninggalkan Banaran,” kata Boediardjo.
Pengungsian ini pun dilakukan dengan rapi lantaran berkali-kali gerilya ini telah melakukan latihan. Rombongan dibagi dalam beberapa kelompok kecil menuju Brosot sebagai tempat transit, lalu diteruskan ke Kokap untuk membangun markas dan mengudara lagi. Tapi di sana sudah tidak ada berita penting lagi yang perlu disiarkan, kecuali pengalihan kedaulatan.
Keberadaan radio gerilya ini juga lepas dari kerelaan Ibu Pawirosetomo menampung “pasukan” Boediardjo. "Waktu Pak Boediardjo datang sore hari itu kebetulan yang ada di rumah cuma ibu dan saya, dia menggunakan nama samaran Widodo,” ujar Sumarjono, putra bungsu Pawirosetomo yang waktu itu baru berusia 19 tahun.
Menurutnya, saat datang, ibunya merasa takut dan menyerahkan kepadanya untuk berembuk dengan mereka. Lalu kepada ibunya dia jelaskan mereka berjuang mempertahankan kemerdekaan bangsa. Sejak itu mereka menempati rumah itu. Bahkan semua warga desa dapat jatah untuk menyediakan nuk (nasi plus lauk yang dibungkus dengan daun).
Terkesan dengan penerimaan Ibu Pawirosetomo kala itu, Boediardjo dalam Sarasehan Playen tanggal 18 Februari 1993 menulis:
"Rumah Pawirosetomo yang kita jadikan markas sejak Januari-Maret, merupakan pilihan yang pilih tanding. Keluarga sederhana ini sangat ramah dan cukup disegani oleh masyarakat di sekitarnya. Kami merasa sangat dimanja, sehingga kami ‘rumangsa’ membebani suwargi Ibu Pawirosetomo. Meski menu harian mayoritas gogik dengan sayur yang didominasi so dan kroto ataupun daung singkong, tapi kadang juga muncul tahu, tempe, atau ayam yang tergolong mewah."
Kendati mengalami banyak kekurangan, pasukan gerilya ini tetap bersemangat, sepi ing pamrih rame ing gawe, rela berkorban, tanpa memperhitungkan untung rugi.
Pemancar radio ini memang terkesan tersembunyi meski dekat jalan raya yang menghubungkan Playen dengan Lapangan Udara Gading. Rumah Pawirosetomo yang seluas 5.000 m2 cuma terletak 50 meter dari jalan raya itu dihubungkan dengan jalan sempit. Di situ terdapat bangunan joglo dan limasan.
Di sebelah timur dibatasi pagar. Sementara antara dapur dan joglo terdapat halaman yang ditumbuhi lamtoro dan pohon kelapa. Di sinilah ditanam tiang bambu untuk menancapkan antena setinggi ±15 meter. Mungkin karena perlindungan Tuhan, markas dan pemancar ini tidak pernah ketahuan, padahal Belanda sudah masuk di sebelah timur dan selatan halaman rumah.

Empat orang ditembak Belanda
Kepergian pasukan Boediardjo dari Banaran ternyata meninggalkan pekerjaan besar bagi Sumarjono. Dia harus menyelamatkan 50 peti peluru, perangkat radio, dan antena yang ditinggalkan begitu saja.
Sementara penduduk sudah mengungsi menghindari serangan balas dendam Belanda yang merasa dongkol dengan adanya siaran radio darurat itu.
"Sebelum dibawa ke luar, barang-barang itu saya sembunyikan di kebun, saya tutupi dengan daun-daunan. Ada juga yang saya masukkan ke WC,” kata Sumarjono, yang di hari tuanya masih tinggal di Banaran.
Untungnya, Belanda tidak sampai menginjak tanah seluas 5000 m2 ini. Padahal di situ ada mobil B 49 putih milik komandan pangkalan AURI Gading. Kalau ketahuan pasti dibumihanguskan.
Persoalan muncul lagi ketika Sumar harus menyelamatkan dan membawa keluar peti-peti peluru yang amat dibutuhkan oleh AD untuk meneruskan perjuangan. Karena tak ada warga desa, dia akhirnya menghubungi Kades Mulusan, Paliyan, untuk membantu menyelamatkan barang-barang keluar dari Banaran ke Desa Mulusan yang berjarak 14 km.
Malam itu sekitar pukul 20.00, seratusan orang yang dibagi dalam 10 kelompok masing-masing harus memikul 5 peti peluru. Pengungsian amunisi ini menjadi sangat berbahaya karena Belanda sudah menebarkan mata-matanya.
Benar juga, beberapa saat sesudah meninggalkan Banaran, Sumar yang berada di barisan belakang merasa dibuntuti oleh dua mata-mata Belanda. Sampai Desa Mulusan tahu-tahu dia merasa digunting oleh pasukan Belanda. Satu pasukan Belanda mengikuti dari belakang, sedang pasukan lain menunggu di jalan besar menuju Paliyan. Bahkan di lapangan Paliyan 14 orang gerilyawan kita ditembak Belanda.
Sesampai di Mulusan, Sumar langsung masuk ke dapur rumah Pak Karto, menyembunyikan peluru. Lalu dia sendiri sembunyi di bawah lesung penumbuk padi. "Untungnya, Belanda tidak masuk ke dapur tempat kami menyimpan peluru itu,” kenang Sumar.
Ternyata lurah Mulusan pada tengah malam itu belum sampai di situ. Karena takut ketahuan, Sumar keluar rumah dan bersembunyi di balik bukit di selatan desa. Benar saja, tak lama kemudian Belanda datang dan membakar rumah itu.
“Saya sebenarnya sudah bawa karaben dan granat. Bahkan pen granat sudah saya buka dan siap dilemparkan ke tentara yang berjumlah 5 orang. Tapi akibatnya bisa-bisa Desa Mulusan dibumihanguskan. Sehingga niat itu saya urungkan,” kata pria yang sekarang membuka praktik penyembuhan ini.
Keberanian Sumar barangkali mulai terbentuk sejak di sekolah menengah pertama. Waktu duduk di bangku SMP I Yogyakarta, dia sudah ikut bertempur menyerbu markas Jepang di Kotabaru, Yogyakarta. “Saya bawa batu, ada yang bawa pisau, ada granat, kelewang, bendo, sabit. Ditembak Belanda sudah nggak ada takut-takutnya,” kenangnya.
Habis itu Sumar masuk tentara betulan dan aktif bertempur di Jawa Barat maupun di Jawa Timur. Di Jawa Timur dia menduduki Mojokerto. Mengenang masa perjuangan itu dia merasa sangat bangga meski kadang harus makan seadanya dengan daun cabai dan makan batang kelapa muda.
Darah tentara itulah barangkali yang membuat pemuda Sumar mau menerima pasukan Boediardjo untuk bermarkas dan mendirikan pemancar radio darurat di rumahnya. Yang akhirnya terbukti bisa mengabarkan kedaulatan Indonesia atas Yogyakarta meski cuma 6 jam. (G. Sujayanto/B. Soelist)