Mengintip Kemeriahan Cap Go Meh 2026 di Pusat Kota Solo, Dari Dinasti Han hingga Pesta Rakyat
Sinta Darmastri March 03, 2026 03:38 PM

 

TRIBUNTRENDS.COM - Eforia perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili belum benar-benar usai. Puncaknya justru akan hadir pada Selasa, 3 Maret 2026, saat bulan purnama sempurna menyinari langit dalam tradisi yang kita kenal sebagai Cap Go Meh.

Setelah memulai lembaran baru pada 17 Februari lalu, masyarakat kini bersiap menutup rangkaian perayaan dengan pesta rakyat yang biasanya mengubah sudut-sudut Kota Solo menjadi lautan lampion merah yang cantik.

Bukan Sekadar Malam Biasa

Secara etimologi, nama "Cap Go Meh" menyimpan makna yang sederhana namun sakral. Berasal dari dialek Hokkien, "Cap" berarti sepuluh, "Go" berarti lima, dan "Meh" bermakna malam. Jika digabungkan, ia menjadi "Malam Kelima Belas" sebuah penanda berakhirnya masa perayaan Imlek yang penuh syukur.

Bagi warga Solo dan sekitarnya, momen ini bukan sekadar tanggal di kalender. Ini adalah waktu di mana lampion-lampion mulai menyala, melambangkan doa-doa baik untuk masa depan yang lebih benderang.

Baca juga: Hanya Muncul 10 Hari saat Imlek, Rahasia Gurih Lontong Cap Go Meh Ny Liem yang Melegenda di Solo

Menelusuri Jejak Sejarah: Dari Dinasti Han hingga Pesta Rakyat

Tradisi ini bukanlah hal baru. Akar sejarahnya membentang jauh hingga masa Dinasti Han (206 SM–221 M). Kala itu, perayaan ini dilakukan secara tertutup dan sakral sebagai bentuk penghormatan kepada Dewa Thai-yi, sang penguasa langit tertinggi.

Namun, seiring bergulirnya waktu hingga Dinasti Tang, kaku-nya ritual berubah menjadi pesta rakyat yang inklusif. Hiburan mulai tumpah ke jalan, seni budaya dipamerkan, dan kegembiraan menjadi milik semua orang. Di Indonesia sendiri, tradisi ini diperkaya dengan arak-arakan joli atau patung dewa (Toapekong) yang keluar dari kelenteng untuk memberkati kota, sebuah simbol harapan agar masyarakat dijauhkan dari kemalangan.

Harmoni dalam Budaya: Grebeg Sudiro dan Akulturasi di Solo

Berbicara soal Cap Go Meh di Indonesia takkan lengkap tanpa menyebut Grebeg Sudiro. Berpusat di kawasan ikonik Pasar Gede Solo, acara ini menjadi bukti nyata bagaimana budaya Tionghoa dan Jawa melebur dengan sangat mesra.

Grebeg Sudiro bukan hanya sekadar pawai, melainkan simbol kerukunan. Di sini, Anda bisa menyaksikan:

  • Liong dan Barongsai yang menari lincah di tengah sorak-sorai warga.
  • Gunungan kue keranjang yang diarak dan diperebutkan sebagai simbol berkah.
  • Wayang Potehi dan bazaar UMKM yang menghidupkan ekonomi lokal.

Baca juga: 5 Kuliner Malam Solo yang Wajib Dicoba Setelah Tarawih, Ada Menu Bebek hingga Gudeg Ceker

Catatan Penting: Apakah Cap Go Meh 2026 Hari Libur?

Meskipun dirayakan secara kolosal, perlu dicatat bahwa Cap Go Meh 2026 tidak termasuk dalam daftar libur nasional.

Berdasarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) 3 Menteri, tanggal merah jatuh pada 17 Februari 2026 (Tahun Baru Imlek) dan 16 Februari sebagai cuti bersama. Sementara itu, 3 Maret 2026 tetap menjadi hari kerja biasa. Namun, hal ini dipastikan tidak akan menyurutkan semangat warga untuk meramaikan festival budaya ini.

Informasi Tambahan:

Cap Go Meh 2026: Selasa, 3 Maret 2026.

Lokasi Utama di Solo: Kawasan Pasar Gede dan Kelenteng Tien Kok Sie.

Kegiatan: Pawai budaya, festival kuliner, dan doa bersama.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.