Presiden Prabowo Tak Ucap Duka Tewasnya Ali Khamenei, Dikritik Politisi PDIP: Cari Panggung
Rusaidah March 03, 2026 04:03 PM

 

BANGKAPOS.COM -- Presiden Prabowo Subianto tak menyampaikan belasungkawa atas tewasnya Pimpinan Tertinggi Iran, Ali Khamenei.

Di sisi lain, Presiden Prabowo menawarkan diri untuk menjadi mediator Iran dan Amerika Serikat yang tengah berseteru.

Sikap Prabowo tersebut kini mendapat kritikan dari politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Mohamad Guntur Romli.

Ia mempertanyakan bagaimana Prabowo ingin menjadi juru damai, sementara ucapan belasungkawa atas wafatnya Ali Khamenei tak tersampaikan.

Pantauan Tribunnews.com hingga Selasa (3/3/2026) pagi pukul 10.15 WIB, atau tiga hari setelah Ayatollah Ali Khamenei meninggal dunia, belum ada satu pun ucapan duka cita secara publik yang disampaikan oleh Prabowo.

Baik di akun media sosial X (dulu Twitter) dan Instagram @prabowo, kanal YouTube pribadi Prabowo Subianto (@djojohadikusumo), maupun di website resmi prabowosubianto.com.

Baca juga: Sosok Ryamizard Ryacudu Menantu Try Sutrisno, Gagal jadi Panglima TNI, Dilantik jadi Menhan Jokowi

Tidak adanya ucapan duka cita dari Prabowo atas meninggalnya Ali Khamenei pun dipertanyakan oleh Gun Romli, sapaan akrab politisi, penulis, sekaligus aktivis Nahdlatul Ulama (NU) ini.

Sebab, Iran dan Indonesia adalah dua negara sahabat dan memiliki relasi diplomatik yang kuat.

Hal ini disampaikan Guntur Romli dalam sebuah unggahan di akun Instagramnya, @gunromli, Selasa (3/2/2026).

Tribunnews.com sudah mendapat izin untuk mengutip unggahan tersebut.

"Saya belum menemukan ucapan duka cita dari Presiden Prabowo atas meninggalnya Sayyid Ali Khamenei, Kepala Negara Iran," tulis Gun Romli.

"Prabowo adalah kepala negara dan kepala pemerintahan Indonesia. Iran dan Indonesia dua negara sahabat, punya relasi diplomatik yangg kuat, tapi anehnya, ada kepala negara sahabat meninggal, Prabowo tidak ucapkan duka cita. Secara etika, raibnya ucapan ini patut dipertanyakan."

Tak Ucapkan Duka Cita atas Wafatnya Ali Khamenei, Bagaimana Prabowo Mau Jadi Juru Damai?

Kemudian, Gun Romli menyoroti sikap Prabowo yang siap bertolak ke Teheran untuk membuka dialog dan menjadi mediator/penengah antara pihak AS-Israel dan Iran.

Pria yang lahir di Situbondo, Jawa Timur 17 Maret 1978 tersebut pun mengkritik niat Prabowo menjadi penengah, meski itu adalah sikap yang dilandasi kepedulian.

Menurut Gun Romli, bagaimana bisa menjadi penengah AS-Israel vs Iran, sedangkan Prabowo saja tidak menyampaikan duka cita atas gugurnya Ali Khamenei.

"Ketika pecah serangan AS dan Israel terhadap Iran, Prabowo, buru-buru menawarkan diri menjadi juru damai dan siap berangkat ke Teheran, Iran, suatu sikap yg bisa dipuji sebagai kepedulian untuk perdamaian," tulis Guntur Romli.

"Tapi, bagaimana mau jadi juru damai dan bisa diterima Teheran, mengucapkan duka cita saja tidak dilakukan?"

Gun Romli dalam unggahannya juga mengkritik, sikap Prabowo yang siap bertolak ke Teheran untuk jadi mediator AS-Israel vs Iran hanyalah untuk memoles citra dan mencari panggung.

Kata dia, Prabowo mengabaikan etika persahabatan antar dua-negara, karena tidak menyampaikan bela sungkawa untuk Pemimpin Tertinggi Iran yang wafat pada usia 86 tahun tersebut.

"Karena itu muncul kritik: tawaran Prabowo ke Teheran hanya untuk memoles citra diri dan cari panggung, keinginanannya muluk-muluk dan melangit, tapi hal dasar, etika persahabatan: mengucapkan duka cita saja tidak ditunaikan," tutur Guntur Romli.

Tak lama setelah eskalasi militer antara AS-Israel dengan Iran, Prabowo menyatakan kesiapannya memfasilitasi kedua belah pihak agar melakukan deeskalasi konflik.

Hal ini diketahui dari pernyataan resmi yang dikeluarkan oleh Kementerian Luar Negeri RI (Kemlu), Sabtu (28/2/2026).

Baca juga: Sosok Tuti Sutiawati Istri Try Sutrisno Wapres ke-6 RI yang Meninggal Dunia, Bugar di Usia 86 Tahun

Dalam pernyataan tersebut, Prabowo bersedia untuk bertolak ke ibu kota Iran, Teheran, demi memfasilitasi mediasi.

"Pemerintah Indonesia, dalam hal ini Presiden Republik Indonesia, menyampaikan kesiapan untuk memfasilitasi dialog bagi terciptanya kembali kondisi keamanan yang kondusif dan apabila disetujui kedua belah pihak, Presiden Indonesia bersedia untuk bertolak ke Teheran untuk melakukan mediasi," tulis pernyataan resmi Kemlu.

Sekilas Hubungan Diplomatik Indonesia dan Iran

Hubungan bilateral Indonesia dan Iran merupakan kemitraan strategis yang telah berlangsung lama dan stabil, didukung oleh kepentingan bersama di bidang ekonomi, energi, serta solidaritas terhadap isu-isu global dan kawasan, dikutip dari file atau berkas yang diunggah di laman resmi Kementerian Luar Negeri RI (Kemlu), kemlu.go.id.

Sejak terjalinnya hubungan diplomatik pada 1950, Indonesia dan Iran terus memperkuat sinergi dalam berbagai kerjasama strategis.

Antara lain bidang perdagangan, teknologi, kesehatan, pendidikan, dan isu-isu global yang menjadi perhatian kedua negara, termasuk dukungan terhadap hak-hak Palestina dan penyelesaian konflik regional melalui jalur diplomasi. 

Kedekatan ini juga diwujudkan dalam dukungan dan kolaborasi di berbagai forum internasional, seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Organisasi Kerja sama Islam (OKI), Kelompok D-8 Negara Berkembang (D-8), hingga BRICS.

Iran Tutup Negosiasi dengan AS

Duta Besar Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi mengapresiasi niat pemerintah Indonesia melalui Presiden Prabowo Subianto untuk menjadi mediator dalam perang yang tengah berkecamuk antara AS-Israel dengan Iran.

Namun, di sisi lain ia juga menutup pintu negosiasi dengan Amerika Serikat.

Hal itu disampaikannya saat konferensi pers di kediamannya di kawasan Menteng Jakarta Pusat pada Senin (2/3/2026).

"Kami dari negara-negara sahabat berharap dukungan kepada negara kami. Tentu Iran berharap terhadap negara-negara sahabat untuk memberikan dukungan kepada negara kami. Kami tentu menyampaikan apresiasi atas pesan dan kesiapan yang telah disampaikan oleh Indonesia," kata Boroujerdi

"Tetapi bagi kami tidak ada negosiasi dengan negara yang melancarkan permusuhan dengan kami yaitu Amerika Serikat. Dikarenakan apa jaminan Amerika Serikat patuh terhadap sebuah kesepakatan?" lanjutnya.

Ia berharap negara-negara Islam mengutuk keras  serangan AS-Israel ke Iran.

Selain itu, ia juga berharap negara-negara Islam menggunakan seluruh kemampuan dan potensinya di badan OKI dan juga PBB untuk memberikan dukungan kepada Iran. 

"Dan yang ketiga adalah kami berharap sebuah kampanye dijalankan oleh negara-negara Islam, kampanye untuk menyatakan tidak kepada peperangan," ujarnya.

Menjawab pertanyaan lain terkait hal yang sama, Boroujerdi membuka ruang komunikasi dengan pemerintah Indonesia bila ingin melakukan komunikasi dan interaksi dengan pihak Iran.

Namun, ia mengaku belum mengetahui apakah rencana pemerintah Indonesia itu akan berdampak atau tidak.

"Tetapi saya tidak bisa memberikan jawaban dan tidak tahu apakah mediasi dapat mencapai hasil atau tidak dan apakah di situasi seperti ini mungkinkah mediasi bisa membuahkan sebuah hasil atau tidak, saya tidak bisa menjawabnya," ucapnya.

"Tetapi pada saat bersamaan komunikasi dan interaksi antarpejabat senior pemerintahan dari kedua negara, maksudnya komunikasi dan mendapatkan informasi dari satu sama lain, tidak perlu harus selalu berarti mediasi akan terjadi. Tapi setidaknya dengan mendapatkan situasi terkini dari kedua negara, ini akan sangat baik untuk Iran dan Indonesia," ucapnya.

Pemerintah Indonesia menyatakan keprihatinan mendalam menyusul terjadinya serangan militer yang melibatkan AS dan Israel terhadap Iran 

Menanggapi situasi darurat itu, Presiden RI Prabowo Subianto disebut Kementerian Luar Negeri (Kemlu RI) melalui pernyataan resmi di akun media sosial X siap untuk terjun langsung memfasilitasi dialog demi meredam ketegangan di kawasan Timur Tengah.

"Pemerintah Indonesia, dalam hal ini Presiden Republik Indonesia, menyampaikan kesiapan untuk memfasilitasi dialog bagi terciptanya kembali kondisi keamanan yang kondusif dan apabila disetujui kedua belah pihak, Presiden Indonesia bersedia untuk bertolak ke Teheran untuk melakukan mediasi," tegas pernyataan tersebut.

Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada Sabtu (28/2/2026).

Serangan tersebut telah menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.

Menghadapi serangan tersebut Iran melakukan balasan dengan meluncurkan rudal ke sejumlah Pangkalan Militer AS yang ada di kawasan Timur Tengah.

(Bangkapos.com/Tribunnews.com/Kompas.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.