SERAMBINEWS.COM – Puasa sering disebut membawa banyak manfaat kesehatan. Jika dijalani dengan pola hidup yang tepat, tekanan darah bisa lebih terkontrol dan daya tahan tubuh ikut meningkat.
Bagi penderita hipertensi, puasa tetap diperbolehkan selama tidak ada komplikasi berbahaya.
Namun masalahnya, ada kebiasaan-kebiasaan kecil yang kerap luput dari perhatian. Tanpa sadar, hal inilah yang justru membuat tekanan darah melonjak selama Ramadan.
Lalu, apa saja yang bisa memperparah hipertensi saat puasa?
1. Terlalu Banyak Konsumsi Garam
Asupan garam berlebih masih menjadi pemicu utama tekanan darah tinggi. Saat sahur dan berbuka, makanan asin sering kali sulit dihindari, mulai dari lauk bersantan, gorengan, makanan instan, hingga makanan kaleng.
Padahal, natrium dalam garam berperan besar dalam meningkatkan tekanan darah dan risiko penyakit jantung. American Heart Association merekomendasikan konsumsi natrium tidak lebih dari 2.300 miligram per hari, atau setara satu sendok teh garam.
Jika dikonsumsi berlebihan, natrium membuat tubuh menahan cairan sehingga tekanan darah ikut naik.
2. Asupan Gula Tak Terkontrol
Berbuka puasa identik dengan makanan dan minuman manis. Sayangnya, konsumsi gula berlebihan bukan hanya berdampak pada berat badan, tetapi juga dapat memperburuk hipertensi.
Lonjakan gula darah bisa memengaruhi tekanan darah. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini juga meningkatkan risiko kegemukan dan diabetes. Karena itu, tetap batasi asupan gula meski godaan takjil terasa menggoda.
3. Kurang Minum Air Putih
Waktu minum yang terbatas selama puasa membuat sebagian orang kurang memenuhi kebutuhan cairan. Dehidrasi ringan saja bisa memicu penyempitan pembuluh darah, yang akhirnya berdampak pada kenaikan tekanan darah.
Agar tetap stabil, kebutuhan cairan sebaiknya dipenuhi secara bertahap sejak berbuka hingga sahur.
4. Terlalu Sering Konsumsi Lemak Jenuh
Menu berbuka dan sahur kadang didominasi makanan tinggi lemak jenuh atau lemak trans. Jenis lemak ini dapat meningkatkan kolesterol jahat (LDL) dan menurunkan kolesterol baik (HDL).
Jika terus dikonsumsi, risikonya bukan hanya hipertensi yang memburuk, tetapi juga penyakit jantung, stroke, hingga diabetes tipe 2.
5. Makan Berlebihan Saat Berbuka
Setelah seharian menahan lapar, keinginan “balas dendam” saat berbuka memang besar. Namun makan dalam jumlah besar sekaligus bisa menyebabkan lonjakan gula darah dan tekanan darah secara tiba-tiba.
Jantung dan sistem pencernaan dipaksa bekerja lebih keras. Karena itu, berbukalah secara bertahap, dimulai dengan makanan ringan sebelum masuk ke menu utama.
6. Kurang Tidur
Perubahan jadwal selama Ramadan kerap membuat waktu istirahat berkurang. Padahal, kurang tidur dapat meningkatkan hormon stres yang berpengaruh pada tekanan darah.
Menjaga kualitas dan durasi tidur tetap cukup sangat penting agar tekanan darah tidak mudah naik.
7. Tidak Rutin Minum Obat
Sebagian penderita hipertensi menghentikan atau mengubah jadwal minum obat tanpa berkonsultasi dengan dokter. Langkah ini berisiko membuat tekanan darah tidak terkontrol.
Jika ingin menyesuaikan waktu konsumsi obat selama puasa, sebaiknya diskusikan lebih dulu dengan tenaga medis agar tetap aman.
Menjalani puasa dengan hipertensi bukan hal yang mustahil. Kuncinya ada pada pola makan sehat, cukup cairan, istirahat yang memadai, dan disiplin dalam pengobatan. Dengan begitu, tekanan darah bisa tetap stabil hingga Ramadan berakhir.
(Serambinews.com/TribunHealth.com)